Asoi Ada Alai Lebai

Tendy K Somantri*, KOMPAS, 5 Mei 2014

PADA suatu pagi, ketika saya berdesakan dalam keramaian lalu lintas di Bandung, mata saya terpaku pada pelat nomor kendaraan sebuah mobil tahun keluaran lumayan baru. Di pelat nomor itu tertera ”D 4500 OOY”, yang sekilas terbaca ”D ASOOOOY”. Nomor kendaraan berbau alay itu membuat mata saya mengirimkan sinyal ke sel-sel kelabu di otak, membuka pemangkal data kosakata lama. Ah, apakah ”asoy” masih merupakan kata yang dikenal saat ini?

Asoy—sebuah bentuk slang (sekarang dikenal dengan gaya selingkung) yang populer pada 1970-an—masih terekam dalam otak saya.

Asoy biasanya digunakan oleh remaja sebagai pemelesetan dari kata asyik. Ada juga yang menyebutkan asoy sebagai akronim dari asyik indehoy, ’asyik berpacaran’.

Biasanya asoy digunakan sebagai interjeksi atau kata seru untuk menggambarkan suatu kejadian yang mengasyikkan atau lebih dari sekadar asyik. Tidak jelas kelompok masyarakat mana yang kali pertama menggunakan kata asoy itu. Yang jelas, saat itu asoy begitu mewabah hampir ke seluruh lapisan masyarakat.

Hebatnya—dan membuat saya heran—kata asoy ternyata mampu bertahan dalam lima dasawarsa. Padahal, bentuk slang lain biasanya hanya berlaku pada kelompok sosial tertentu dan musiman. Mungkin oleh karena itu Kamus Besar Bahasa Indonesia memasukkan asoy menjadi lema tersendiri dengan sedikit pembakuan menjadi asoi yang berarti ’enak’, ’nikmat’. Hal itu juga berarti asoy sudah mendapat status kewargaan dalam bahasa Indonesia meski harus mengalami perubahan menjadi asoi.

Kemudian saya lirik alam kekinian dengan gejala slang yang bermunculan. Beberapa bentuk slang senada sering terdengar seperti alay, lebay, kamseupay, dan lain-lain. Pertanyaan saya, apakah kata-kata itu juga akan diperlakukan sama dengan asoy apabila kemudian diterima sebagai warga bahasa Indonesia? Kalau memang demikian, akan muncul makna lain lema alai dan lebai. Kedua kata itu sudah menjadi lema dalam KBBI dan memiliki arti yang sangat berbeda dengan alay dan lebay. Alai dalam KBBI berarti kedaung atau Parkia roxburghii (tumbuhan petai-petaian) dan lebai adalah pegawai masjid atau orang yang mengurus suatu pekerjaan yang bertalian dengan agama Islam di dusun (kampung).

Perubahan fonem [y] menjadi [i] sebagai huruf terakhir pada asoi yang menjadi warga bahasa Indonesia tentu berdasarkan pada analogi kelaziman. Tidak ada aturan yang mengharuskan perubahan itu.

Perubahan itu dilakukan dengan alasan dalam bahasa Indonesia hanya dikenal diftong [oi], [ai], [ou], dan [ei]. Jadi, ketika alay, lebay, dan sejenisnya menjadi warga bahasa Indonesia, mereka harus diubah mengikuti kelaziman itu. Nasib mereka akan seperti asoy yang menjadi asoi.

Alasan kedua adalah fonem [y] dalam bahasa Indonesia berstatus sebagai konsonan. Dengan demikian, fonem [y] tak dapat bergabung dengan vokal menjadi diftong. Konsonan /y/ hanya bisa bergabung dengan konsonan lain untuk mewakili fonem [ny] dan [sy] seperti pada kata tanya dan syarat. Kalaupun bergabung dengan vokal, konsonan /y/ akan tetap berstatus sebagai konsonan mewakili fonem [y] seperti pada kata saya, yang, bahaya, dan lain-lain.

Selain bentuk alay, lebay, kamseupay yang berbau diftong, muncul pula bentuk slang yang beraroma monoftongisasi, yakni cabe-cabe. Tentu, sebagai kata slang, cabe-cabe memiliki pengertian tersendiri di kalangan remaja. Cabe-cabe dalam konteks mereka pasti tidak berarti cabai-cabai (jenis rempah-rempah). Andai cabe-cabe pun diakui sebagai warga bahasa Indonesia, lema cabai dalam KBBI akan mendapat tambahan makna baru.

*) Editor dan Pengajar di FISS Universitas Pasundan Bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s