Sebelum Kita Mengenal Cokelat

Qaris Tajudin* (Majalah Tempo, 12 Mei 2014)

Pekan lalu, sambil memplontosi kepala saya, pemangkas rambut menawarkan madu merah dari Kalimantan. Rupanya, berjualan madu ini adalah bisnis sampingannya. Ia memanfaatkan ketidakberdayaan saya saat dipangkas untuk memasarkan jualannya dengan leluasa. Saya tak tertarik membahas khasiat madu yang ia lebih-lebihkan. Saya lebih tertarik membahas kenapa dia menyebut madu di dalam botol transparan di atas meja itu sebagai madu merah. “Karena warnanya memang merah,” kata pemangkas asal Garut itu. Saya berkeras menyatakan bahwa warna madu itu cokelat. Kesepakatan tak tercapai, dan saya tidak membeli madunya.

Pengalaman serupa saya temui beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Madura. Seorang teman mengajak saya melihat sapi karapan yang, kata dia, berwarna merah. Saya penasaran karena belum pernah melihat sapi merah. Setahu saya, sapi itu berwarna putih-hitam, putih, atau cokelat. Saya kecele, sapi yang diyakini merah itu ternyata berwarna cokelat mengkilat. “Itu bukan cokelat, itu merah,” ujar teman saya berkeras. Menurut dia, warna cokelat itu seperti daun jendela yang dipelitur. Menurut saya, warna daun jendela dan daun telinga sapi karapan itu sama-sama cokelat, meski berbeda kegelapannya.

Dua kejadian itu membuat saya berpikir tentang asal-muasal penyebutan cokelat sebagai warna dalam bahasa Indonesia. Penggunaan kata cokelat untuk warna pasti terjadi setelah orang Eropa datang membawa tanaman atau makanan cokelat ke Indonesia. Tak mungkin sebelum itu. Ini jelas bukan kata asli Indonesia atau bahasa daerah, meski belakangan hampir semua orang Indonesia memakainya (di Jawa disebut soklat).

Ada yang mengatakan tanaman kakao pertama kali masuk ke Indonesia pada 1560. Biji kakao dari Venezuela ini mampir dulu di Filipina sebelum menyeberang ke Sulawesi Utara, dibawa oleh para pelaut Spanyol. Tapi saat itu tanaman cokelat tidak berkembang di Minahasa karena kerap terserang hama. Tanaman kakao baru dikenalkan di Jawa terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 1806. Saat itulah cokelat baru dikenal luas oleh pribumi Hindia Belanda.

Kemungkinan besar pemakaian kata cokelat untuk warna dimulai pada abad ke-19.

Pertanyaan berikutnya: sebelum itu, bagaimana nenek-nenek kita menyebut warna cokelat? Mungkin ada yang menggunakan frasa sawo matang. Prosesnya sama dengan pemakaian kata cokelat untuk warna, meminjam dari benda berwarna sama. Hal ini juga terjadi di sejumlah bahasa lain, seperti Turki yang memakai kata kahverengi (kahve: kopi, rengi: warna) untuk cokelat, dan Gujarati (bahasa orang-orang Gujarat) yang memakai badami (buah badam) untuk warna yang sama. Benda yang namanya diambil sebagai penunjuk warna itu biasanya populer. Bisa jadi, pada abad ke-19, kepopuleran makanan cokelat mengalahkan kepopuleran buah sawo.

Di sejumlah daerah di Indonesia, mungkin ada yang memakai kata merah untuk menyebut warna cokelat, seperti dua cerita di awal tulisan. Untuk membedakan merah dan cokelat, mereka tinggal bilang merah darah atau merah madu. Penyederhanaan ini juga dilakukan orang Madura pada warna hijau. Orang Madura menyebut bendera Nahdlatul Ulama berwarna biru, tepatnya biru daun. Sedangkan partainya orang Muhammadiyah Partai Amanat Nasional berbendera biru langit.

Berbeda dengan bahasa Inggris yang memiliki seratusan kata untuk menunjuk warna dengan berbagai gradasinya, bahasa Indonesia sedikit miskin.

Hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan meminjam kata-kata dari bahasa asing (yang juga dilakukan bahasa Inggris) atau membuat kata baru dengan meminjam warna dari benda di sekitar kita.

Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita mengaktifkan kembali kata warna yang sebenarnya sudah kita miliki.

Misalnya, bahasa Indonesia memiliki kata deragem, yang kini jarang dipakai. Arti deragem adalah cokelat tua seperti kulit kuda. Kita juga lebih senang memakai oranye dibandingkan dengan jingga. Anak-anak kini lebih mengenal pink dibanding merah jambu. Kita juga punya nila atau tarum untuk warna indigo. Untuk merah, kita punya sinonimnya: bangkang, berma, biram. Kita juga menyempitkan pemakaian lebam (biru kehitaman) hanya untuk kulit yang kebiruan karena dipukul. Untuk biru kehitaman, kita juga punya kata erang. Siapa juga yang kini memakai kata pingai (putih kekuningan).

*) Wartawan Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s