Bakal Calon

Mulyo Sunyoto*, KOMPAS, 24 Mei 2014

MEGAWATI Soekarnoputri dan Fadli Zon—jika keduanya cermat memaknai bahasa—boleh jadi merasa gerah membaca berita di koran-koran mengenai figur yang mereka gadang-gadang menempati kursi kekuasaan nomor wahid negeri ini. Jokowi (yang dijagokan Mega) dan Prabowo (yang dilambungkan Fadli), sebelum deklarasi masing-masing selaku calon presiden awal pekan ini, oleh media massa ditulis secara berubah-ubah sebagai calon presiden di satu ruang dan waktu, serta bakal calon presiden di rubrik dan kesempatan yang lain.

Ada media yang ajek menyebut orang-orang yang diusulkan—siapa pun pengusulnya, entah parpol entah perseorangan—sebagai penghuni prima Istana Negara 2014-2019 itu sebagai bakal calon, bukan calon. Argumen tohornya: sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan Jokowi dan Prabowo atau siapa pun sebagai calon presiden, predikat yang layak untuk mereka adalah bakal calon.

Harian Kompas pun tampak bingung menentukan, apakah Jokowi itu sudah capres atau masih bakal capres. Dalam dua berita berbeda di halaman sama, rubrik “Politik & Hukum” edisi 5 Mei 2014, penyebutan tak ajek itu terbaca. Jokowi diberi label calon presiden pada berita berjudul ”Keberagaman, Pesan buat Jokowi”, tetapi dimentahkan sebagai bakal calon presiden pada berita bertajuk ”Wiranto Sudah Bertemu 3 Bakal Capres”.

Kisruh kebahasaan ini perlu dikembalikan pada ranah semantik. Calon dan bakal, menurut kamus-kamus eka bahasa Indonesia, sepadan makna. Sebagai nomina dasar, keduanya berarti ’yang akan dijadikan’, dan keduanya juga dapat diturunkan jadi nomina abstrak pencalonan dan pembakalan. Keduanya juga dapat dilahirkan jadi verba aktif dan pasif: mencalonkan, membakalkan dan dicalonkan, dibakalkan.

Secara maknawi, kedua kata itu tidak terbedakan dalam penahapan temporal. Bakal tidak dapat dimaknai sebagai eksistensi yang lebih awal dari calon. Kesan penahapan temporal demikianlah yang tertangkap nalar saat media menyebut frasa bakal calon, yang oleh beberapa pewarta dan penyunting diringkus dalam akronim balon, sebutan yang mungkin dirasa elok bagi sebagian penutur bahasa Indonesia, tetapi elek (buruk) buat warga Surabaya dan sekitarnya, yang dalam kosakata lokal mereka sepantar dengan sundal.

Jadi, menyebut bakal calon tak ubahnya menulis calon calon, atau bakal bakal, bukan calon-calon atau bakal-bakal sebagai kata ulang, tentunya. Pengulangan kata yang dimaksudkan bukan sebagai kata ulang itu janggal sebagai bentuk ataupun makna. Kejanggalan itu baru berterima setelah ada sisipan pronomina milik sehingga terbentuklah frasa calonnya calon, bakalnya bakal, setara dengan Merahnya Merah, judul novel klasik Iwan Simatupang.

Sebagai ungkapan bahasa jurnalistik, frasa bakal calon tidak memantulkan fakta.

Para penggawa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tak satu pun yang menyebut Jokowi sebagai bakal calon presiden. Mereka yakin seyakin-yakinnya Jokowi tak akan digantikan oleh siapa pun dari markas ”Banteng Moncong Putih” untuk diajukan dalam perebutan kursi presiden.

Menyebut Jokowi—waktu itu—sebagai bakal calon presiden dengan alasan bahwa KPU belum menetapkannya secara resmi sebagai calon presiden sama saja menundukkan pemakaian bahasa pada hegemoni legalistik. Ini sama saja memperlakukan kata sebagai baku setelah masuk di kamus susunan pegawai pemerintah. Calon menantu hanya boleh disebut setelah diresmikan dalam pelamaran. Guru tak lagi boleh membanggakan hati murid-murid dengan menjuluki mereka sebagai calon pemimpin masa depan. Sebelum jadi calon, mereka harus dibakalkan. Pendekatan legalistik dalam berbahasa seperti ini mematikan denyut kreasi linguistik di masyarakat.

Jadi, Jokowi itu sudah calon presiden tanpa harus menunggu KPU menetapkannya sebagai calon presiden.

Posisi itu tak perlu dimentahkan ke status calonnya calon presiden. Makna tahap pematangan calon itu bisa ditangkap dari siapa yang mencalonkan: mulai dari rakyat pendukung, parpol pengusung, dan KPU. Para calon itu bisa gugur di tahap-tahap yang berbeda.

*) Magister Pendidikan Bahasa

Iklan

One thought on “Bakal Calon

  1. Ping-balik: Bakal dan Calon Lagi | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s