Oposisi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Mei 2014

MINGGU-minggu ini para politikus, dengan dagu menyapu langit atau jidat mengepel lantai, mencari dan mengejar koalisi. Toh, ujung-ujungnya, sebagian akan terdampar sebagai oposisi, dingin cemberut di luar sana, bukan hangat ceria di dalam sini.

Oposisi adalah gabungan awalan Latin ob- dan ponere. Ponere terdiri dari awalan apo- dan sinere. Dari sinere datanglah situs. Dari ponere muncullah positus. Demikianlah sekarang kita kenal kata situs dan posisi, yang tentu tidak perlu kita bahas maknanya. Ob- kira-kira berarti ’tentang’, yakni seberang atau hadapan.

Jadi, oposisi adalah yang tempat atau posisinya ada di seberang atau bertentangan/berhadapan.

Misalnya, jempol beroposisi dengan keempat jari lain. Dalam politik, oposisi berarti orang atau partai yang posisi atau kedudukannya ada di seberang koalisi. Setelah pemilihan umum, pemenang pluralitas membentuk koalisi; pecundang, kalau menolak koalisi, menjadi oposisi.

Ibu segala kamus Oxford English Dictionary (OED) dengan telaten menjabarkan delapan makna dalam 18 varian untuk kata itu, berikut segudang contoh kalimat dari berbagai zaman, dalam segala situasi pemakaian. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyajikan hanya dua makna. Pertama, dengan galak dan sempit ia mempermaklumkan bahwa oposisi kerjanya menentang dan mengkritik penguasa. Kedua, ia mencantumkan arti spesifik linguistiknya, disambung dengan 13(!) definisi istilah tak layak ingat yang hanya bisa ditemui dalam buku wajib linguistika.

Dalam pemakaian umum, oposisi berarti pesaing, pelawan, penantang, pemrotes, penolak, dan seterusnya, dalam bisnis, kompetisi, pertandingan, pertempuran, perundingan, perdebatan, dan lain-lain. Dalam konteks pemerintahan, oposisi berarti partai yang aktif, punya kursi dan suara, jadi, sedikit banyak punya kuasa, di parlemen, tetapi tidak menjalankan pemerintahan sehari-hari sebagai bagian dari eksekutif. Sejak Reformasi, makna ini mengabur karena beberapa pemerintahan rajin sekali berkoalisi dengan partai-partai besar kecil kanan-kiri yang kadang bersetuju kadang tidak sehingga tidak jelas lagi mana koalisi mana oposisi.

Baik koalisi maupun oposisi dalam politik modern mengandaikan per bagian dan penerusan kekuasaan secara damai dan terstruktur. Sebaliknya, negara tradisional, yang cenderung mengabsolutkan kekuasaan, tidak mengenal sistem tarik ulur persentasi suara—pengakuan terhadap mayoritas, penghormatan terhadap minoritas—melainkan prinsip penghancuran total penguasa lama oleh penguasa baru nan kinclong. Itulah sebab walaupun dalam rumpun bahasa Melayu oposisi atau koalisi secara generik punya banyak kata pengganti, dalam politik sulit dicari padannya.

Politikus praktik dan teoretik berdebat tak habis-habis tentang fitrah koalisi dan oposisi karena Indonesia memang masih mencari-cari wujud demokrasi domestik yang fungsional dan efektif, yakni yang berada di antara ideal pemerintahan berbasis kepentingan rakyat banyak dan praktik jual-beli kekuasaan telanjang (dagang sapi) sonder etika; antara kompromi substansial demi kepentingan kelompok-kelompok masyarakat dan bagi-bagi rezeki kue nasional untuk kepentingan diri.

Tarik-tolak gaya-gaya positif dan negatif, naif dan canggih, etis dan licik, adalah bagian normal demokrasi masyarakat-masyarakat sejagat. Melalui proses-proses itulah, termasuk kegagalan dan kekeliruannya, rakyat orang per orang bisa, kalau mau, belajar menjadi lebih mampu menemukan pemimpin-pemimpin dan kebijakan-kebijakan terunggul. Demikianlah demokrasi pada zaman ini menjadi satu-satunya sistem politik stabil jangka panjang: gonta-ganti penguasa dan sistem pemerintahan terjadi secara damai, tanpa pembasmian nyawa, harta, dan alam lingkungan, serta tanpa penghancuran aneka perekat sosial yang di alam Nusantara sangat majemuk tak berseragam.

Itulah sebab demokrat sejati menghargai keberadaan oposisi. Baik koalisi maupun oposisi adalah pendukung demokrasi.

Bahkan, tanpa oposisi, tiada demokrasi. Bukanlah kebetulan bahwa mulut penguasa Orde Baru berseru-seru ”tidak ada oposisi”, sementara sepatu botnya menginjak mulut setiap penyambung lidah rakyat. Musuh demokrasi adalah mereka yang berniat menggantikan demokrasi dengan sistem otoriter yang punya banyak wajah dan nama, antara lain militerisme, teokrasi, ”orang kuat”, ”republik rakyat”, atau istilah apa saja yang bisa terdengar bagus dan gagah di kuping, tetapi senak di dada manusia penghormat martabat sesama.

*) Motto Penulis—Koalisi Nikmat Lezat Oposisi Pedas Sedap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s