Menyinyalir

Eko Endarmoko, KOMPAS, 14 Jun 2014

Pernah dan masih berlangsung hingga kini, saya kira, penutur bahasa Indonesia bingung mengenai dalil atau kaidah k-p-s-t. Padahal, rumusannya cukup jelas. Tiap kata dasar berhuruf awal k, p, s, dan t yang mendapat awalan me- atau pe-, huruf-huruf di awal kata itu hilang atau luluh. Misalnya, mengubur, pengerat, memenggal, pemotong, menyuap, penyamun, menambah, penolong.

Namun, ada pendapat bahwa dalil tersebut tidak bekerja pada (1) kata yang huruf awalnya gugus konsonan (misalnya, mengkritik, memprotes, menstimulasi, mentransfer); (2) kata serapan dari bahasa asing; dan (3) kata yang punya tiga suku kata. Inilah yang pernah kita kenal sebagai bentuk perkecualian.

Butir atau asumsi pertama cukup jelas dan masuk akal. Lagi pula, peluluhan huruf pertama pada gugus konsonan bisa memberi peluang huruf /e/ atau swarabakti hadir menyisip, sekalipun bisa juga tidak. Artinya, akan ada soal baru bahwa satu saat nanti kita harus memilih, swarabakti itu wajib ada atau tidak. Pilihan itu, jika dalil k-p-s-t diberlakukan di sini, kira-kira akan seperti ini: mengritikmengeritik, memroduksimemeroduksi, memrotesmemerotes, menraktirmeneraktir, menyetimulasi, dan seterusnya. Untunglah semua bentuk yang memaksa alat ucap sedikit berakrobat itu tak pernah langgeng.

Butir kedua dan ketiga, bagi kita sekarang tak lebih dari pandangan lama yang sudah patut kita timbang kembali.

Asing atau asli itu apa ukurannya, ukuran yang berlaku buat penutur bahasa Indonesia pada umumnya?

Kata dengan tiga suku kata pun bermasalah sebab berdampingan dengan bentuk perkecualian (contoh: mengkudeta, mempesona, mempengaruhi, mempercayakan, mensosialisasikan), ada banyak sekali kata dengan tiga suku kata lainnya yang dieja luluh (contoh: mengeriput, memedulikan, menyiasati, menerjemahkan).

Selain kata yang huruf awalnya berupa gugus konsonan, tampaknya bahasa kita mengenal juga dua bentuk perkecualian: mempunyai dan mengkaji.

Sama-sama bersuku kata tiga, tetapi mengapa mendapat perlakuan berbeda? Kita boleh menduga, tanda tanya inilah yang menggerakkan pikiran atau kehendak menegakkan kaidah k-p-s-t demi mendapatkan bentuk-bentuk yang taat asas. Kata mempedulikan yang pernah subur terekam dalam KBBI edisi I (1988), tetapi edisi II (1991), III (2001), dan edisi IV (2008) menepis dan menggantikan bentuk perkecualian itu jadi memedulikan. Namun, bentuk luluh mengudeta dalam edisi I dianggap sebagai perkecualian, maka ditulis mengkudeta, oleh edisi II—sampai edisi III dan IV mengembalikannya agar patuh pada kaidah menjadi mengudeta.

Saya ingin menambahkan dua contoh lagi yang, dari segi pembunyian, sedikit pelik. Menyiasati ada pada semua edisi KBBI, tetapi menyosialisasikan baru ada dalam edisi IV, sedangkan edisi I, II, dan III masih menyebutnya mensosialisasikan. Lebih pelik adalah bentukan dari kata dasar sinyalir. Barangkali kesulitan mengucapkan tadi menjelaskan mengapa edisi I, II, dan III mencatatnya sebagai mensinyalir, dan baru pada edisi IV menjadi menyinyalir.

Dari edisi ke edisi KBBI cenderung menolak bentuk perkecualian dengan memilih mengikuti kaidah k-p-s-t. Barangkali benar, secara naluriah lidah orang Indonesia umumnya kurang nyaman saat mengucapkan bentuk-bentuk perkecualian yang ”dipaksa” mematuhi kaidah k-p-s-t.

Saya curiga persoalan ini lebih berpaut dengan kebiasaan, kelaziman belaka.

Seperti perubahan dari menraktirmentraktir, atau mengritikmengkritik. Penerimaan dulu atas semua bentuk perkecualian (termasuk mempunyai dan mengkaji) yang tidak taat asas sebab melawan dalil juga tentu karena kebiasaan.

Maka, apabila masih terasa aneh manakala melaksanakan kaidah k-p-s-t terhadap bentuk perkecualian tadi, percayalah, lambat-laun kita juga akan terbiasa.

*) Penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

One thought on “Menyinyalir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s