Bola

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 28 Jun 2014

BOLA memang nikmat. Seenak bolu dari Portugis, bolo, berarti kue, turunan dari bola, yang artinya—tebakan Anda tepat sekali—bola!

Bola membawa sukacita, seperti pesta ulang tahun penuh balon warna-warni. Kata Belanda ballon berasal dari Italia zaman dulu ballone, berarti bola besar, dari balla yang, tentu saja, berarti bola. Sekarang orang Italia memakai pallone dan palla.

Bola juga tidak mau tersingkir dari pesta demokrasi: pemilu. Masa, sih? Percayalah, di kamus ada balot ’kertas suara atau suara yang diberikan dalam pemilihan’. Orang Italia yang sudah ratusan tahun sangat pandai berdemokrasi memakai bola kecil yang dulu mereka sebut ballotta untuk mengadakan pemilihan rahasia. Bukan latar belakang kandidatnya dirahasiakan, melainkan rahasia pemilih dalam menentukan pilihannya. Bola-bola kecil itu dimasukkan ke dalam kotak balot kemudian dihitung.

Orang Perancis menyebut kumpulan bola kecil peloton, yang dipakai juga untuk kumpulan tentara, sehingga kita pun jadi kenal peleton. Dari bola Perancis pelote, kita juga mendapatkan pelet. Bukan jimat yang Anda minta dari dukun cabul, melainkan makanan ikan yang berbentuk bola-bola itu. Jadi, bola ternyata juga penting untuk pertahanan negara dan bagus untuk ekonomi. Kalau Anda pedagang sandang, pasti biasa memikul bal-bal kain. Bal itu dari Perancis, bale, gulungan bundel. Habis kerja keras, sore-sore enak main bal-balan.

Kalau kata-kata asing di atas membuat Anda sakit kepala, jangan khawatir. Bola itu menyehatkan. Pil yang diminum tiga kali sehari itu dari bola kecil Latin, pilula, diminutif dari pila yang berarti, apalagi kalau bukan, bola. Pilus lain lagi. Bola-bola kecil yang renyah legit bikin enak di mulut bikin lemak di perut itu keturunan Jawa, jadi mungkin kebetulan saja mirip.

Informasi juga membutuhkan bola. Buletin, laporan singkat atau resmi, dari bulletino (Italia). Latin bulla berarti benda bulat. Menulis di buletin bisa dengan pena bolpoin, yang mata penanya terbuat dari bola—jika ditorehkan di kertas, bola bergulir, tinta pun keluar.

Tidak kurang nama permainan berbasis bola. Dari bola Tibet pulu, terkenallah polo. Boling dari bowl, yang biasanya kita kenal berarti mangkuk, tetapi dulu juga berarti bola, yang digelindingkan untuk merontokkan pin. Bowling mulanya dimainkan di lapangan terbuka dengan pin-pin terbuat dari kayu. Pinball sebenarnya semacam bowling juga, yang dimainkan di atas meja.

Di stadion para penggila bernyanyi merdu, menurut diri mereka sendiri tentu. Seindah balada dari Perancis, ballade, lagu atau syair dansa.

Eh, nanti dulu, kok nyasar dari bola ke dansa? Mengapa tidak? Mana ada penonton tidak berjingkrak-jingkrak menari dan menyanyi ketika bola digocek dengan keterampilan ballerina? Seriusnya begini. Alkisah, dahulu kala, pada mulanya adalah bhel-, sesepuh bola yang berakar di PIE (Proto-Indo-Eropa), cikal bakal bahasa-bahasa India dan Eropa. Dari situlah lahir cucu cicitnya dalam berbagai bentuk dan makna yang sekarang dipakai di seluruh dunia, dalam dua kelompok. Yang satu bermakna di seputar bola, bulat, tiup (sehingga membesar), yang lain di sekitar lompat, loncat, tari.

Itulah sebabnya balet yang indah itu, dari balletto Italia, diminutif ballo, berarti tari, bisa saja dipentaskan di ballroom, ruang besar di hotel-hotel yang tidak pernah berisi bola itu, sebab artinya memang ruang dansa. Ballerina yang dicintai semua orang itu berarti gadis kecil penari. Kalau laki-laki, ballerino. Tari Spanyol, bolero, mengacu pada gerak berputar-putar seperti bola.

Dulu, bola dibuat dari kulit atau lambung binatang atau anyaman ranting. Adalah Amerika Selatan yang menyumbangkan karet kepada dunia. Orang Spanyol yang baru tiba di benua itu terheran-heran melihat orang Indian bermain bola yang bisa membal seperti—eh—bola karet. Setelah kelenturannya yang tiada dua itu dikenal dunia dan menjadi komoditas primadona, Manaus—tuan rumah piala dunia sekarang—yang terletak di tengah-tengah hutan belantara Amazon memonopoli karet dan menjadi kota paling kaya di dunia. Siapa saja yang kedapatan menyelundupkan bibit karet dihukum mati. Toh, orang Inggris berhasil, kemudian menanamnya di India dan tanah Melayu. Hilang monopoli, bangkrutlah Manaus. Gantinya, kita dan Malaysia jadi pengekspor karet, walaupun tidak jadi paling kaya.

Ada cerita sampingan menarik. Dari bola Perancis pelote, muncullah compeloter, menggulung sampai menjadi seperti bola. Ini menjadi complot, rencana kombinasi, yang dirancang segerombolan orang, bersifat rahasia, biasanya dengan maksud jahat. Demikianlah kita selalu curiga terhadap komplotan maling. Juga terhadap para pemimpin partai politik dan pemimpin FIFA yang ternyata rajin berkomplot itu.

*) Pencinta Bola nan Indah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s