Mata Gelap, Gelap Mata

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 30 Jun 2014)

Seabad silam, 1914, Marco Kartodikromo (1890-1932) menerbitkan novel atau soerat tjerita berjudul Mata Gelap. Novel berisi tokoh-tokoh pendamba kehidupan moderan, pemuja asmara, serta melek uang dan status sosial. Marco mengisahkan kehidupan kaum muda saat mengalami modernisasi di Semarang dan Priangan, 1910. Zaman telah modern. Kita bisa mengerti alam pikir para tokoh melalui persepsi atas busana, uang, profesi, alat transportasi, bioskop, dan makanan. Novel berperan mendokumentasikan geliat kaum pribumi menanggapi modernitas dengan pelbagai nilai dan tindakan.

Penggunaan judul Mata Gelap membuat kita penasaran terhadap pemaknaan dalam sajian cerita. Marco Kartodikromo cenderung memaknai ungkapan “mata gelap” berkaitan dengan perselingkuhan atau nafsu lelaki untuk bisa mencintai dua perempuan. Pengertian ini muncul saat kita mengikuti cerita dan membuat catatan tentang karakter tokoh bernama Soebriga. Semula, Soebriga memuja kecantikan perempuan asal Priangan bernama Retna Permata. Pujian disampaikan secara berlebihan. Cinta dan nafsu pun bercampur demi mendapatkan Retna Permata.

Pujian dilantunkan oleh Soebriga dengan pantun:

Orang Sololah pendjoeal kain,
Kainlah batik berwarna-warna,
Biarken melarat biarken miskin,
Asal hatikoe soedahlah soeka.

Kondisi harta Soebriga memang tak setara dengan Retna Permata. Ambisi Soebriga adalah mendapatkan cinta Retna Permata.

Retna Permata menjawab:

Soenggoeh banjak linta di kali,
Linta di rawa beriboe-riboe,
Soenggoeh toean tjinta sekali,
Tjinta saja bertoemboe-toemboe.

Boeroeng kenari boeroeng terkoekoe,
Terbang bersama di pohon gianti,
Baroe ketemoe djantoeng hatikoe,
Soedah lama saja bernanti.

Soebriga dan Retna Permata pun memadu asmara, membuat janji suci untuk pernikahan. Retna Permata mengajak Soebriga menemui keluarga di kampung halaman, berkaitan dengan perkenalan dan rencana pernikahan.

Di Priangan, mata Soebriga terpana saat memandang Retna Poernama, adik Retna Permata. Nafsu dan asmara bergejolak, sulit disirnakan. Soebriga mulai menjadi genit, membujuk dan memuji Retna Poernama demi memuaskan nafsu. Retna Poernama tak bisa mengelak, terlena oleh sanjungan dan ketampanan Soebriga. Niat perselingkuhan diwujudkan tanpa sepengetahuan Retna Permata. Ekspresi asmara dan nafsu dituruti tanpa rasa takut. Marco Kartodikromo mengisahkan:

“Hem. Begitoe Soebriga menarik nafas dan teroes memboeka selimoet jang menoetoep kepala Retna Poernama teroes ditjioemnja¦. Toean Soebriga tiada bisa sabar melihat keadaan itoe, laloe digigit olehnja bibir Retna Poernama. Sebab terlaloe keras menggigitnja terpaksa si molek memboeka matanja dan mentjiwit pipi Toean Soebriga¦. Dari poekoel 12 malam sampe poekoel 2, soedah sampe tjoekoep boeat kasih pengadjaran gadis jang baroe moelai beladjar. Oleh karena itoe kedoeanja berpeloek tjioem jang pengabisan boeat tanda trima kasih dan slamat tidoer dan sampe ketemoe lagi.”

Gelagat perselingkuhan justru diketahui oleh “boedak” di rumah. Si “boedak” berkata:

“Saja brani potongan djari, itoe toean poetri Retna Poernama tentoe soedah di oleh toean Soebriga. Allah, asal soeka sama soeka maoe apa, roepanja toch soedah kentara, tjobalah loe lihatkan itoe matanja Retna Poernama, lagi-lagi melihatkan toean Soebriga, lama-lama sama gelap matanja.”

Marco Kartodikromo menggunakan dua kali ungkapan “gelap matanja”, tak pernah menggunakan ungkapan “mata gelap” dalam isi novel. Lho!

Mengapa ada perbedaan ungkapan dalam judul dan isi novel? Barangkali judul dianggap sensasional, menimbulkan penasaran bagi pembaca. Ungkapan “mata gelap” dalam novel cenderung berarti bermain mata untuk maksud perselingkuhan; bermain mata mengandung pamrih nafsu dan asmara. Pengertian berbeda muncul dalam Kamus Indonesia (1948) susunan E. St. Harahap. Mata gelap berarti “gila, marah sangat, berang, berani mengamuk”. Pengertian serupa muncul di Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1952) susunan Sutan Mohammad Zain. Mata gelap berarti “sangat marah sehingga lupa akan diri sendiri, akibatnja mengamuk”. Pengertian “mata gelap” telah gamblang, tapi Marco Kartodikromo dalam isi novel justru menampilkan ungkapan “gelap mata”.

Marco Kartodikromo melalui penerbitan novel Mata Gelap telah mewariskan penasaran bagi pembaca untuk mengartikan “mata gelap” atau “gelap mata”. Seabad sudah berlalu, novel berjudul Mata Gelap kita peringati sebagai novel yang memuat dokumentasi ekspresi berbahasa berlatar modernitas dan kolonialisme.

Marco Kartodikromo memberi ingatan atas kehendak berbahasa “Melajoe” bercorak jalanan, menandingi pembakuan bahasa oleh pihak kolonial melalui kamus, sekolah, pers, dan sastra.

*) Kolumnis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s