Bambu Jepang

F. Rahardi*, KOMPAS, 12 Jul 2014

SAMBIL menunjuk deretan bambu hias di halaman kompleks perkantoran, seorang ibu bertanya kepada arsitek lanskap lulusan perguruan tinggi ternama. ”Itu bambu apa sih, Mbak?” Si mbak cepat sekali menjawab. ”Itu bambu jepang!” Ibu itu bertanya lebih lanjut. ”Apakah bambu itu memang berasal dari Jepang?” Setelah agak lama berpikir, mbak arsitek menjawab. ”Ya, pasti, dong. Mosok bukan dari Jepang disebut bambu jepang?” Padahal, bambu itu bukan dari Jepang, melainkan dari Thailand. Namanya juga bukan bambu jepang, melainkan bambu biara, Monastery bamboo, Thyrsostachys siamensis.

Mengapa bambu yang berasal dari Thailand di Indonesia bisa disebut sebagai bambu jepang, ya? Memang banyak komoditas dengan nama tempat tertentu yang asal-usulnya bukan dari tempat tersebut. Itik dan sawo manila bukan berasal dari Manila, Filipina, melainkan dari Amerika Selatan. Duku palembang bukan berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, melainkan dari Jambi. Asam selong bukan berasal dari Selong (Sri Lanka), melainkan dari Brasil, Amerika Selatan.

Itik dan sawo manila disebut demikian karena dua komoditas ini dibawa bangsa Spanyol dari Amerika Selatan ke Filipina. Dari Filipina, yang beribu kota Manila, itik dan sawo ini masuk ke Indonesia. Maka, jadilah ia itik dan sawo manila. Duku dari Provinsi Jambi itu masuk Jakarta dibawa para pedagang, yang hampir semuanya berasal dari Palembang. Tak jelas mengapa buah dewadaru atau sianto disebut asam selong dan bambu biara disebut sebagai bambu jepang.

Salah kaprah pemberian nama seperti ini bisa menyangkut hal yang lebih besar dan berlangsung sampai sekarang.

Alkisah, sejak zaman Mesir Kuno, Kepulauan Nusantara kita ini dikenal di Timur Tengah sebagai penghasil rempah-rempah, terutama cengkih. Bunga cengkih yang bersifat anti bakteri itu hanya tumbuh di empat pulau di Maluku. Komoditas penting ini selain digunakan sebagai bumbu masakan juga untuk obat dan menjadi salah satu bahan pengawet mumi para Firaun di Mesir. Dari Kepulauan Maluku, cengkih diambil para saudagar Jawa.

Orang India membawanya dari Jawa ke India dan orang-orang Arab membelinya dari tanah India untuk dibawa ke Timur Tengah. Di Timur Tengah, rempah-rempah kita itu dikenal sebagai komoditas dari ”Kepulauan India”. Selain cengkih, Kepulauan Nusantara juga menghasilkan kayu manis sumatera, cabai jawa, kemukus, kemenyan, gaharu, dan cendana. Ketika kerajaan-kerajaan makmur bertumbuhan di Eropa, cengkih juga jadi bahan pengawet daging sapi dan domba, yang dipotong pada musim gugur. Saat itu belum ada kotak dan ruang pendingin.

Perang Salib yang berlangsung sampai tiga abad sebenarnya juga dalam upaya memperebutkan jalur perdagangan rempah- rempah, terutama cengkih yang luar biasa penting di Eropa. Karena cengkih sedemikian tinggi nilainya, diupayakanlah menemukan jalur pelayaran menuju ”Kepulauan India” tempat asal-usul komoditas rempah itu. Columbus yang percaya bahwa bumi kita ini bulat berlayar ke barat untuk menemukan ”Kepulauan India”. Sampailah ia di Kepulauan Karibia, Amerika Tengah.

Columbus dan seluruh bangsa Eropa yakin telah berhasil menemukan Kepulauan India, tempat asal-usul komoditas rempah. Dinamakanlah tempat itu Hindia Barat. Orang-orang yang mereka jumpai, termasuk yang berada di Benua Amerika, mereka sebut sebagai orang India (Indian), sampai sekarang. Sangat banyak contoh salah kaprah seperti ini. Unggas kalkun liar ataupun yang sudah dibudidayakan semua berasal dari Benua Amerika. Anehnya, di Amerika Serikat kalkun disebut turkey. Di Turki sendiri kalkun disebut hindi ”berasal dari India”.

Di Indonesia ada gulma yang di Jawa Barat disebut daun walang karena baunya mirip aroma walang sangit. Orang Jawa menyebut tumbuhan pengganggu ini ketumbar belanda, tumbar londo. Orang Belanda malah menamakannya sebagai ketumbar jawa, java koriander. Padahal, tumbuhan ini berasal dari Meksiko. Nama ilmiah (nama Latin) tumbuhan juga bisa salah dan tetap digunakan secara resmi sampai sekarang. Cabai superpedas Habanero diberi nama ilmiah Capsicum chinense karena dianggap berasal dari Tiongkok. Padahal, semua genus Capsicum berasal dari Amerika Selatan.

*) Pujangga, Pernah Memimpin Majalah Trubus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s