Kembali ke Fitri

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 3 Agu 2014

Idul Fitri (sering) dimaknai kembali ke fitrah, seperti bayi yang baru lahir, dalam keadaan suci. Mungkin karena itulah kehadirannya senantiasa disambut dengan penuh antusias oleh seluruh umat Islam. Idul Fitri dianggap sebagai hari kemenangan melawan segala hawa nafsu yang membuat manusia dalam keadaan penuh dosa.

Menurut Quraish Shihab, ada tiga macam fitrah yang harus direngkuh manusia: (1) fitrah kebenaran, dalam bentuk ilmu; (2) fitrah kebaikan, dalam bentuk etika; dan (3) fitrah keindahan, dalam bentuk seni. Perpaduan antara ilmu, etika, dan seni itulah yang membuat hidup manusia menjadi tertib, rukun, dan damai. Jika diterapkan pada penggunaan bahasa, dengan demikian, kembali ke fitrah dapat diartikan sebagai berbahasa secara benar (sesuai dengan norma/kaidah), baik (sesuai dengan situasi pemakaiannya), dan kreatif.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia sering (jika tidak boleh dikatakan selalu) melakukan kesalahan-kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Begitu pun dalam berbahasa.

Banyak orang (biasanya pejabat, alim ulama, dan cerdik pandai) secara sengaja menggunakan (bentuk) bahasa yang tidak dimengerti dengan baik oleh orang awam.

Anehnya, mereka justru merasa bangga jika (bentuk) bahasa yang digunakannya itu membuat orang terbengong-bengong, tidak mengetahui artinya.

Sebaliknya, banyak pula orang yang secara tidak sengaja (karena tidak tahu) terus-menerus melakukan kesalahan berbahasa. Pada umumnya, mereka hanya meniru kebiasaan berbahasa orang lain (masyarakat kebanyakan atau tokoh tertentu). Mereka tidak memiliki inisiatif dan kepekaan bahasa sehingga tidak dapat membedakan, misalnya, antara merubah dan mengubah; pemukiman dan permukiman; namun dan tetapi; membicarakan pilpres dan berbicara tentang pilpres; serta pasangan tidak …, tetapi … dan bukan …, melainkan ….

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat (Indonesia) gemar melanggar aturan, tak terkecuali aturan bahasa. Aturan/kaidah bahasa Indonesia—yang meliputi tata bunyi/lafal, tata tulis/ejaan, tata kata, tata kalimat, dan tata makna itu—mereka anggap sebagai beban dan menyulitkan. Padahal, aturan/kaidah itu (berupa buku-buku pedoman, seperti EYD, kamus, dan buku tata bahasa) dibuat untuk memudahkan penggunanya agar mereka memiliki pemahaman yang sama.

Penulisan nama orang, misalnya, tidak akan menimbulkan salah tafsir jika semua orang selalu mengawalinya dengan huruf kapital: Selamat, Jaya, Cahaya Purnama, Provinsi, dst. (untuk membedakannya dengan selamat, jaya, cahaya purnama, provinsi, dst. yang bukan nama orang). Begitu pun penulisan nama wilayah yang menggunakan nama rupabumi (dan lebih dari satu kata) harus diserangkaikan: Sungaiapit, Sungaimandau, Kualakampar, Tanjungpinang, dst., untuk membedakannya dengan Sungai Apit, Sungai Mandau, Kuala Kampar, Tanjung Pinang, dst. sebagai nama sungai, kuala, dan tanjung.

Kesalahan berbahasa, karena sudah berlangsung lama dan dilakukan oleh banyak orang, sering dianggap sebagai hal yang biasa dan benar. Masih banyak orang menggunakan merubah, tinggal landas, dan bebas parkir untuk maksud mengubah, lepas landas, dan parkir gratis. Pernyataan Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih pun seolah-olah sudah menjadi baku dan benar dalam surat-menyurat dan pidato. Padahal, jika ditanya siapa yang memberi perhatian dan siapa yang memberi ucapan, siapa pun tidak akan tahu jawabannya yang benar.

Betulkah demikian? Betul, karena /-nya/ dan /di-/ merupakan akhiran dan awalan yang mengacu pada orang ketiga, bukan orang pertama dan kedua yang berkomunikasi dalam surat ataupun pidato tersebut. Lalu? Ya, berarti surat dan pidato seperti itu bukan bentuk komunikasi normal (antarmanusia), melainkan abnormal (mungkin antarsetan). Berbeda halnya jika dinyatakan Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, saya ucapkan terima kasih, siapa yang memberi perhatian dan siapa yang memberi ucapan dapat dengan mudah ditemukan, yakni Bapak/Ibu/Saudara dan saya.

Kesalahan lain yang dapat dengan mudah ditemukan adalah dalam pembuatan kalimat (majemuk), seperti tampak pada dua contoh berikut ini.

(1) Saya tidak berhasil menemukan benda kuno di kampung itu. Sehingga pada kesempatan ini saya tidak dapat menguraikan ciri-ciri benda kuno tersebut.
(2) Karena modal di bank terbatas maka tidak semua nasabah memperoleh kredit.

Kesalahan pada dua contoh di atas sama-sama disebabkan oleh ketidaktepatan penggunaan kata penghubungnya. Pada contoh (1) sehingga digunakan tanpa fungsi/mubazir, sedangkan pada contoh (2) karena dan maka digunakan untuk fungsi yang sama sehingga mubazir salah satunya.

Mungkin, orang sudah lupa bahwa fungsi kata penghubung adalah menghubungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain. Artinya, setiap kata penghubung akan berfungsi dengan baik jika menghubungkan dua bagian. Agar tidak salah, dua contoh itu dapat (harus) diperbaiki menjadi

1.a Saya tidak berhasil menemukan benda kuno di kampung itu sehingga pada kesempatan ini (saya) tidak dapat menguraikan ciri-ciri benda kuno tersebut.
1.b Saya tidak berhasil menemukan benda kuno di kampung itu. Maka, pada kesempatan ini saya tidak dapat menguraikan ciri-ciri benda kuno tersebut.

2.a Karena modal di bank terbatas, tidak semua nasabah memperoleh kredit.
2.b Modal di bank terbatas. Maka, tidak semua nasabah memperoleh kredit.

Begitulah, berbahasa ternyata tidak hanya berurusan dengan keberlangsungan komunikasi, tetapi juga berurusan dengan cara berpikir (logika) manusia. Kembali ke fitrah bahasa, dengan demikian, diharapkan tidak hanya dapat memperlancar komunikasi dan meluruskan cara berpikir (berlogika), tetapi juga dapat mengajarkan cara bertanggung jawab: bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Yang Mahakuasa.

Selamat Hari Raya Fitri, Saudara-saudaraku. Segenap pengelola “Alinea” mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita senantiasa beroleh kemenangan dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s