Jebred, Jebret, dan Jepret

Beni Setia*, Riau Pos, 10 Agu 2014

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) memuat lema nekad dan nekat. Lema nekad (yang tidak dirinci maknanya) dirujuk ke lema nekat (yang memiliki pendadaran makna lebih rinci). Artinya, nekat dianggap sebagai bentuk yang baku, bukan nekad. Sayang, tak diterangkan asal usul kedua lema itu. Apakah nekat itu memang berasal dari bahasa Jawa, seperti biasa terujuk dalam rumusan banda nekat ‘modal nekat’. Padahal, yang sebetulnya banda itu kukuh bergabung dengan donga: banda donga ‘modal doa’.

Mengapa kita (setidaknya penulis) merasa nekad lebih baku daripada nekat? Mungkin, karena nekat bercita rasa lokal, diserap dari bahasa Jawa. Anehnya, justru banyak orang yang menjadikan hal itu sebagai acuan. Contohnya, dalam pemberitaan Final Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo lalu jebret tidak ditulis dengan /d/, tetapi dengan /t/.

Padahal, dalam bahasa Sunda tidak ada istilah jebret. Yang ada (dan baku) justru jebred. Dalam kata jebred tersiandaikan ada suatu kekuatan superior, yang mesiterjang sesuatu yang inferior. Ihwal itu akan lebih terwakili dalam rekonstruksi lisaniah kecelakaan di lintasan kereta tak berpalang pintu di Indramayu, seperti dikutip berikut ini.

“Jebred! Kereta Dwipangga Jakarta-Solo menghantam telak mobil yang menyelonong tidak mengindahkan peringatan warga, bahwa akan ada kereta lewat …”

Dengan kata lain, dalam jebred itu langsung memsibayang horor dari sesuatu yang superior. Bahkan, jebred makin menjanjikan kehancuran dan kemusnahan saat meningkat jadi jegur—merujuk kepada yang kecebur ke kolam dan bunyi letusan bom.

***

Lain lagi dengan jebret, yang bersiasosiasi dengan kata (1) jepret. Di sini tersiandaikan adanya yang elastis ditarik dan dilepas sehingga itu spontan mengempas. Ini berkaitan dengan permainan kanak-kanak, karet gelang yang sengaja ditarik dan dilepas hingga mengempas ke pipi atau tangan anak lain. Menyakitkan, tapi tak menimbulkan leluka, setidaknya bila tidak menghempas di mata. Jepret hanya mengesankan sesuatu yang kecil—apalagi jika ditambah awalan /di-/ jadi kata (2) dijepret ‘penguatan bundel 2—3 lembar kertas dengan paku staples’.

Bahkan, ketika dipenggal jadi satu suku kata yang berdiri sendiri, kata (3) prêt akan diasosiasikan dengan bunyi kentut yang lirih—tapi terdengar jelas bagi yang hadir. Di dalam khazanah Jawa, terkadang kata prêt itu dibisikkan ketika orang-orang seperti setuju dengan janji politik atau briefing pemerintah, tapi sekaligus menyangsikan dan hampir mengabaikannya dengan mendesahkan kata pret itu pada orang yang di sebelah. Sebuah kritik terselubung, yang terkadang jadi terbuka, dengan isyarat suara mulut meniru bunyi kentut lirih.

Di dalam khazanah Sunda terkadang lahir varian yang bersifat humoristik dalam ujud kata (4) pos—identifikasi singkat dari (kata) apos, kentut dalam bahasa Sunda—yang bermakna kentut yang tak berbunyi tapi beraroma. Dalam pemaham itu juga orang Sunda kelahiran 1950-an ke belakang mengsiidentifikasi Kantor Pos, yang suka membagikan tunjangan balsam BLSM itu. Sedang bunyi kentut yang lebih berat dari pos dan pret itu adalah (5) brut, serta meningkat lebih intensif—nyaris berisi—dalam (6) brot. Brot inilah yang membuat orang tak bisa berkelit—meskipun tidak beraroma—dari tuduhan subversi pergaulan.

Sementara itu, kata (7) bret merujuk ke pakaian yang tak pantas tapi mendadak saja kehilangan kemasifnya sehingga sulur benang (kain) putus, robek. Karena sesulur horisontal atau vertikal tenunan itu tidak putus sehelai saja (tapi beruntut banyak serat), identifikasi proses perobekan itu lebih baku memakai kata berebet—banyak sekali bret-nya. Kata (8) berebet ini juga sering dipakai mengidentifikasi tuturan ihwal rentetan tembakan senapan semi otomatis ringan, yang berkesan enteng—meski lebih bertenaga dari letusan pistol—dibanding bunyi mantap si senapan yang meletus per peluru, apalagi dentum meriam lapangan atau bazoka yang lebih ringan.

***

Dalam khazanah rasa bahasa Sunda ragam lisan (bukan tertulis), kalimat atau rangkaian kata-kata yang mencoba merumuskan dan menginformasikan sesuatu dan terfokus ke satu kata, biasanya selalu diawali dengan kata sandang. Itulah sebabnya dalam kalimat-kalimat berikut ini terasa ada nuansa tersendiri.

(1) Pos Amir terkentut saat berteriak mendukung serangan balik Persib.
(2) Pret Amir terkentut saat lari mengejar bis kota.
(3) Brot Amir terkentut meski belum mapan berjongkok—sudah tak bisa menahannya.

Senyatanyalah bahwa jebret itu mengesankan tumbukan ringan (hanya mengsiandalkan energi elastis). Berbeda halnya dengan jebred yang bertenaga—terlebih jegur, yang mengandaikan kecempulung lalu tenggelam di sungai atau letusan bom yang menghancurkan. Di luar itu, pada dasarnya, kata-kata yang terbiasa dipakai dalam komunikasai lisan itu selalu mempunyai konsekuensi bobot dari bunyi huruf ketika diucapkan. Permainan vokal o, a, u, e, dan i mengisyaratkan ada yang membesar atau mengecil—misalnya totol, tutul, titil, dan bahkan til yang merujuk hanya sentuhan kecil.

*) Pengarang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s