Pernalaran

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 17 Agu 2014

Pernalaran dapat diartikan sebagai proses bernalar, yakni kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan aturan logika. Dalam keseharian, proses bernalar yang mengikuti aturan logika itu sering disebut (kegiatan) analisis.

Menurut para ahli, kemampuan bernalar tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi belum tentu mampu bernalar jernih jika tidak terlatih. Sebaliknya, orang yang ber-IQ sedang-sedang saja dapat bernalar jernih jika rajin berlatih. Jadi, kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Pada umumnya, orang yang mampu bernalar jernih dan efisien akan dapat bertindak secara jernih dan efisien pula. Begitu pun dalam berbahasa (baik lisan maupun tulis), orang yang mampu bernalar jernih dan efisien akan berbahasa secara cergas, efektif, dan mudah dipahami oleh orang lain. Sebaliknya, orang yang pikirannya ruwet akan sulit untuk bertindak efisien. Bahkan, untuk mengawali kegiatan/tindakan/pekerjaan saja ia sudah kebingungan: tidak tahu bagaimana atau dari mana memulainya.

Konon, banyak sarana yang dapat digunakan untuk berlatih mengembangkan pernalaran. Dua di antaranya adalah matematika dan bahasa (Gillet, 1994:3). Bahasa, bahkan, menjadi sangat strategis karena setiap orang akan berurusan dengan bahasa dalam tugas dan kehidupannya sehari-hari.

Bagaimana cara mengembangkan kemampuan berpikir/bernalar melalui bahasa? Ada dua cara: (1) menganalisis secara kritis bahasa orang lain dan (2) berlatih berbahasa secara produktif, seperti menulis dan berdiskusi (Mc. Carthy, 1991:12). Analisis secara kritis terhadap dua kalimat berikut dapat dijadikan contoh cara mengembangkan kemampuan berpikir/bernalar melalui bahasa.

(1) Midun ingin mencium gadis pemalu itu.

(2) Gadis pemalu itu ingin dicium Midun.

Sepintas kedua kalimat di atas tidak bermasalah. Di samping berterima secara struktur (kalimat: aktif/pasif), kedua kalimat itu juga berterima secara sosial. Artinya, di samping sama-sama berpola S-P-O, kedua kalimat itu sudah digunakan secara umum dan tidak pernah dipersoalkan keberadaannya. Padahal, jika direnungkan sungguh-sungguh, kedua kalimat itu berkemungkinan (besar) berbeda makna: siapa sesungguhnya yang berkeinginan mencium atau dicium tidak ketahuan. Jika Midun yang ingin mencium, betulkah gadis pemalu itu akan menerimanya begitu saja (karena memiliki keinginan yang sama: ingin dicium)? Begitu pun sebaliknya, jika gadis pemalu itu yang ingin dicium, akankah Midun melakukannya (karena memiliki keinginan yang sama: ingin mencium)? Jawabannya bisa ya/betul, bisa tidak/salah. Dengan demikian, pemasifan kalimat (1) menjadi kalimat (2) tidak cukup hanya mengubah awalan /me-/ menjadi /di-/. Pengubahan itu tidak boleh mengabaikan makna agar logika juga terjaga.

Hal yang hampir sama terdapat pada kalimat (3) dan (4) berikut. Keduanya pun perlu dipertimbangkan kehadirannya.

(3) Pencuri itu berhasil ditangkap polisi.

(4) Polisi berhasil menangkap pencuri itu.

Secara struktur(al), kedua kalimat itu berterima karena sesuai dengan kaidah yang berlaku. Akan tetapi, bagaimana dengan fakta bahasanya? Keterlibatan logika/nalar dalam menganalisis kedua kalimat itu mutlak diperlukan. Logika umum sudah menggariskan bahwa sebuah keberhasilan hanya dapat diraih melalui usaha, kerja, dan perjuangan. Dalam bahasa (Indonesia) usaha, kerja, dan perjuangan itu tereksplisitkan dalam bentuk aktif (tertuang dalam prefiks /me-/), bukan dalam bentuk pasif (tertuang dalam prfiks /di-/). Dengan demikian, kalimat (3) Pencuri itu berhasil ditangkap polisi merupakan contoh yang salah karena sesungguhnya yang dilakukan oleh pencuri itu adalah usaha, kerja, dan perjuangan untuk meloloskan diri, bukan untuk ditangkap (polisi). Agar berlogika, kalimat (3) harus diperbaiki, misalnya, menjadi Pencuri itu berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi. Berbeda halnya dengan kalimat (4) Polisi berhasil menangkap pencuri itu. Karena yang berhasil menangkap pencuri itu adalah polisi, kalimat itu masuk akal, logis, atau sesuai dengan logika.

Begitulah, dalam mengkaji bahasa, peran logika tidak dapat dikesampingkan.

Hal itu dimungkinkan karena jika logika tidak turut campur dalam linguistik akan banyak pernalaran yang keliru. Misalnya, kalimat yang sering kita dengar pada saat pembawa acara (pewara) mempersilakan seseorang untuk memberikan (kata) sambutan. Umumnya, pewara akan mengatakan, “Kepada Yth. …, waktu dan tempat kami silakan.”

Bagi orang yang tidak memikirkannya, pernyataan seperti itu sudah dianggap lumrah dan benar. Padahal, dengan logika sederhana saja kejanggalan kalimat itu dapat dengan mudah ditemukan. Cobalah bertanya, “Siapa yang (hendak) dipersilakan?” Jawabannya pasti seseorang (Yth. itu), bukan waktu dan tempat. Mungkinkah kita mempersilakan waktu dan tempat? Tidak mungkin. Di sinilah peran logika dalam berbahasa menjadi sangat penting.

Contoh lain, yang pernah diutarakan pada rubrik ini beberapa waktu silam, adalah penggunaan kata ganti orang yang tidak tepat pada surat dan/atau pidato. Umumnya, orang mengakhiri surat dan/atau pidatonya dengan, “Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.” Karena sudah biasa digunakan banyak orang, pernyataan seperti itu juga tidak dianggap janggal. Padahal, jika dipikirkan sungguh-sungguh, dalam pernyataan itu tidak jelas siapa yang memberi perhatikan dan siapa yang mengucapkan terima kasih. Mengapa? Karena akhiran /-nya/ pada perhatiannya dan awalan /di-/ pada diucapkan sama-sama mengacu pada orang ketiga, bukan orang pertama dan orang kedua yang sedang berkomunikasi. Oleh karena itu, agar jelas siapa yang memberi perhatian dan siapa yang mengucapkan terima kasih, pernyataan itu harus diubah, misalnya, menjadi Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, kami/saya ucapkan terima kasih.

Ubahan itu meyakinkan bahwa yang memberi perhatian adalah orang kedua: Bapak, Ibu, atau Saudara dan yang mengucapkan terima kasih adalah orang pertama: kami atau saya. Dengan demikian, syarat komunikasi pun terpenuhi: antarorang pertama/orang kedua, antarpembicara/pendengar, atau antarpenulis/pembaca.

Iklan

2 thoughts on “Pernalaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s