Ayam Arab, Ayam Kampung, Ayam Buras

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 25 Agu 2014

Nun di Belgia, Eropa Barat, terdapatlah ayam petelur yang disebut ayam silver brakel kiel-setidaknya itulah yang disebutkan oleh Komunitas Peternak Ayam Berkualitas di Indonesia. Disebutkan, pada 1989, ayam bercorak burik hitam putih itu didatangkan beberapa ekor ke Temanggung, Jawa Tengah, demi kepentingan para kolektor ayam. Namun adalah para peternak yang membuatnya berkembang dan tersebar.

Produksinya kini tercatat 60-70 persen lebih tinggi daripada ayam kampung, yang hanya 30-40 persen. Sebagai pabrik telur, ayam dari Belgia ini, dari usia lima bulan sampai delapan tahun, setiap tahun bisa menghasilkan 260-270 telur. Lebih tinggi dari ayam ras petelur, yang setiap ekor hanya bertelur 230-240 butir per tahun.

Dengan ukuran yang sekecil telur ayam kampung, inilah proses kebahasaan itu: di pasar tidak ada “telur ayam Belgia”, apalagi telur “ayam silver brakel kiel”, yang ada hanyalah “telur kampung Arab” atau “telur ayam Arab”. Lho, kok menjadi “Arab”? Apakah dari Belgia lantas transit dan berkembang di Arab Saudi lebih dulu dalam sejarahnya, baru kemudian diimpor ke Temanggung?

Ternyata, tak lebih dan tak kurang, seperti disebutkan publikasi Komunitas Peternak Ayam Berkualitas tadi, “mengacu pada corak kepala putih mirip kerudung”-tentu tidak perlu argumentasi ilmiah dari para pencetus kata “Arab” ini pertama kali entah kapan, mengapa “mirip kerudung” harus dengan sendirinya membuat ayam-ayam yang kepalanya seperti mengenakan keffiyeh ini disebut “ayam Arab”.

Semula sebetulnya saya memang penasaran terhadap asal-usul kata “Arab” itu. Tapi, setelah mengetahui riwayatnya, yang menarik dipermasalahkan justru adalah kata “kampung” itu sendiri, karena sudah jelas ayam asal Belgia ini, meskipun telurnya semungil telur ayam kampung, bukanlah ayam kampung sama sekali. Apakah keuntungannya “ayam Eropa” ini mengampungkan diri? Tampaknya mitos telur ayam kampung lokal sebagai “telur jamu” berkualitas tinggi, karena makan cacing hasil “ceker-ceker” sendiri, itulah yang diharapkan mengimbas pula kepadanya.

Makna “kampung” dalam dunia ayam memang tidak sama dengan inferioritas, dan kategorisasi istilah-istilah dalam dunia ayam tidaklah analog dengan kategorisasi yang berlaku dalam bahasa. Periksa saja “ayam negeri” sebagai istilah lain dari “ayam ras”. Dihadapkan pada “ayam kampung”, sebagai kategori sosial, kedua-duanya tidak cocok dengan kategorisasi bahasa. Dalam bahasa, “kampung” adalah bagian dari “negeri”, jadi “negeri” sebagai pengertian tentu lebih superior daripada “kampung”-yang bukanlah kenyataannya di dunia ayam. Sedangkan istilah “ayam ras” lebih bermasalah ketika dihadapkan pada “ayam kampung”, karena ayam kampung itu adalah suatu “ras ayam” juga, bukan?

Sangat menarik bahwa pembebanan makna sosial yang membedakan kelas penyantap ayam kampung (lebih mahal) dan penyantap ayam negeri atau ayam ras (lebih murah) melahirkan alternatif bagi yang terendahkan-ketika makna ayam kampung nan prestisius kelewat menjulang. Itulah usaha untuk menernakkan ayam kampung secara massal, artinya diberi makan secara sistematis dengan diet yang sudah terukur-sama seperti memperlakukan ayam ras yang lebih murah.

Padahal, ayam kampung mendapatkan kualitas telur dan dagingnya karena mencari makan berdasarkan kebutuhan naluriahnya sendiri di alam bebas. Jika ada ceceran nasi, dia akan mematuk nasi. Tapi, jika ada nasi dan cacing, dia akan pilih cacing. Kualitas itu akan berubah jika makanan yang alamiah itu diganti makanan yang formulaik, karena manusia tidak akan mencarikan cacing yang masih hidup bagi 50 ribu ayam.

Jadi boleh disebut bertanggung jawab jika ayam ini tidak lagi disebut ayam kampung, tapi ayam “bukan ras”, sudah populer sebagai “ayam buras”, meskipun ras ayamnya sendiri secara genetik tetap ayam kampung. Betapapun, semua nama itu, “kampung” atau “negeri”, merujuk pada rasa, berdampak pada harga dan daya beli, lantas menghasilkan tipologi sosial.

Oposisi biner dalam bahasa menempatkan istilah “ras” dan “bukan ras” berhadapan, tapi yang beroposisi di sini adalah ayam ras dan ayam kampung. Sedangkan ayam buras berfungsi sebagai negosiasi untuk memenuhi bukan sekadar kebutuhan protein, dan hadiah hiburan bagi selera tak terpenuhi atas rasa ayam kampung, melainkan juga representasi suatu politik identitas-bahwa penyantap ayam buras itu bukan penyantap ayam ras.

Dapat disaksikan bagaimana kondisi ekonomi menjadi faktor menentukan dalam konstruksi kebudayaan, termasuk di dalamnya konstruksi kebahasaan, yang dalam proses hegemonisasi dan perlawanan terhadapnya, meninggalkan jejak kata demi kata sebagai penanda dalam momentum sosial historisnya. Ayam-ayam itu sendiri tidak perlu peduli.

*) Wartawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s