Bulur

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 1 Sep 2014

Kata adalah perangkat paling penting dalam komunikasi. Ia semacam kendaraan pembawa bongkah-bongkah gagasan. Ia menjadi wadah, atau wakil, segala macam hal dari benda-benda di alam sekitar hingga konsep paling pelik. Bisa saja orang berkomunikasi tanpa sepatah kata pun, yaitu dengan bahasa isyarat. Tapi kualitas komunikasi di sana tentu sangatlah terbatas. Seorang dosen filsafat dapat kita bayangkan akan mengalami kesulitan menjelaskan pikiran-pikiran Ki Ageng Suryomentaram atau Heidegger di depan kelas dengan ragam bahasa itu. Sebaliknya, seorang tukang parkir bisa dengan mudah menjalankan kerjanya walau tanpa berkata-kata.

Kata-kata berguna bukan saja untuk meyakinkan orang lain seperti pada iklan penawar sakit kepala atau propaganda dan kampanye pemilihan anggota badan legislatif atau presiden. Lewat kata juga orang dapat menghidupkan pengetahuan, antara lain dengan memberi nama pada tiap gejala, baik yang kasatmata maupun tidak.

Penamaan atau leksikalisasi ini adalah strategi manusia mencandra kenyataan.

Kata adalah tanda, tapi sekaligus bisa menjelma jadi simbol. Tanda bersifat metonimis, sedangkan simbol metaforis. Meski tak pernah berhasil seratus persen meringkaskan kenyataan, sebuah kata hadir bukan tanpa alasan. Orang memerlukan kata sebagai wakil dari apa yang ada dalam pikirannya untuk disampaikan kepada orang lain. Kata lapar dalam bahasa Indonesia kita mengerti sebagai ingin makan. Tanda ada yang kurang dan minta isi. Seperti haus, ingin minum. Yang menarik, jarang kita dengar ungkapan lapar akan pengetahuan, melainkan haus, atau dahaga, akan pengetahuan. Kata (lapar dan) haus yang disebut terakhir itu bukan lagi tanda, melainkan simbol. Ia merujuk pada sesuatu di luar dirinya yang punya kemiripan makna. Dan faktor kemiripan di sini bukan kebetulan, tapi terbangun dari mufakat yang menjadi syarat bagi keberhasilan sebuah komunikasi.

Bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kita dapati di sana lema “bulur“, sebuah kata dari khazanah klasik yang mengandung arti “sangat lapar”. Kebuluran berarti kelaparan. Menurut Wilfridus Josephus Sabarija Poerwadarminta, sang peletak dasar kamus babon bahasa Indonesia, anotasi “klasik” (kl) pada sebuah lema menerangkan bahwa lema yang bersangkutan diambil dari karya (Melayu) klasik. Barangkali fakta itu sebagian menjelaskan mengapa kata bulur amat jarang atau malah tidak pernah kita jumpai dalam pengalaman kita berbahasa sehari-hari.

Keadaan lapar pada derajat sangat itu rupanya pernah menjadi pengalaman (sebagian) penutur bahasa Indonesia sampai-sampai ada keperluan mengekalkan kata tersebut ke dalam kamus. Kelaparan telah menjadi bagian yang sukar diceraikan dari pengalaman bangsa Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda hingga hari ini. Dulu orang mengenal istilah HO alias busung lapar—singkatan dari satu kata bahasa Belanda, hongeroedeem, yang rupanya berkerabat dekat dengan honger oedema. Sebutan untuk fenomena yang oleh penyelenggara negara dianggap bisa menyudutkan mereka itu sejak zaman Orde Baru lebih kita kenal dalam bentuk eufemisme: gizi buruk.

Knut Hamsun menulis betapa lapar bisa membuat tokoh “aku” hampa pikiran, hampa perasaan. Itukah alasan kamus kita menyerap kata bulur? Karena kelaparan begitu dekat dengan kita? Dalam tulisannya, “Kata yang Berkembang Biak” (Tempo, 26 Agustus-1 September 2013), Samsudin Adlawi antara lain menyiratkan kepada kita soal pengaruh kedekatan penutur suatu bahasa dengan kenyataan pada penciptaan kata atau istilah: penutur bahasa Indonesia merasa perlu membedakan padi, gabah, beras, nasi, dan menir. Di sisi itu, tidak banyak kata dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan lapar.

Di dalam korpus http://mcp.anu.edu.au, kata bulur tidak kita temukan. Yang ada adalah bentuk turunannya, “kebulur” (“Pasa [sic!] masa itulah ikhtiar membeli beras dengan tiket itu dijalankan, itupun bahana kebulur itu masih terpaku di dalam tiap-tiap hati, iaitu tiap-tiap hati yang di…”; “…takdirnya pada sesuatu masa kelak bangsa-bangsa asing itu merajuk tak malu berkedai atau berhaji lagi di kampung-kampung kita, tidakkah kita kebulur?”) atau “kebuluran” (“Nasib Pahang semasa ini sedang menanggung kebuluran, tetapi kita tak boleh agak tinggal selama-lamanya begitu, kerana tanahnya masih luas dan hasil…”; “…kerja mengambil upahan atau gaji menolong rakyat-rakyat lapar kebuluran dalam masa kesusahan wang ini. Mudah-mudahan terpeliharalah daripada kacau…”).

Demikianlah, semua bentuk bulur kita lihat menyelip dalam teks-teks Melayu/Malaysia. Dan belum pernah kita temukan dalam penuturan bahasa Indonesia sampai sekarang, kecuali dalam tulisan ini. Sekalipun demikian, saya pikir kita tidak perlu menaruh keberatan menyerap kata itu mengingat fenomena yang ia lukiskan dekat dengan pengalaman bangsa kita. Bila pun ada yang menampik, karena tidak pernah kita jumpai, tidak otomatis berarti bangsa kita tak pernah mengalami apa yang dilukiskan olehnya.

*) Penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s