Kisah

Eko Endarmoko*,  KOMPAS, 6 Sep 2014

PENGERTIAN bahasa tampaknya sering disederhanakan semata sebagai perkakas bagi seseorang guna menyampaikan kabar, ide, atau kisah kepada orang lain. Pandangan instrumentalis juga memandang bahasa sebagai alat buat menyatakan perasaan. Karena sekadar alat, bahasa di situ jadi tidak lebih penting dari apa-apa yang ia bawa. Isi, atau fungsi, lebih penting ketimbang wadah, bahasa itu sendiri. Jalan berpikir seperti ini sedikit banyak ikut menyumbang maraknya bahasa yang kacau-balau, amburadul, tidak mengindahkan kaidah kebahasaan yang berlaku. Ingat saja ungkapan yang pernah, atau malah sering, kita dengar, ”Yang penting orang lain mengerti.” Titik. Habis perkara. Tidak ada lagi ruang diskusi.

Namun, bukan pokok itu yang akan kita bincangkan di sini sekalipun sebenarnya ada banyak soal menarik di sana. Apalagi kita tahu bahasa tidak hanya berfaedah sebagai wahana seperti contoh tadi. Dalam puisi—dan karya sastra umumnya—kita mendapati watak bahasa yang berlainan sama sekali. Mungkin saja ada orang menulis puisi untuk mencurahkan perasaannya, tetapi betapapun perasaannya, laku itu tidaklah menjadikan bahasa barang remeh atau sekadar perkakas. Tidak terlalu keliru bila ada yang mengatakan bahwa di sini bahasa dipergunakan untuk kepentingan atau demi bahasa itu sendiri—bukan terutama sebagai alat, sarana, yang mengabdi pada sesuatu yang lain. Menurut Geoffrey Leech, inilah fungsi estetis bahasa.

Selain itu, bahasa, masih menurut Leech, punya fungsi fatis.

Tiap kali ada kenalan menyapa, ”Apa kabar?”, jawaban bagi kita seolah-olah sudah tersedia dan baku: ”Baik.” Jarang orang terpikir menyelidik, apakah si penanya sungguh ingin tahu keadaan kita. Sebaliknya, sungguh ”baik”-kah—entah kesehatan atau dapur—kita pada menit itu?

Leech menyebut percakapan pendek itu contoh bahasa yang tengah menjalankan fungsinya bukan terutama untuk membangun komunikasi, melainkan demi menjaga terselenggaranya silaturahmi di antara sesama manusia. Dalam situasi kebahasaan seperti itu orang sekadar hendak memastikan bahwa hubungannya dengan orang lain yang ia kenal baik-baik saja. Tidak ada yang perlu membuat risau. Sudah lama bahasa Indonesia mengenal satu istilah yang mewakili fenomena ini: basa-basi. Sayangnya, kini basa-basi kita rasakan menimbun lebih banyak konotasi yang kurang baik. Cenderung lebih menunjukkan semacam sikap pura-pura, tidak tulus. Nasibnya kurang lebih sama dengan kata maaf (lihat dua tulisan Samsudin Berlian tentang maaf dalam Kompas terbitan 26 Mei 2006 dan 16 Juni 2006). Atau sebaiknya kita katakan, maaf telah menjelma salah satu bentuk basa-basi.

Di sisi semua itu, bahasa pun bisa berfungsi meyakinkan, dan kemudian menggerakkan, orang lain agar melakukan sesuatu sesuai dengan harapan kita. Dari sinilah kita mengenal beberapa istilah, seperti persuasi, kampanye, dan propaganda. Ragam bahasa persuasif ini jamak kita jumpai dalam dunia periklanan dan politik.

Tidak kurang menarik dari sejumlah fungsi bahasa di atas adalah fakta bahwa bahasa, dalam rupa kata-kata, menjadi wadah pengertian.

Ia menjadi cara atau ikhtiar manusia memahami kenyataan di sekitarnya. Dan itu ditempuh antara lain dengan memberi nama atau sebutan, baik pada benda maupun konsep yang abstrak. Ungkapan ”gagal paham”, misalnya, barangkali mulanya tercetus sebagai bentuk penolakan atas munculnya fenomena ”jilboobs”. Mudah kita menduga bentuk ini meneladan ungkapan dari dunia kedokteran: gagal jantung, gagal ginjal. Yang ingin saya katakan, begitulah salah satu cara bahasa membiak, yaitu lewat analogi. Polanya kira-kira serupa salah urat, salah paham, yang pada gilirannya melahirkan salah urus, salah pikir.

Dan salah pikir pada cara memandang bahasa melulu sebagai alat belaka saya kira melupakan kodrat bahasa sebagai barang hidup.

Karena hidup itulah, ia selalu sanggup menyerap apa pun yang berhubungan dengan kemanusiaan kita sebagai penuturnya.

Bahasa berharga karena ia—ini kita lihat dalam agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan—sudah mendekatkan, sembari menyingkapkan, banyak hal yang semula teramat jauh dan gelap kepada kita.

*) Penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s