Sembilan Kasus Salah Nalar (Bagian 1)

Agus Sri Danardana*, Riau Pos, 7 Sep 2014

Berbahasa dan bernalar (berlogika) adalah dua hal yang dapat dibedakan. Tidak semua orang yang mahir berbahasa menampakkan logikanya dalam bahasa yang digunakan. Padahal, konon, bahasa berpotensi sebagai pembangun logika.

Bernalar adalah berpikir tentang sesuatu, misalnya sebuah kenyataan, dengan berhati-hati dan teliti kemudian disusul dengan pemberian penilaian dan alasan (Purbo-Hadiwidjoyo, 1993:161). Dalam sebuah tulisan, misalnya, nalar penulis terlihat pada cara mengembangkan gagasan dalam sebuah paragraf. Nalar merupakan jiwa atau ruh paragraf, sedangkan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf (beserta dengan ciri pola ataupun fungsi sistematikanya) hanyalah badan penampung jiwa itu. “Mens sana in corpore sano ‘dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula’,” kata pepatah.

Jika mengacu pada pepatah/ungkapan itu, dapat ditemukan sejumlah “jiwa yang tidak sehat” (salah nalar) dalam bahasa, baik lisan maupun tulisan, wacana formal sekalipun. Pada kesempatan ini akan dikemukakan sembilan jenis kesalahan nalar yang umum ditemukan (bdk. Moeliono, 1989:124—138).

1. Generalisasi yang Terlalu Luas

Generalisasi adalah proses yang sangat penting untuk sampai pada simpulan berdasarkan sejumlah fakta yang khas. Kemampuan untuk membuat generalisasi akan membantu kita belajar dari pengalaman untuk membuat prediksi tentang gejala yang lebih umum. Sekalipun demikian, ibarat membuat bangunan yang kokoh, fondasi dan tiang penyangganya juga harus memadai. Jika baru menghadapi satu kasus orang terburu-buru untuk membuat generalisasi, simpulannya dapat menjadi tidak sahih. Misalnya, karena menghadapi fakta bahwa yang lulus ujian bahasa Indonesia hanya sedikit, orang berpikir bahwa kurikulum harus dirombak. Padahal, ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab ketidaklulusan dan belum semuanya diamati atau diteliti secara saksama.

Dengan kata lain, generalisasi hanya dapat dilakukan jika berbagai gejala yang spesifik yang ditemukan memiliki pertautan sehingga mengarah ke satu gejala umum.

2. Deduksi yang Dasarnya Tidak Kukuh

Deduksi adalah proses pengambilan simpulan yang memudahkan kita menentukan penyebab dari kasus yang spesifik. Jika sudah diketahui bahwa kecelakaan lalu lintas umumnya disebabkan oleh kecerobohan pengemudi, ketika berhadapan dengan satu kejadian kecelakaan, kita dapat menduga bahwa hal itu terjadi karena pengemudinya ceroboh. Dengan demikian, penyelidikan dapat diarahkan pada kondisi fisik pengemudi atau tingkah lakunya. Namun, deduksi yang seperti itu tidak boleh langsung menjadi vonis yang menutup kemungkinan adanya penyebab lain. Tetap diperlukan pemeriksaan apakah kondisi mobil, jalan raya, dan lalu lintas juga berpeluang menjadi penyebab kecelakaan itu. Deduksi dapat diterima jika premisnya sahih dan berlaku mutlak, misalnya “setiap manusia akan mati” atau “udara mengalir dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah.”

Premis yang mengandung pernyataan “umumnya” tidak serta merta dapat menjadi landasan simpulan walaupun dalam beberapa hal membantu.

3. Pemikiran Hitam Putih

Suatu masalah sering lebih rumit daripada yang terlihat. Suatu gejala, lebih-lebih dalam kehidupan sosial, sering terjadi dengan penyebab yang beragam dan majemuk. Namun, banyak orang yang melihat kerumitan itu secara sederhana atau hitam putih. Perilaku yang tidak benar pada seorang anak, misalnya, sering dianggap hanya sebagai ketidakpatuhan terhadap orang tua. Atau, orang yang bertindak asusila sering diasosiasikan dengan ketidaktekunan menjalankan perintah agama. Pandangan seperti itu dapat menyebabkan kesulitan untuk menemukan penyebab yang sebenarnya dan akhirnya juga kesulitan untuk memecahkan masalah. Contoh lain adalah stigma buruk yang diberikan kepada orang yang tidak mau memberikan suara dalam pemilihan umum.

Dalam hal ini, pemikiran hitam putih itu dapat membuat orang cenderung memaksakan kehendak dan menjadi diktator.

Pemaksaan kehendak dapat menjadi provokasi. Provokasi adalah tindakan menghasut yang disertai dengan ancaman secara eksplisit ataupun implisit. Sebagai contoh, sekelompok buruh yang akan memperjuangkan keadilan mempengaruhi individu buruh yang lain untuk melakukan unjuk rasa. Buruh yang dipengaruhi itu mungkin akan berpikir bahwa jika tidak ikut unjuk rasa, dia akan dianggap tidak memiliki solidaritas. Di pihak lain, ia merasa sudah diperlakukan adil di tempatnya bekerja sehingga, jika ikut berunjuk rasa, ia justru bertindak tidak adil karena meninggalkan kewajibannya.

4. Salah Identifikasi Penyebab

Iklan produk kadang-kadang berpengaruh sangat kuat. Sebuah produk deodoran ditawarkan dengan menggambarkan bahwa bau badan seakan-akan suatu aib besar. Obat jerawat ditawarkan dengan gambaran bahwa orang berjerawat seakan-akan berwajah menakutkan melebihi wajah mayat dalam film horor. Orang yang menggunakan sabun mandi tertentu merasa secantik bintang film yang menjadi bintang iklannya.

Urutan kejadian sering juga dipandang sebagai hubungan sebab akibat. Mungkin benar bahwa setelah hujan deras ada daerah yang tergenang banjir sehingga dikatakan bahwa banjir disebabkan oleh hujan deras.

Namun, urutan peristiwa tidak selalu mengindikasikan hubungan sebab akibat.

Orang yang menyadari kehilangan sepeda motor yang diparkir di depan rumah tidak boleh menuduh orang yang tidak dikenal yang baru saja melintas sebagai pencurinya. Contoh yang lain adalah pandang terhadap keajaiban dukun cilik. Seorang anak kecil dipercaya dapat memberikan kesembuhan penyakit apa pun hanya karena cerita orang yang merasa sembuh dari penyakitnya setelah diberi “obat” oleh dukun cilik itu.

*) Kepala Balai Bahasa Riau

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s