Bahasa Politik

Sumber gambar: Merdeka.com

Budi Hatees*, Riau Pos, 21 Sep 2014

Segala hal yang mengandalkan bahasa sebagai unsur utamanya—dari kebudayaan mana pun bahasa itu berasal-–mempunyai potensi untuk mengubah dunia (peradaban) manusia. Hal itu disebabkan bahasa mempunyai kekuasaan dan kekuatan luar biasa untuk mengubah segala sesuatu.

Kekuasaan dan kekuatan bahasa tak terbendung. Sejarah kitab suci sebagai bukti. Sekeras apapun usaha manusia untuk menentangnya, kekuasaan dan kekuatan bahasa tetap tak terbendung. Kitab suci bertahan sekian lama, sepanjang peradaban manusia.

Orang akan menyebut daya tahan kitab suci bukan karena bahasa, melainkan karena berkaitan langsung dengan keyakinan manusia sebagai mahluk religius. Hubungan manusia dengan Sang Penciptalah yang menyebabkan kitab suci tetap bertahan. Namun, keyakinan itu tak mungkin terpupuk tanpa bahasa.

Jadi, bahasa kitab suci telah membuat manusia memiliki keyakinan atas Sang Pencipta, meskipun soal keyakinan itu tak bisa dijelaskan secara rasional. Dengan sendirinya bahasa pun telah melampaui hal-hal yang tak rasional, meskipun secara umum bahasa acap kali dipakai untuk merasionalisasikan segala sesuatu.

Salah satu contohnya bahasa dipakai untuk membentuk pengetahuan, hal-hal yang rasional, yang bisa dinalar. Bahwa pengetahuan itulah yang mengubah peradaban manusia, tentu saja soal itu tidak bisa dibantah. Namun, justru karena itulah posisi bahasa menjadi sangat penting. Tanpa bahasa, pengetahuan tidak ada.

Soal ini sejalan dengan tesis Alessandro Duranti, guru besar antropolinguistik di Universitas California. “Bahasa tidak saja memantulkan dunia,” tulis Duranti dalam “Politics and Grammar: Agency in Samoan Political Discourse” yang terbit di dalam buku American Ethologist (1990). “Bahasa juga membentuk dunianya, menciptakan dunianya,” lanjutnya.

Simpul yang sukar dibantah. Kita pun meyakininya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mempraktikkan kedahsyatan bahasa itu dalam berkomunikasi. Hasilnya, luar biasa. Seseorang (atau orang banyak) bisa dengan mudah diyakinkan untuk mempercayai sesuatu, meskipun sesuatu itu merupakan hal baru bagi dirinya.

Para politisi paling sering mempraktikkan hal itu. Mereka mengandalkan bahasa dalam melancarkan strategi berpolitiknya. Inilah yang dibuktikan Duranti ketika meneliti perilaku berbahasa para politisi di Samoa. “Cara elite politik Samoa dalam berbicara,” tulis Duranti, “tidak hanya memantulkan citra keberbahasaan mereka, tetapi juga membentuk keberkuasaan berbahasa mereka”.

Dengan cara yang sama seperti Duranti meneliti perilaku berbahasa para politisi di Samoa, kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa politisi di negeri ini pun seperti itu. Setiap kali berbicara, para politisi kita berusaha menunjukkan kepada publik cara berbahasanya sekaligus berpretensi menjadikan dirinya sebagai sumbu berbahasa dalam komunikasi politik yang ditunjukkan dengan pilihan-pilihan gramatikanya.

Kita ambil contoh cara berbahasa Joko Widodo, lalu bandingkan dengan cara berbahasa Prabowo Subiakto. Bahasa kedua politisi saat berkampanye sebagai calon Presiden Republik Indonesia itu tidak hanya memantulkan sebuah dunia, tetapi juga membentuk dan menciptakan sebuah dunia. Bahasa keduanya tidak hanya untuk merepresentasikan realitas, tetapi juga menciptakan realitas baru lewat apa yang saya sebut kosakata politik.

Cara berbahasa Joko Widodo memakai kosakata politik yang diserap dari kosakata lokal dalam pergaulan masyarakat kecil, lalu dipadupadankan dengan gestur dan mimik yang membuat dirinya representatif sebagai bagian dari masyarakat kecil itu. Joko Widodo pun melakukan permainan linguistik (sosio-linguistik) dengan logat Jawa yang totok dan lembut. Logika berbahasanya ditampilkannya dengan intonasi yang jelas sehingga gampang dipahami publik. Ia kemudian menjelma sebagai pemegang kekuasaan semantik (semantik power), dan akhirnya membuatnya sebagai pusat bahasa yang diikuti oleh banyak orang.

Berbeda halnya dengan cara berbahasa Prabowo Subiakto. Pilihan-pilihan kata/diksinya acap terjebak pada kode atau istilah asing (alien code) yang diserap dari dunia lain, dan berjarak dari frasa yang dipakai masyarakat kecil. Ketika Prabowo berpidato, ia merepresentasikan diri sebagai bagian dari warga bangsa yang punya rasa percaya diri tinggi untuk menggusur pengaruh asing di negeri ini. Ia mencitrakan dirinya sebagai simbol perlawanan untuk kebangkitan Republik Indonesia di kancah internasional, tetapi pencitraan itu justru membuatnya semakin berjarak dengan masyarakat kecil karena masyarakat kecil kita bukan kelompok sosial yang lebih peduli pada urusan internasional daripada urusan nasional (lokal).

Keberbahasaan Prabowo Subiakto membuatnya menjadi pusat bahasa bagi kelompok sosial dari lingkungan kelas menengah yang terdidik. Ia telah menjadi pusat bahasa bagi kelompok sosial yang kepentingan-kepentingannya sangat terganggu oleh buruknya posisi Indonesia di kancah internasional. Hasrat mereka untuk mengurangi pengaruh asing di negeri ini menemukan habitusnya pada cara berbahasa Prabowo Subiakto.

*) Sastrawan, menulis dari Kota Padangsidempuan

Iklan

One thought on “Bahasa Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s