Singkat Kata

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Okt 2014

Kependekan kata atau lebih lazim disebut singkatan pernah membuat gundah sekelompok pemerhati bahasa Indonesia karena pemakaiannya, terutama di media cetak dan media sosial, dianggap sudah sangat keterlaluan sampai-sampai mengancam bakal merusak bahasa Indonesia. Bagaimana bisa bahasa Indonesia—rumah bersama segenap penduduk Indonesia—menjadi rusak oleh pemakaian singkatan? Namun, apakah yang mendorong orang memendekkan kata?

Bagi sebagian orang, ketika pikiran berjalan lebih cepat dari perbuatan menulis, atau bicara seorang narasumber lebih laju dari pencatatan oleh penanya, dorongan menyingkat kata sukar dihindari. Maka meluncurlah bentuk-bentuk singkat yg (yang), th (tahun), sbg (sebagai), sdg (sedang), dst (dan seterusnya). Namun, singkatan mungkin juga hadir karena ada keperluan menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan, atau unsur kimia. Sudah lama kita mengenal lambang huruf, seperti gr (gram), l (liter), m (meter), kg (kilogram), atau Fe (ferum). Singkatan dapat pula terbentuk karena ada keperluan menyimbolkan sesuatu, memadatkan nama diri. Misalnya, akronim ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia), dan FISIP (fakultas ilmu sosial dan ilmu politik).

Di negeri yang kebanyakan kalangan melek hurufnya lebih menghargai ”singkat” dalam pengertian ’segera’, ’jalan pintas’ daripada ”hemat”, ”padu”, ”praktis” ini, kita melihat produksi singkatan kian bertumbuh pesat. Sampai sekitar sepuluh tahun lalu saja—tercatat dalam sebuah kamus yang mengambil data dari sumber-sumber tercetak (Agata Parsidi, Kamus Akronim, Inisialisme, dan Singkatan, edisi kedua dengan suplemen. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994)—kependekan kata dalam bahasa Indonesia sudah mencapai jumlah lebih dari 33.000 (belum termasuk dari ragam bahasa slang yang berbau porno dan kurang sopan). Saya mendapat kabar baru-baru ini, pada 2009 jumlah itu sudah membiak jadi 57.000!

Malah judul Akronim, Inisialisme, dan Singkatan tadi dapat menjelma akronim Aids. Akronim judul itu seperti hendak menegaskan bahwa singkatan dapat dipadankan dengan sejenis virus maut.

Saya pikir ada benarnya bahwa kegemaran menciptakan akronim dan singkatan kini sudah terlampau berlebihan, malah kadang mencerminkan kemalasan tanpa nalar.

Singkatan dan akronim mudah sekali kita temukan berserak di media massa dan media sosial. Pemakaiannya, apalagi sampai merajalela, di media massa tak pelak punya dampak hebat menularkan dengan cepat kegandrungan menyingkat-nyingkat kepada khalayak luas. Namun, media sosial punya dampak lebih hebat lagi. Fakta bahwa lewat media sosial seseorang dapat menyampaikan isi kepala dan isi hatinya serentak kepada banyak orang lain dengan seketika jelas menyediakan jalan lebar bebas hambatan buat singkatan menyebar sampai sejauh-jauhnya. Belum lagi bila kita perhitungkan efek gema, bagaimana satu bentuk yang diterima seseorang diteruskan olehnya kepada sekian banyak orang lain, dan begitulah seterusnya proses penyebaran berlangsung dalam efek ganda.

Apakah lalu kita dapat menyimpulkan bahasa Indonesia terganggu, atau malah rusak, karenanya? Saya tidak begitu saja percaya.

Munculnya sekian banyak singkatan bagi saya justru memberi satu bukti bahwa bahasa itu hidup, dinamis—ada kreativitas di sana.

Saya lebih percaya bahasa Indonesia sanggup menjaga diri sendiri dengan melaksanakan aturan main bagi dirinya, sebuah aturan yang sudah cukup berumur, sudah melembaga. Saya tidak percaya sebab tidak pernah ada kaidah yang mengatur pembuatan singkatan. Tiap orang bebas membuat singkatan sesuka hati, satu hal yang agak mirip dengan neologisme dalam laras bahasa gaul yang umumnya fana.

Ini membawa argumen berikut, semua bentuk singkatan tunduk pada hukum dasar bahasa, yaitu kesepakatan atau konvensi, syarat mutlak bagi keberterimaan dan kelangsungan hidup mereka.

Singkat kata, berapa pun jumlah singkatan lahir tiap hari, mereka pasti tersaring alamiah dari sebuah kancah bernama bahasa Indonesia. Dan, karena sudah dijinakkan, pastilah tak bakal merongrong. Apalagi merusak.

*) Munsyi, Penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

3 thoughts on “Singkat Kata

  1. Kami lihat hanya media Harian Kompas yang tata bahasanya lebih sempurna dibandingkan media online seperti detik.com yang selain sering menggunakan istilah bahasa inggris,campur bahasa local terutama Jawa bahkan bahasa gaul seperti kata kalo(kalau),tapi(tetapi),nyalon(mencalonksn),mikir(pikir).
    Kami mohon Harian Kompas bisa tetap konsisten dan sebagai media cetak terbesar untuk mempelopori pemakaian bahasa kita Bahasa Indonesia yang benar dan baik,juga bisa menghimbau Presiden terpilih Jokowi untuk pakai bahasa persatuan kita Bahasa Indonesia yang benar dan baik,jangan sering pakai istilah Bahasa Ingris terus,contohlah Bapak Soeharto yang selalu bangga menggunakan bahasa sendiri baik pidoto di forum international dan selalu mencanangkan dan bangga dalam penggunaan bahasa Indonesia
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s