Berandai-andai

Sori Siregar*, KOMPAS, 11 Okt 2014

Bukan hal aneh jika sebuah institusi atau seorang individu membuat alternatif saban menyusun rencana. Minimal alternatifnya satu, tetapi tak jarang pula dua, bahkan tiga. Langkah demikian diambil sebab tak seorang pun dapat memberi kepastian.

Contohnya seperti ini. Ketika Presiden Reagan akan dilantik untuk kali kedua, cuaca di Washington DC sangat tak bersahabat. Badai salju. Dinginnya membekukan sehingga pakaian berlapis-lapis pun tak banyak menolong. Karena Gedung Putih telah membuat Plan B sebagai alternatif, masalah segera dapat dipecahkan. Acara pelantikan dipindahkan ke dalam Gedung Bundar, tempat anggota Kongres bersidang. Selesai.

Kalau, misalnya, seandainya, andai kata (saya sengaja menuliskan empat kata bersinonim karena banyak di antara kita suka mengulang-ulang seperti itu) panitia pelantikan tidak membuat rencana alternatif, tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Padahal, panggung telah dibuat, tempat duduk para tamu telah disediakan, begitu pula tempat para wartawan yang meliput.

Presiden terpilih Ronald Reagan, para tamu, dan pers (termasuk saya yang ditugaskan untuk membantu siaran langsung oleh VOA Seksi Indonesia), benar-benar tertolong karena adanya rencana alternatif ini. Ini mengingatkan saya akan peribahasa lama ”sedia payung sebelum hujan”.

Rakyat Amerika tentu tidak mengenal peribahasa tersebut, tetapi mereka melaksanakan yang dianjurkan peribahasa itu. Jika di dunia ini semuanya serba pasti, tentu tidak akan ada kata kalau, misalnya, andaikan, seumpama, jika, dan kata-kata sejenis. Kata andai sendiri adalah nomina yang mengisyaratkan peristiwa yang dianggap mungkin terjadi. Karena itu, jika seseorang bertutur dengan mengandaikan, berarti ia menganggap suatu peristiwa mungkin terjadi. Tampaknya kata andai dan saudara-saudaranya itu perlu digarisbawahi karena banyak orang tidak suka dengan pengandaian apalagi jika konotasinya negatif. Misalnya, ”andai kata ia meninggal, siapa orang pertama yang harus kita hubungi selain yang ada di sini?” Anggota keluarga yang mendengar pertanyaan itu pasti sangat terganggu walaupun si sakit yang mereka hadapi telah berbulan-bulan dalam keadaan tidak sadar.

Banyak politisi dan pejabat di negeri ini sangat tidak suka pada pengandaian yang diajukan para wartawan.

Kalau pertanyaan pers bersifat mengandaikan mereka umumnya menjawab ”saya tidak suka berandai-andai”. Mungkin ini pengelakan atau penolakan karena khawatir jawaban yang diberikan akan menyinggung orang lain atau mereka memang malas berpikir tentang sesuatu yang mungkin menghadang di depan. Namun, bisa saja mereka memberikan jawaban demikian karena tidak memahami makna kata dasar andai itu. Kalau sampai begitu, wah, parah kita.

Karena itu, sangat menarik ketika seorang pejabat mengatakan, ”Ya, kita cari jalan lain.” Pejabat tersebut mengucapkan demikian karena para wartawan terus memburunya dengan pertanyaan bagaimana jika rencana relokasi yang dibuatnya ditolak warga dan mereka melawan dengan tetap bertahan di lahan yang disengketakan. Pejabat yang satu ini adalah orang yang sangat menyadari bahwa bisa saja rencana yang ditetapkannya tidak dapat diwujudkan. Karena itu, sangat beralasan jika sang pejabat mengatakan, ”Ya, kita cari jalan lain.”

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa rencana lain itu telah tersedia bukan akan dicari lagi. Orang bijak memang akan berbuat seperti pejabat itu, bukan terus mengelak dengan mengatakan, ”Saya tidak ingin berandai-andai.”

Memangnya semua sudah pasti?

*) Cerpenis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s