Hattrick: Dari Cristiano Ronaldo hingga Stan Van Den Buijs

Imelda Yance*, Riau Pos, 12 Okt 2014

Dalam dua pekan terakhir, istilah hattrick, hat-trick, atau hat trick tiba-tiba marak dipakai dalam pemberitaan baik di media elektronik maupun cetak di tanah air. Kalau menyebut istilah itu, pastilah para pecinta sepak bola langsung ingat kepada bintang sepak bola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Kali ini, bukan tentang sepak bola, tetapi bersangkut paut dengan orang nomor 1 di Bumi Lancang Kuning, Drs. H. Annas Maamun, Gubernur Riau; dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sang Gubernur tersangkut masalah hukum. Dua nama mantan Gubernur Riau, Drs. H. M. Rusli Zainal, M.P. dan H. Saleh Djasit, S.H., pun dikaitkan dengan istilah itu.

Istilah hattrick memang berasal bukan dari bahasa Indonesia. Kata benda atau nomina ini berasal dari bahasa Inggris, yang berarti:

“an occasion when a player scores three times in the same game, especially in football, or when someone is successful at achieving something three times: Goal! Fowler makes it a hat trick! After two election victories the government clearly has hopes of a hat trick” (Cambridge Dictionaries Online, 2014).

Terjemahan bebasnya kira-kira ‘suatu situasi ketika seorang pemain mencetak tiga angka dalam satu pertandingan….’

Konon, istilah ini pertama kali dikenal pada 1877 dan berasal dari salah satu cabang olah raga, kriket. Hattrick terjadi apabila seorang pelempar bola (bowler) berhasil membuat tiga orang pemukul bola (batsman) keluar melalui tiga kali lemparan berturut-turut. Namun, istilah ini lebih popular dalam sepak bola. Hattrick terjadi apabila seorang pemain mencetak tiga gol dalam satu pertandingan.

Nah, bagaimana dengan pengertian hattrick dalam kasus Gubernur Riau (dan dua mantan Gubernur Riau) itu?

Kalau dicermati, seiring masa, istilah hattrick pun berubah. Pemakaiannya meluas (merambah ke berbagai bidang), maknanya menyempit. Awalnya, disebut hattrick apabila wicket (kriket), gol (sepak bola), piala (penghargaan musik misalnya), terjadi tiga kali berturut-turut dalam satu masa (pertandingan misalnya) Sekarang, asal terjadi sebanyak tiga kali oleh satu orang, pasti disebut hattrick, syarat berturut-turut hilang. Maka, tak pelaklah, pengertian hattrick dimampatkan menjadi ‘tiga kesuksesan,’ seperti yang tercantum dalam Thesaurus.com. (2014).

Unsur kesuksesan yang melekat pada istilah hattrick tampaknya juga mengalami pengecualian. Kisah pesepak bola profesional Belgia bernama Stan van den Buijs yang menyarangkan tiga gol berturut-turut ke gawang sendiri (gol bunuh diri) juga disebut hattrick. Kala itu, timnya, Germinal Ekeren melawan Anderlecht pada musim 1995-1996 dalam ajang Liga Jupiler Belgia. Tim lawan menang 3-2. Memang van den Buijs “sukses” mencetak gol, tetapi dalam sepak bola kesuksessan tersebut terjadi apabila arahnya bukan ke gawang sendiri.

Nah, kisah serupa tampaknya menimpa Riau. Tajuk berita “Hattrick Riau, Tiga Gubernurnya Dibui KPK” (Vivanews, 30 September 2014) menjadi salah satu bukti. Istilah hattrick pada judul berita tersebut berarti kesuksesan Riau karena tiga Gubernurnya berhasil ditangkap KPK berturut-turut.

Jika direnungkan, bagi Riau, hal tersebut bukanlah suatu keberhasilan, tetapi musibah besar. Yang berhasil melakukan hattrick dalam makna positif adalah KPK. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Indonesia Lawyers Club pada 30 September 2014 yang mengusung topik “Hattrick Gubernur Riau Masuk KPK.”

Mari bandingkan dengan judul berita yang diturunkan oleh Riau Pos pada 26 September 2014, “Hat-trick KPK Tangkap Gubernur Riau”. KPK-lah yang membuat suatu hattrick. Inilah judul yang lebih tepat untuk berita mengenai kasus hukum Gubernur Riau itu. KPK berhasil menangkap tiga orang Gubernur Riau (berturut-turut) (H. Saleh Djasit, S.H., Drs. H. M. Rusli Zainal, M.P, dan Drs. H. Annas Maamun).

Penempatan unsur hattrik dalam gabungan kata pun bervariasi. Ada yang menulis KPK hattrick, ada pula hattrick KPK, seperti dalam judul berita berikut.

(1) “KPK Hattrick Tangkapi Gubernur Riau” (Tempo.co, 25 September 2014);
(2) “Hat-trick KPK Tangkap Gubernur Riau” (RiauPos.co, 26 September 2014).

Di antara kedua bentuk gabungan tersebut, “hattrick KPK­”-lah yang lebih tepat, karena seturut hukum DM (diterangkan menerangkan) dan tidak mengubah makna dasarnya, yaitu: ‘hattrick yang diciptakan oleh KPK.’ Sebagai pembanding dalam bahasa asalnya, istilah hattrick ditempatkan setelah penciptanya. Susunan itu seturut dengan hukum gabungan kata dalam bahasa Inggris, MD (menerangkan diterangkan).

(1) Cristiano Ronaldo amazing hat-trick destroy Sweden;
(2) Ronaldo hat-trick inspires Madrid to Athletic win.

Tampaknya, istilah hattrick akan tetap berjaya terutama seiring dengan keberadaan sepak bola, termasuk di Indonesia. Apakah istilah itu akan tetap diperlakukan sebagai istilah asing? Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memasukkannya ke daftar istilah bahasa Indonesia: dengan cara penerjemahan atau penyerapan. Mengingat ketersalinan ke dalam bahasa Indonesia, kemudahan pemahaman, dan keekonomisan; penyerapan tanpa penyesuaian lafal maupun ejaan sepertinya akan lebih tepat. Walaupun setelah hattrick ada quattrick (empat kali oleh seorang pelaku), mudah-mudahan tidak terjadi di Riau terkait Gubernur Riau dan KPK.***

*) Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s