Soempah…

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 27 Okt 2014

Sejarah politik di Indonesia mengandung sejarah pemilihan ungkapan. Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928, memunculkan ungkapan sakral: “soempah”. Keputusan resmi mendapat sebutan agung: “Soempah Pemoeda”. Muhammad Yamin menjadi perumus untuk menjelaskan misi kaum muda demi pembentukan Indonesia. Sebutan Soempah Pemoeda mengesankan ada pertimbangan kebahasaan, sejarah, politik, dan kultural. Yamin sengaja memilih ungkapan “soempah” agar bertaut dengan sejarah kekuasaan di Nusantara dan penguatan imajinasi atas epos-epos politik. Yamin memang cerdas berbahasa demi ekspresi ide dan imajinasi Indonesia.

Tahun demi tahun berganti. Kita mengingat Soempah Pemoeda sebagai peristiwa akbar. Sukarno dan Ki Ha­djar Dewantara turut membesarkan pesona Soempah Pemoeda meski cenderung mengacu pada perayaan lagu Indonesia Raja ketimbang isi Soempah Pemoeda. Sukarno menginginkan ada peringatan untuk kehadiran lagu gubahan W.R. Soe­pratman agar ada bara nasionalisme. Sukarno tentu tak abai dengan misi-misi besar kaum muda saat bersumpah untuk bangsa, tanah air, dan bahasa.

Yamin pun mengawetkan sejarah dengan menerbitkan buku berjudul Sumpah Indonesia Raja (N.V. Nusantara, 1955). Yamin menerangkan: “Naskah Sumpah Indonesia-Raja mendjatuhkan uratnja kedalam bumi-pesemaian tjita-tjita kemerdekaan sedjak permulaan abad sampai kini dan nanti.” Kalimat puitis, mengandung ajakan mengingat sejarah. Keterangan lanjutan: “Jang mendjadi dasar memperingati tanggal 28 Oktober 1928 sebagai Hari Kelahiran Bangsa jalah karena persumpahan itu memberi djedjak dan kesan dalam perdjuangan kemerdekaan; sungguh banjak kebaktian dan manfaatnja….” Yamin memang lihai memberi godaan (imajinasi) sejarah melalui kalimat-kalimat puitis.

Yamin mengulangi penggunaan ungkapan “soempah” meski beda cara penulisan, bersesuaian dengan perubahan ejaan. Dulu, penggunaan ungkapan “soempah” dipengaruhi oleh gairah Yamin mempelajari bahasa, sastra, dan sejarah. Selama puluhan tahun, “soempah” terus merangsang imajinasi kesakralan dan keagungan. Kemonceran ungkapan sumpah pernah diikuti oleh A.R. Baswedan dengan mengumumkan Soempah Pemoeda Arab Indonesia, 4 Oktober 1934. Baswedan (1974) mengakui bahwa Soempah Pemoeda Arab Indonesia dirangsang oleh Soempah Pemoeda (1928). Ungkap­an “soempah” semakin mengartikan kehendak kaum muda berani melawan kolonialisme-imperialisme.

D. Iken dan E. Harahap dalam Kitab Arti Logat Melajoe (1940) mengartikan “soempah” sebagai “koetoek, toelah, bila melanggar djandji” atau “lapal perdjandjian”. Pengertian “bersoempah” adalah “mengangkat perdjandjian dan pengakoean akan benar dan setia” atau “akan membenarkan diri demi Allah”. Sejarah ungkapan “soempah” segera memunculkan pengertian-pengertian berbeda saat digunakan dalam pelbagai peristiwa dan kepentingan. Sutan Mohammad Zain (1952) mencatat sekian pengertian dari permainan ungkapan “soempah”. Kita disuguhi pengertian-pengertian yang tak selalu bereferensi dengan peristiwa bersejarah 1928. Orang menggunakan sebutan “makan soempah” untuk “orang jang mangkir dari soempah”. Akibat “makan soempah” adalah terkena laknat dan kutuk. Kita tentu juga mengetahui arti ungkapan “soempah serapah”, sumpah berisi kata-kata buruk.

Para tokoh penggerak bangsa tetap memberi arti agung dan sakral bagi Soempah Pemoeda. Yamin terus mempropagandakan ungkapan sumpah. Penerbitan buku Sumpah Indonesia Raja adalah bukti komitmen mengartikan “soempah” berkonteks bahasa, politik, sejarah, dan kultural. Yamin (1955) mengenang: “Keadaan sudah berputar balik, tetapi hasil jang enam dari persumpahan Indonesia Raja, 27 tahun lalu adalah kekal, jaitu: dasar kesatuan tanah-air Indonesia, rakjat Indonesia, sang merah putih, lagu Indonesia Raja, bahasa Indonesia….”

Sekarang, kita masih mengenang Soempah Pemoeda berbarengan dengan peristiwa para legislator dan birokrat mengucap sumpah dalam upacara resmi.

Mereka diharapkan menjalankan tugas secara bertanggung jawab. Pelanggaran-pelanggaran bakal membuat mereka “makan soempah” dan mendapat “soempah serapah” dari jutaan orang.

Mereka membuktikan diri sebagai manusia bijak atau manusia keji berpredikat koruptor. Oh!

*) Pengelola Jagat Abjad

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s