Dari VOC ke Bahenol

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 1 Nov 2014

Penduduk Nusantara sudah mengenal bentuk singkat kata setidaknya sejak 1602 ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Kongsi Perdagangan Hindia Timur) membuka jalan bagi masuknya imperialisme Belanda di zamrud khatulistiwa. Singkatan memuat satu unit pengertian utuh, maka ia punya perilaku persis kata. Seperti kata, kemunculan singkatan didorong oleh keperluan pengguna bahasa mendapatkan tanda atau lambang yang bisa mewakili idenya guna mengungkapkan sesuatu. Sudah tentu isi tanda atau lambang itu berpaut erat dengan zamannya.

Dalam hasil kajiannya yang luar biasa, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (cetakan V, 2009), Harimurti Kridalaksana antara lain memerikan ada 45 pola kependekan kata (abreviasi) dalam bahasa Indonesia, dengan rincian: singkatan punya 16 pola, akronim dan kontraksi 16, penggalan 6, dan lambang huruf 7 pola. Sampai hari ini kesukaan memakai singkatan semakin marak di tengah khalayak, terlebih di kalangan anak muda, dalam lisan dan tulis, lewat berbagai rupa media sosial.

Ditilik dari bentuknya, penciptaan beraneka singkatan dan akronim itu kian tak menuruti pola yang mudah kita petakan, menjadi semacam isyarat enggan patuh pada keteraturan.

Namun, sejak pemolaan oleh Harimurti hingga kini, siapatah lagi yang masih terus mengikuti dan kemudian mencatat perkembangannya? Saya pikir mungkin saja muncul sejumlah pola baru yang belum terperikan oleh upaya Harimurti Kridalaksana.

Dilihat dari kandungan maknanya, singkatan yang hidup di kalangan anak muda sangat kaya, dari pengalaman yang dekat dengan dunia mereka (GALAU: 1. gelisah antara lanjut atau udahan; 2. gue akan lakukan apapun untukmu) sampai dunia politik (parpol: persatuan artis dan politikus; PKB: paman keponakan berseteru). Semangat berseloroh, main-main, amat menonjol (selingkuh: selingan indah keluarga utuh; ARDATH: aku rela ditiduri asal tidak hamil; ATM BII: asal tidak mengandung berselingkuh itu indah; bahenol: badan hebat otak nol). Mungkin menggelikan, tetapi jelas sekali mereka mempertontonkan hasrat memberontaki segala tata aturan (asusila: asal suka silakan) sambil pada saat yang sama mengolok-olok segala apa yang menurut mereka menyalahi norma umum.

Pertumbuhan kependekan kata yang cenderung ”liar” tersebut tak heran mengakibatkan para pembela bahasa yang tertib dan majelis mencibir, mengkritik dengan keras. Di barisan terdepan, ada kelompok yang mengeras, cenderung alergi, menolak tanpa ampun kehadiran segala bentuk kependekan kata.

Sebagai artefak bahasa, tadi sudah saya singgung, kependekan kata dapat menjadi semacam dokumentasi sejarah. Pada era Sukarno, misalnya, Rocky Gerung menulis, ”Sukarno mengeksploitasi akronim untuk tujuan politik menggerakkan massa. Melalui akronim, psikologi massa dikendalikan. Ada perintah di dalamnya. Misalnya Trikora (Tri Komando Rakyat) dan Kogam (Komando Ganyang Malaysia). Atau, dalam upaya memberi sugesti pada politik massa, Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) dan Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunis)”. (lihat ”Politik dan Akronim” dalam Tempo edisi 29 September 2014). Sementara itu Hendri F. Isnaeni punya pandangan, ”Akronim . . . tumbuh subur di masa Orde Baru (baca: masa Soeharto) karena rezim represif ini membatasi hak untuk memiliki pandangan berbeda atau kebebasan berekspresi. Maurer menyebutnya ’ejekan bawah tanah’.” (lihat ”Dari SBY Sampai SDSB” dalam majalah Historia edisi 21 Desember 2010).

Sudah kita lihat, kajian Harimurti Kridalaksana yang berharga tentang bangun kependekan kata belum lagi selesai. Juga aspek semantik (pragmatik) yang meninjaunya sebagai respons penutur bahasa Indonesia terhadap situasi tempat mereka hidup. Tak berhingga banyaknya kasus baru yang muncul dalam perkembangan mutakhir.

Kedua soal ini saya pikir melayangkan undangan terbuka kepada para ahli dan pemerhati bahasa, yang berkeras memberangus, untuk menyingkap masih banyak soal di sana.

* Munsyi, Penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s