Merubah atau Mengubah?

Dessy Wahyuni*, Riau Pos, 2 Nov 2014

Berselancar di dunia maya sangat menyenangkan. Akan tetapi, ketika web browser (perangkat lunak yang berfungsi untuk menerima dan menyajikan sumber informasi) bekerja dengan lelet, kejengkelan pun timbul. Agar dapat berselancar dengan lancar, saya mengikuti saran seorang teman untuk mengganti web browser atau penjelajah di komputer jinjing saya. Untuk itu ia menyarankan saya mempelajari langkah penggantian dengan membaca artikel yang berjudul “Cara Merubah Default Web Browser Komputer”. Awalnya jidat saya agak berkerut saat membaca judul tersebut. Karena saya memilih si Rubah Api sebagai penjelajah yang konon sangat digemari saat ini, saya memaklumi kata merubah pada judul artikel yang disarankan.

Namun, keterkejutan saya berlanjut saat mengikuti sebuah seminar bahasa yang diadakan sebuah perguruan tinggi. Sang Profesor bahasa yang menjadi narasumber  mengimbau hadirin di ruangan itu dengan mengatakan, “Marilah kita merubah pola komunikasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar.”

Merubah merupakan sebuah kata yang mengalami proses afiksasi, yaitu proses penambahan afiks pada kata dasar. Kata kompleks yang terbentuk itu tentu saja memiliki makna baru. Pada kata merubah, terjadi proses pengimbuhan yang diletakkan di depan kata dasar (prefiks). Hal serupa juga terjadi pada kata membabi, mengular, menyemut, dan juga membeo.

Perhatikan beberapa kalimat berikut ini.

(1) Massa memukuli penjambret yang nekat itu secara membabi buta.
(2) Antrean orang membeli tiket konser Iwan Fals mengular seketika.
(3) Anak-anak menyemut mengelilingi Super Junior yang berkunjung ke mal itu.
(4) Rafa, anak yang masih berusia setahun itu, hanya membeo omongan ibunya.

Membabi memiliki kata dasar babi ‘binatang menyusui yang bermoncong panjang, berkulit tebal, dan berbulu kasar’ (KBBI, 2011:108).  Apabila diberi prefiks {me-}, babi yang semula adalah nomina berubah menjadi verba membabi ‘bertingkah laku seperti babi’ (KBBI:2011:109).

Begitu pula halnya dengan mengular, yang memiliki kata dasar ular ‘binatang melata, tidak berkaki, tubuhnya agak bulat memanjang, kulitnya bersisik, hidup di tanah atau di air, serta ada yang berbisa dan ada yang tidak’ (KBBI, 2011:1521). Ketika kata ini diberi prefiks {me-} akan berubah menjadi mengular ‘memanjang seperti ular atau berkelok-kelok seperti ular (berjalan)’ (KBBI, 2011:1522).

Kata menyemut pun mengalami hal yang sama. Dengan kata dasar semut, jika diberi prefiks {me-} berubah menjadi verba menyemut. Serangga kecil yang berjalan merayap dan hidup secara bergerombol (KBBI, 2011:1265) ini, akan berubah maknanya menjadi berkerumun (KBBI, 2011:1266) dalam jumlah yang banyak bagaikan sifat semut yang kerap bergerombol.

Membeo ‘berbuat seperti burung beo dengan meniru saja perkataan (ucapan) orang lain (tanpa memahami maksudnya)’ adalah bentukan kata verba yang berasal dari beo diberi prefiks {me-}. Maka, orang yang dikatakan membeo memiliki sifat yang sama dengan burung berbulu hitam berkilau yang dapat dilatih menirukan bebunyian (KBBI, 2011:174) ini.

Tidak hanya itu, membebek yang memiliki kata dasar bebek ‘itik’ (KBBI, 2001:119) juga bermakna ‘berlaku seperti bebek; mengikuti saja pendapat orang lain tanpa berpikir (hanya meniru orang lain)’ ketika diberi prefiks {me-}. Begitu pula halnya dengan menggurita, bila diberi prefiks {me-} berarti ‘melilit sesuatu dengan kuat, seperti tangan-tangan gurita—hewan jenis cumi-cumi dengan nama latin onychoteuthis engulata’ (KBBI, 2001:377). Kata gajah ‘binatang menyusui berbelalai, bergading, berkaki besar, berkulit tebal, berbulu abu-abu (ada juga yang putih), berdaun telinga lebar, dan hidupnya bergerombol di hutan’ juga mengalami hal yang sama. Jika kata ini diberi prefiks {me-} akan berubah menjadi menggajah ‘menyerupai gajah yang tampak besar’ (KBBI, 2001:327).

Dari beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa nomina yang menunjukkan nama binatang apabila diberi prefiks {me-} akan berubah menjadi verba yang bermakna memiliki sifat yang sama dengan nama binatang yang dirujuk. Tentu saja hal ini juga terjadi pada merubah, merupakan bentukan kata yang berasal dari nomina rubah yang mendapat prefiks {me-}. Oleh sebab itu, merubah dapat diartikan mewujud atau bertingkah laku seperti rubah ‘binatang jenis anjing, bermoncong panjang, dan makanannya adalah daging, ikan, dsb.’ (KBBI, 2011:1186).

Jika demikian, apakah merubah ini yang dimaksudkan sang Profesor dalam seminar bahasa tersebut? Benarkah pola komunikasi yang baik dan benar itu berlaku seperti rubah? Barangkali yang dimaksud profesor itu adalah mengubah ‘menjadikan lain dari semula, menukar bentuk, atau mengatur kembali’ yang merupakan bentukan verba dari nomina ubah ‘tukar, ganti’ (KBBI, 2011:1514) yang mendapatkan prefiks {me-}.

Lantas, masihkah kita ingin merubah?

*) Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau

Iklan

2 thoughts on “Merubah atau Mengubah?

  1. akhirnya ada juga orang bahasa yang peduli dg kesalahan konyol ini. dosen saya pernah meralat dan mengatakan hal yg sama, sayangnya seperti ya cuma saya yg memperhatikan dan mengingatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s