Beragam Sumpah

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 15 Nov 2014

Dapat dipastikan, satu dari sedikit lema dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna berbeda walaupun bentuknya sama adalah sumpah. Sayangnya, kenyataan ini juga diiringi dengan masalah cukup besar, terutama disebabkan sikap cuai, yakni kurang perhatian terhadap sesuatu walaupun mungkin mengetahuinya sehingga acap kali sesuatu yang berkaitan dengan objek perhatian tersebut jadi terlupakan.

Alkisah, pada satu sisi, kata sumpah dapat bermakna sebagai ikrar untuk meyakinkan bahwa seseorang atau sekelompok orang melakukan sesuatu dan berseteguh pada satu perkara. Hal ini begitu terkenal dalam musim pelantikan wakil rakyat terpilih di DPRD kabupaten atau kota, provinsi, bahkan DPR-RI. Mereka dilantik sebagai anggota di lembaga tersebut, periode 2014-2019, ditandai dengan pembacaan sumpah.

Pada sisi lain, sumpah dapat bermakna kutukan sebagaimana dituturkan dalam cerita-cerita rakyat seperti Dedap menjadi pulau karena disumpah ibu kandungnya atau Malin Kundang menjadi batu akibat disumpah perempuan yang melahirkannya. Mendapat akhiran -an, sehingga menjadi sumpahan, kata ini menyarankan pengertian terhadap hasil sumpahan dalam golongan benda. Apalagi kalau kata sumpah diikuti oleh lema seranah dan serapah yang maknanya amatlah berbeda.

Bandingkanlah dengan lema lain seperti kata makan yang walaupun diberi akhiran -an, menjadi makanan, tetap memiliki sifat makna dasarnya, yakni sesuatu yang dapat dimakan. Ketika ditambah kata lain pun, misalnya menjadi frasa makan semen, sifat makna dasar dari makan tidak jauh bergerak, sebagai kiasan rakus—makan dengan rakus.Berbeda sekali makna kata sumpah yang diucapkan wakil rakyat dengan tindakan kedua perempuan dalam cerita rakyat di atas, padahal bentuk dari kedua maksud kata ini tidak berubah, tetap terdiri atas lambang bunyi s, u, m, p, a, h.

Sebatas sumpah sebagai ikrar dan sumpah sebagai kutukan, dilengkapi dengan tambahan akhiran -an, kita memang tidak menemui masalah. ”Namun, masalahnya cukup besar ketika kata sumpah ditambah dengan seranah atau serapah dalam bahasa Indonesia,” tulis kawan saya, Abdul Wahab, dalam SMS telepon genggam yang dikirimkannya kepada saya.

Saya langsung menangkap masalah yang dikatakan sahabat lama yang bertempat tinggal di sebuah pulau dalam kawasan Selat Melaka itu. Pertama, bahasa Indonesia sebagaimana tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak membedakan antara frasa sumpah serapah dengan sumpah seranah. Padahal, dalam bahasa Melayu Riau sebagai sumber bahasa Indonesia, makna kedua frasa tersebut amat berbeda. Selain itu, makna yang diberikan kepada frasa sumpah serapah dalam bahasa Indonesia amat tidak sejalan dengan bahasa Melayu Riau.

Dalam bahasa Indonesia disebutkan bahwa sumpah serapah menjurus pada pengertian marah-marah, makian, dan sejenisnya, yang di dalam bahasa Melayu Riau justru disebut dengan istilah sumpah seranah. Kumpulan kata sumpah serapah dalam bahasa Melayu Riau menyarankan pada pengertian melafalkan mantra untuk suatu keperluan. Jauh sekali perbedaannya, bukan? Tak ada benang merah penghubung antara maki-makian dengan mantra, bukan?

Akhirnya, tak berlebihan kalau kemudian dikatakan bahwa melalui kasus ini pun bahasa Indonesia kembali memiskinkan khazanah yang dimiliki bangsanya sendiri sehingga arah perkembangan bahasa nasional semakin tidak jelas. Aneh, memang.

* Duduk di Riau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s