Etiketis

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Nov 2014

”Ahok tidak beretika politik!” ”Tindakan dan perkataan Ahok tidak etis!” Demikian caci dan cemooh kepada Basuki T. Purnama, gubernur Jakarta, atas kata-kata atau sikapnya yang tidak berkenan di hati para pengkritik.

Yang mereka maksud, tentu saja, sama sekali bukan etika, tidak ada hubungan dengan baik-jahat, atau dengan benar-salah moral. Yang ingin mereka katakan berkaitan dengan kesopanan, kepantasan, atau tradisi non-legal, yakni etiket.

Etiket bergantung pada kelompok manusia yang menjunjungnya, berbeda dari tempat ke tempat dan berubah dari zaman ke zaman.

Anak bicara keras kepada orang dewasa di Timur biasanya berarti kurang ajar, di Barat keberanian. Ajakan makan tanpa tawaran makanan hanya dianggap sopan di sini, tidak di sana.

Tidak ada urusan tepat-keliru dengan etiket yang beragam dan sebagian bertolak-belakang itu. Peribahasa Melayu, ”di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, berlaku untuk semua dan setiap aturan etiket. Di zaman dan tempat suatu etiket dijunjung, di situ ia berlaku. Di tempat dan zaman suatu etiket ditolak atau tidak dikenal, tiadalah ia berlaku. Ketika situasi menuntut, jalankan. Situasi berubah, lupakan. Demikianlah normal.

Etika sebaliknya bersifat universal, secara prinsip berlaku di mana-mana dan sepanjang zaman.

Pembunuhan sewenang-wenang dan perampokan selalu dinilai jahat di muka bumi. Pemberian air kepada orang haus dan tumpangan kepada pengelana miskin adalah tindakan baik di mana pun dan kapan pun diwujudkan.

Pengetahuan atau kesadaran etis tentu bisa terbatas. Ada orang berlaku jahat tanpa tahu tindakannya jahat. Tidak berarti tindakan itu harus dianggap baik. Hampir semua masyarakat manusia di zaman pra-modern menganggap perbudakan bukan kejahatan. Tidak berarti perbudakan pernah kebaikan. Kesadaran etis telah berkembang. Dulu tidak tahu itu jahat, sekarang tahu, tapi dari dulu pun itu sudah jahat. Pada sebagian masyarakat sekarang memotong habis klitoris, bahkan labia, perempuan dianggap lumrah. Tidak berarti bagi mereka tindakan itu menjadi etis. Mereka merasa benar di lingkungan mereka, tapi tindakan mereka tetap jahat. Ada atau tiada polisi, kejahatan tetap jahat, kebaikan selalu baik. Demikianlah universalitas etika tetap berlaku bagi mereka yang tidak tahu dan yang menolaknya sekali pun.

Etika (Inggris ethics) berarti ilmu, prinsip, sistem, atau motivasi moral, dari bentuk jamak Yunani ta ethika, yang berarti karakter moral (yang baik, yang seharusnya). Etik yang agak jarang dipakai biasanya disamaartikan dengan etika dalam pemakaian umum.

Etiket dari Prancis étiquette. Arti asalinya tiket. Ya, seperti yang dijual di stasiun itu. Jangan kacaukan dengan e-tiket, tiket elektronik ciptaan zaman komputer. Lantas, apa hubungan tiket dengan sopan-santun? Di istana banyak protokol resmi yang rumit-rumit. Penghuni istana pun tidak hafal semua. Maka, dituliskanlah berbagai aturan itu pada lembar-lembar kertas kecil serupa tiket atau label, yang gampang dipelajari dan diacu setiap saat. Begitulah etiket pun berarti catatan kecil berisi aturan kesopanan yang diwajibkan di dalam istana. Dalam bahasa Inggris makna yang tertinggal adalah isi catatannya saja, yakni, rutinitas yang sudah ditentukan untuk situasi tertentu.

Sejarah konsep keduanya pun berbeda. Etiket sudah dituliskan pada sekitar 2300 SM di Mesir, berisi nasihat cara menjadi anggota masyarakat yang baik. Sedangkan kesadaran etis, walaupun ada serpihan catatannya di sana-sini sejak awal sejarah, secara tegas dan distingtif baru mulai dipenakan, sebagai prinsip yang tidak boleh dinegasikan oleh perasaan atau keyakinan non-etis apa pun, oleh nabi-nabi Ibrani sejak abad ke-8 SM. Mereka rajin mengkritik penguasa, orang kaya, dan imam, warga masyarakat terhormat yang saleh, rajin ibadah, sopan dan ramah, dan pada saat yang sama tega menindas orang miskin dan menjatuhkan putusan tidak adil kepada orang lemah. Bahkan Tuhan sekali pun oleh mereka dianggap tidak boleh/akan melanggar prinsip etis! Itulah makna ungkapan Mahabaik, tidak bisa jahat.

Kata sifat Inggris ethical menjadi etis. Tapi, apa kata sifat etiket? Tentulah etiketis, dari etiquettical. Jadi, marilah kita bedakan etis dan etiketis, agar bisa kita dengar politikus berdialog lebih cerdas dan tajam seperti berikut:

”Sudilah Bapak Ahok yang terhormat berbicara secara etiketis seperti saya,” kata si pengkritik dengan suara lembut sambil mendelik.

”Sebodo amat ame lu, politikus korup gak etis,” jawab sang gubernur lantang sambil senyum berdekik.

* Penulis biasanya sangat etiketis sehabis terima honor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s