Herstory dan Perjuangan Emansipasi

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 15 Des 2014

Telah begitu lama sejarah ditulis oleh lelaki. Atau setidaknya dari sudut pandang lelaki. Orang yang belajar gender tentu paham itu. Kita rasanya tidak menemukan perempuan penulis sejarah yang sezaman dengan Herodotus atau Josephus. Baru di era modern, wanita mulai menulis sejarah. Itu pun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding pria. Latar belakang ini membuat para feminis di Amerika memperkenalkan kata “herstory”. “History” dianggap terlalu lelaki. His story, kisahnya (dia, lelaki). Untuk memberi perimbangan perspektif perempuan, ditawarkanlah istilah baru “herstory”. Kisahnya (dia, perempuan). Apa yang bisa dibaca di sini?

Bahasa adalah permainan yang bisa bersifat politis.

Orang mengusulkan kata—kadang dengan cara main-main—sebagai tawaran sikap atau pemikiran. Contohnya kasus “herstory” tadi. Si pengusul mengganti “his” dengan “her” karena kata “his” adalah kata ganti kepemilikan untuk lelaki, dan “her” untuk perempuan. Dalam bahasa Inggris tentu saja. Permainan itu (hanya) memperhitungkan konteks bahasa Inggris.

Yang dilupakan, history adalah serapan dari bahasa Yunani: istoria. Dalam bahasa asalnya, kata ini tak bisa dianalogikan dengan is-storia sama sekali. Kata ganti kepemilikan Yunani untuk lelaki juga bukan “is” atau “his”. Dalam bahasa Yunani, orang tak bisa membayangkan “istoria” sebagai his + story. Berlaku gramatika yang berbeda sama sekali. Bahasa Prancis juga menyerap kata yang sama menjadi “histoire”, dan tak membayangkan “his” sebagai kata ganti lelaki.

Penyerapan “istoria” (Yunani) ke “history” (Inggris) adalah masalah diakronis (hubungan dalam sejarah). Relasi antara “his” dan “story” di dalam bahasa Inggris adalah masalah sinkronis (hubungan antara elemen yang hadir bersamaan). Jadi, dalam praktek bahasa, kita tak berbicara mengenai mana yang benar secara universal, mengatasi ruang dan waktu. Ini sudah jadi percakapan panjang para linguis. Kita berbicara di dalam konteks bahasa masing-masing belaka.

Contoh yang serupa barangkali adalah kasus “wanita” dan “perempuan”. Para feminis sejak paruh akhir era Soeharto mengganti kata “wanita” dengan “perempuan”. Yang terakhir dijelaskan berasal dari “per-empu-an”. Artinya, yang diempukan. Sungguh lebih bermartabat daripada kata “wanita”, yang konon berasal dari “wani ditata” (bahasa Jawa, artinya “berani diatur”). Perjuangan ini patut dihargai. Tapi penjelasannya jangan ditelan mentah-mentah.

Bahwa “wanita” berasal dari “wani ditata” itu pun konon saja. Itu kan utak-atik-gathuk kaum patriarkal Jawa. Sebetulnya, kita juga bisa bilang wanita itu “wani nata” (berani memerintah). Jadi, tanpa harus menggusur kata “wanita”, kita memaknainya ulang.

Justru dengan menghilangkan kata “wanita”, kaum feminis bisa terjebak dalam tafsir tunggal patriarki.

Saya bisa mengerti latar belakangnya. Setidaknya, pemerintah era Soeharto memang cenderung membuat kata “perempuan” jadi pejoratif dan menganggap kata “wanita” lebih mulia. Dalam perjuangan, seperti biasa, cara paling jitu membongkar kekuasaan adalah dengan membalikkannya. Yang semula dihinakan, kini dimuliakan. Tapi, sebaiknya, jangan terlalu lama terbenam dalam modus membalikkan kekuasaan itu. Nanti kita terjebak dalam sikap dogmatis sendiri.

Sudah waktunya para feminis berdamai dengan kata “wanita” dan menerimanya sebagai netral kembali. Ingatlah, jika kata itu bisa ditafsirkan sebagai “wani ditata”, ia juga bisa ditafsirkan sebagai “wani nata”—dan permainan tafsir ini tak membawa kita ke mana-mana kecuali ada perjuangan di wilayah riil.

Mengenai bahasa: bahasa adalah permainan, sebab aturan-aturannya selalu bisa dinegosiasi ulang. (Dengan catatan, permainan yang baik adalah yang sportif.)

Bahasa adalah politik, sebab negosiasi itu memerlukan kekuatan dalam pelbagai bentuknya. Pertanyaan sederhana tentang mana yang benar, history atau herstory, wanita atau perempuan, boleh dijawab dengan cerita panjang tentang perjuangan emansipasi yang semoga tidak dogmatis.

Kita justru harus berjuang untuk mengatasi stigma; bukan menghilangkan dia yang diberi stigma itu.

* Penulis dan Kurator Salihara

2 thoughts on “Herstory dan Perjuangan Emansipasi

  1. Ping-balik: Revolusi Bahasa dalam Politik Gender | Rubrik Bahasa

  2. Herstory dan Perjuangan Emansipasi

    “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi) kata Shakespeare.

    Penjara bertukar kulit menjadi Lembaga Pemasyarakatan. Narapidana berganti baju menjadi Warga Binaan. Apakah lantas masyarakat menjadi lebih baik? Kenyataannya Lapas over kapasitas disesaki oleh “warga” yang ingin dibina oleh Sipir, mengesampingkan dibina oleh Guru-guru dari Lembaga Pendidikan bermutu.

    Indonesia adalah “Negara politisi” pencari retorika penuh “ambigu” Pengumbar kata tanpa makna! Melihat tanpa menatap, berkata tanpa berbicara. Lebih tertarik kepada tampak luar daripada menata sisi dalam.

    Gerakan Emansipasi berujung kepada statistik kuantiti semata tanpa mencari makna hakiki. Emansipasi dikatakan membaik ketika statistik menunjukkan angka, kemampuan Wanita sudah mendekati kemampuan Lelaki. Lalu apakah dunia ini semakin membaik? Ternyata tidak! Emansipasi Wanita tidak membuat dunia semakin membaik, karena letak persoalannya bukan pada masalah emansipasi! Itulah sebabnya wanita penghuni Lapas bertambah belasan kali lipat dibanding empat puluh tahun yang lalu!

    Saya tidak ingin melihat segala sesuatunya dari sudut “gender” Adakah seorang lelaki tanpa seorang wanita? Adakah seorang wanita tanpa seorang lelaki? Kalau wanita bisa menjadi seorang presiden, tidak bolehkah seorang lelaki berbelanja, memasak, mengurus anak sekalian bekerja?

    Ah… saya hanya seorang pencari makna dan penyuka kehidupan…
    Ketika hati berpaut dan mata saling menatap, terkadang tidak diperlukan sebuah katapun. Karena Kata yang tersedia tidak mampu untuk mengungkapkan seluruh makna, Kata sering menggerus makna…

    Reinhard Freddy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s