Doenia

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 5 Jan 2015

Ilustrasi: themarketingsage

Seabad silam, Marco Kartodikromo menerbitkan surat kabar bernama Doenia Bergerak. Pilihan nama menjelaskan kesadaran bahasa, politik, dan jurnalistik. Penerbitan Doenia Bergerak di Solo juga menjadi sindiran bagi para raja di Jawa. Marco Kartodikromo adalah pemuja modernitas, meremehkan hal-hal kuno dan feodalisme. Di Jawa, para raja biasa menjuluki diri sebagai Paku Buwono dan Hamengku Buwono. Raja adalah pusat atau pemangku “buwono”. Kita bisa mengartikan “buwono” sebagai jagat atau dunia. Pengertian sakral dan politis bagi orang Jawa itu diterjang oleh istilah “doenia”. Marco Kartodikromo merasa zaman telah berubah atau bergerak. Hidup memerlukan bahasa baru agar orang-orang bisa membebaskan diri dari kuasa kaum feodal dan kolonialisme. Ben Anderson (2008) menganggap penggunaan istilah “doenia” dalam pers kaum bumiputra ingin mengubah tatanan kehidupan lama.

Marco Kartodikromo tentu ikut menggunakan istilah “doenia” demi kepentingan pers, politik, dan sosial-kultural. Istilah “doenia” bukan penemuan pada abad XX. Sejak ratusan tahun silam, istilah itu telah masuk ke pelbagai teks sastra lawas dan terjemahan kitab suci di Nusantara. Kita mengingat penggunaan istilah “doenia” dalam “Sjair Paska Anak Domba Allah Menanggoeng Dosa Isi Doenia Serta Membajar Korban Perdamean Allah-Ta-Allah” gubahan pujangga berinisial R. Puisi dimuat di Bintang Djohar edisi 12 April 1873. Sang pujangga menulis:

Karna soedah sampe waktoe,
Toehan misti meninggal doenia,
Takdir Allah soeda tamtoe,
Menoeroet kahendak Toehan Allah

Waktoe Ija maoe meninggal,
Toehan berkata suda tamat!
Oleh Isa anak jang tinggal,
Jang di doenia dibri salamat.

Istilah “doenia” dalam dua bait puisi itu berarti tempat hidup atau kehidupan tak abadi. Kita menemukan makna “doenia” berkonteks agama.

Puisi-puisi lawas telah mencantumkan istilah “doenia” meski tak semoncer saat digunakan Marco Kartodikromo sebagai nama surat kabar. Kita pun mengingat tahun 1914 adalah episode penting dalam pergerakan politik kebangsaan, penguatan peran pers, dan pesona bahasa baru. Para jurnalis, pendidik, sastrawan, dan intelektual bergairah menulis dan mengucap “doenia” untuk pelbagai kepentingan. Kejutan besar terjadi saat Sutan Takdir Alisjahbana menerbitkan Poedjangga Baroe (1933). Ide dan imajinasi kaum bumiputra mulai menimbulkan polemik yang berkaitan dengan pilihan kiblat peradaban. Sutan Takdir Alisjahbana (1935) mengajukan propaganda: “Bangsa kita perloe alat-alat jang mendjadikan negeri-negeri jang berkoeasa di doenia jang dewasa ini mentjapai keboedajaannja jang tinggi seperti sekarang: Eropah, Amerika, Jepang.” Para pembaca diajak mengandaikan ada dalam pergaulan bangsa-bangsa. Istilah “doenia” perlahan mengandung pengertian geografi, martabat peradaban, dan keunggulan ilmu. “Doenia” juga hampir berarti Barat, mengacu ke ajakan Sutan Takdir Alisjahbana: “Dan, sekarang ini tiba waktoenja kita mengarahkan mata kita ke Barat.”

Masa 1930-an berganti dengan masa 1940-an. Orang-orang Indonesia semakin mengerti “doenia”, bersumber dari berita, pidato, puisi, lagu, film, dan novel. Pengertian tentang “doenia” tak melulu berkaitan dengan Perang Dunia II. Orang-orang juga mengartikan “doenia” dalam misi mengembangkan sastra modern di Indonesia. Para sastrawan ingin membebaskan diri dari paham sastra lawas masa 1920-an dan 1930-an. Mereka telah membaca teks-teks sastra dari Belanda, Prancis, Jerman, Inggris, Rusia, Tiongkok, Arab, dan Amerika Serikat. Sastra di Indonesia mesti berubah dengan penerimaan pengaruh sastra dari pelbagai negeri. Pengertian “doenia” menguat dalam teks bersejarah susunan Asrul Sani berjudul Surat Kepertjajaan Gelanggang, 18 Februari 1950. Alinea awal sangat mengesankan: “Kami adalah ahli waris sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan tjara kami sendiri.” Kaum sastrawan mulai menjuluki diri sebagai “kumpulan tjampur-baur dari mana dunia-dunia baru jang sehat dapat dilahirkan”.

Sejarah istilah “doenia” terus bergerak. Pada 1950-an dan 1960-an, Indonesia kebingungan mendefinisikan diri dalam politik, identitas, sastra, pendidikan, ekonomi, dan revolusi. Kita bisa mengingat gejolak-gejolak itu melalui kumpulan tulisan di buku berjudul Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965 (2011) dengan editor Jennifer Lindsay dan Maya H.T. Liem. Istilah “doenia” berubah ejaan menjadi “dunia”, tapi tetap memberi godaan untuk pemaknaan tak usai. Pers, sastra, film, musik, teater, dan lukisan semakin menjelaskan persaingan pemaknaan “dunia” berlatar ketegangan politik dan kemajuan peradaban di Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika. Kita tentu tak boleh melupakan kamus-kamus untuk mengetahui perkembangan pengertian. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) mengartikan “dunia” sebagai “djagat tempat kita hidup ini”, “alam kehidupan”, “kehidupan jang tidak kekal ini”. Pengertian dalam kamus tentu tak sekencang dalam tulisan atau obrolan kaum politik, wartawan, seniman, dan ulama. Oh!

* Kritikus Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s