Pesona Bicara Canggih

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 10 Jan 2015

Kata memesona, kita sama tahu, bersaudara kandung dengan memukau. Keduanya punya daya yang bikin orang senang, jatuh cinta, kagum, takjub, tergila-gila pada sesuatu. Bagi saya, dan bagi penutur bahasa Indonesia zaman sekarang umumnya saya kira, dua kata ini pertama-tama mengantarkan makna mencuri hati. Namun, siapa nyana bahwa pada satu saat dalam satu kurun di masa lampau pengertian seperti itu adalah makna yang ditambahkan kemudian. Artinya, mencuri hati bukan arti yang pertama, mengingat keduanya punya lebih dari satu arti. Penjejeran arti inilah yang masih kita lihat pada pemerian oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia hingga edisi IV (2008, seterusnya disebut KBBI)—jika kita periksa dalam hubungannya dengan kata dasar keduanya.

Baca saja takrif pesona dan pukau dalam KBBI:

pesona n 1 guna-guna; jampi; mantra (sihir); 2 daya tarik; daya pikat

pukau n 1 ki tepung (dr biji kecubung dsb) yg dipakai untuk memabukkan atau menyebabkan orang tidur nyenyak (dipakai oleh pencuri); 2 daya tarik; pesona.

Perlu segera saya susulkan sedikit catatan. WJS Poerwadarminta tidak menyatakan arti pertama pukau sebagai ”ki (kiasan)”, tetapi ”sb (sebangsa) tepung dst” dan Bapak Kamus Bahasa Indonesia itu pun belum menyertakan arti kedua baik pesona maupun pukau (periksa Kamus Umum Bahasa Indonesia, cet IV, 1966). Menurut KBBI, memesona ’sangat menarik perhatian’; ’mengagumkan’, dan memesonakan 1 ’mengenakan pesona (kpd)’; ’menjampi’; 2 ’mengagumkan’; ’memukau’. Lalu, memukau 1 ’menggunakan pukau (untuk memabukkan atau membius orang)’; 2 ki ’mengakali’; ’menipu’; 3 ’menarik hati’; ’memesona’; 4 ’mengagumkan’.

Karena memesona dan memukau sekarang pertama-tama mengantarkan pengertian ’mencuri hati’, bukan lagi ’menjampi-jampi’ atau ’membius dengan niat jahat’, tidakkah jadi terasa ganjil bagi kita urut-urutan makna pesona, pukau, dan memukau tadi? Akal sehat membimbing kita sampai pada pengertian bahwa dari sekian arti kata dalam kamus, tidak bisa tidak pengguna punya, atau bertolak dari, anggapan bahwa arti kata paling sahih adalah pemerian yang tersaji dalam arti pertama.

Maka, mengapa tata urut itu tidak dibalik, diselaraskan dengan makna yang sudah bergeser?

Kita lihat contoh lain. Pemerian bicara oleh KBBI (masih) seperti ini:

1 n ’akal budi’; ’pikiran’: dl menghadapi segala hal selalu dipergunakan budi — nya; 2 n cak ’perundingan’: rasanya tidak perlu diadakan — lagi; 3 v ’beperkara’; ’berurusan’: orang yg membawa barang larangan itu akan dibawanya — kpd hakim; 4 n kl ’pertimbangan pikiran’; ’pendapat’: spt — Tuan, hamba pun demikian; pd — patik; 5 v cak ’berbahasa’; ’berkata’: sedikit — banyak bekerja; 6 a ’sedang dipakai untuk bercakap (dl telepon)’: sudah tiga kali saya menelepon, tetapi selalu dijawab ” — ”; 7 a cak Jk ’tanggung’, ’tentu (pasti)’: kata penjual durian itu, ” — ” tebal dan manis.

Bukankah kini bicara pertama-tama berarti berbahasa, berkata, sebuah kata kerja yang menjadi arti kelima di sana, bukan kata benda? Mungkin juga nomina, tetapi saya pikir bukan ’akal budi’; ’pikiran’ melainkan ’perkataan’, atau bisa juga ’pembicaraan/perundingan’.

Tampaknya tak sedikit kasus yang menunjukkan rasa enggan atau alpa kamus resmi bahasa Indonesia di dalam mengikuti dan kemudian merekam perubahan makna sebagaimana tecermin dalam tata urut polisemi.

Setidaknya sepanjang dua tahun terakhir, ini contoh lain lagi, kata canggih amat populer. Tentu bukan dalam arti ’bawel’ seperti KBBI menyajikannya:

1 ’banyak cakap’; ’bawel’; ’cerewet’; 2 ’suka mengganggu (ribut)’; 3 ’tidak dl keadaan yg wajar, murni, atau asli’; 4 Tek ’kehilangan kesederhanaan yg asli (spt sangat rumit, ruwet, atau terkembang)’; 5 ’banyak mengetahui atau berpengalaman (dl hal-hal duniawi)’; 6 ’bergaya intelektual’.

Dengan sedikit bawel sebab menyertakan sekian kutipan di sana-sini, tetap saya mesti akui, ada jejak Sutardji Calzoum Bachri dalam ”Pesona Bicara Canggih”, judul tulisan ini. Marilah di menit ini kita menengok pemerian kata jejak di kamus sebab jangan-jangan ….

* Munsyi, Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s