Tikus dan Jam Karet

Yanwardi*, KOMPAS, 17 Jan 2015

Dalam perkembangan ilmu bahasa sekarang ini, makna diyakini berada dalam pikiran manusia, sejalan dengan pengalaman hidup individu masing-masing. Namun, makna ini tetap terkait dengan konvensi masyarakat penutur suatu bahasa sehingga makna tersebut bisa berfungsi secara sosial.

Kompas terbitan Selasa, 9 Desember 2014, di halaman satu, memuat foto patung tikus besar dalam konteks korupsi. Tikus dalam pikiran masyarakat kini bukan hanya merujuk pada ’binatang kecil yang suka mengerat’ saja, melainkan juga memiliki makna ’koruptor’. Pengertian tersebut lahir secara metaforis dalam pikiran, yakni hasil dari pemahaman konsep organisme (tikus dengan segala sifatnya) terhadap organisme lainnya (koruptor). Prinsip pemetaannya berdasarkan kesamaan atau kemiripan. Untuk konteks ini, tikus adalah binatang yang merugikan, suka menggerogoti apa saja, memakan apa saja, mengotori, dst. Konsep-konsep itulah yang dikaitkan dengan sifat koruptor. Lebih jauh, dalam kerangka pengalaman ini, hadir metafora turunan dari ”koruptor adalah tikus”: menggerogoti uang negara, memakan uang negara, menghabiskan uang negara, dst.

Metafora memang bukan sekadar gaya bahasa atau berfungsi dekoratif saja sekarang, melainkan menjadi fondasi berpikir manusia.

Karena itu, metafora menjadi kajian utama dalam linguistik kognitif. Dua tokohnya, Lakoff dan Johnson, berpendapat bahwa metafora hadir dalam kehidupan sehari-hari manusia lewat pikiran dan tindakannya. Ketika ke kantor terlambat, kita bisa dikenai sanksi pemotongan uang. Sebaliknya, jika tepat waktu atau lebih awal datang ke kantor, kita akan diganjar uang. Gejala itu bergerak dari metafora: waktu adalah uang.

Sekalipun datang dari kebudayaan Barat, time is money, berkat globalisasi dan tuntutan zaman, metafora ini merasuk dalam kehidupan sehari-hari kita. Metafora-metafora turunannya tak mengherankan jika lahir: menghemat waktu, menghabiskan waktu, memakan waktu, tepat waktu, dst, yang kesemuanya berangkat dari konsep ”waktu adalah uang”. Namun, agaknya metafora itu belum menjadi nilai-nilai bersama yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari atau belum menjadi budaya kita sepenuhnya. Dalam budaya kita banyak sekali metafora dan ungkapan yang memperlihatkan perbenturan dengan ”waktu adalah uang”, misalnya, jam karet, masih ada hari esok, biar lambat asal selamat, waktunya masih panjang, jangan terburu-buru, dst. Dari jam karet, lahirlah metafora mengulur-ulur waktu, acaranya mulur, waktunya luwes, dst. Bergeraknya dua metafora di pikiran seseorang tampak dalam tindakan sehari-hari yang sering bertolak belakang, misalnya, ingin menghemat waktu tapi datangnya mulur, ingin mendapat hadiah tapi datang ke kantor terlambat, dst.

Dari kasus di atas, tampak makna dan metafora, karena berada dalam pikiran manusia, bisa dimanfaatkan, misalnya, untuk alat sindiran membangkitkan rasa (malu) agar orang tidak berbuat seperti yang dikiaskan dalam metafora (tikus/koruptor). Sementara itu, kasus metafora ”waktu adalah uang” dan jam karet memperlihatkan bahwa metafora saling berkaitan dengan budaya. Sebab itu, penciptaan dan pemungutan metafora harus diarahkan kepada konsep-konsep positif. Jika tidak, akan terjadi tindakan dalam kehidupan sehari-hari yang menyimpang dari norma dan kepatutan, misalnya, para politikus datang tidak tepat waktu alias jam karet.

* Editor Yayasan Obor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s