Mudik, Hilir, dan Balik

Beni Setia*, KOMPAS, 24 Jan 2015

PENGALAMAN 25 tahun hidup di tengah budaya Jawa membuat saya terkadang berpikir, mudik itu akronim menuju ke udik. Sebuah kerangka berpikir biner, yang mengontraskan pedalaman yang ketinggalan dan agraris dengan kota yang modern dan bersifat industrial dengan pekerja formal dan informal yang mengelilingi dan menunjang buruh yang dibayar murah. Saya curiga, narasi ini tak bermula dari riset lapangan dan penjelajahan bacaan, melainkan melulu hasil akrobat kata ala Jawa, uthak-athik gathuk, kutak-kutik (tapi) ngepas.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat mengartikan mudik sebagai ’(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)’ dan ’pulang ke kampung halaman’. Ajaibnya, istilah mudik dalam benak orang Indonesia saat ini lebih menuju ke rumusan kedua, melulu harus lewat pengangkut darat—sebagian lagi udara—dan tidak pernah terkait dengan rumusan pertama yang amat terkait dengan budaya maritim, dengan pelayaran antarpulau dan dalam pulau memanfaatkan sungai. Mungkin kesadaran itu yang menyebabkan tol dibangun dan terus diperpanjang; jalan dilebarkan; jembatan dikukuhkan; jalur alternatif dipermulus dan dijaga piket polisi, perhubungan, dan PMI; SPBU diperbanyak; dan rest area serta posko mudik dijejerkan per sekian kilometer.

Alam pikir kita hanya di darat: melulu tentang mobil dan sepeda motor pribadi yang bisa dikaitkan dengan kekayaan, status sosial, bahkan iklan; bus; serta kereta api. Lantas berkelindan pula dengan upah si teknisi perakitan kendaraan dalam negeri yang dibayar murah sehingga sering memicu demonstrasi, showroom megah, sistem jual-beli kredit, serta sistem politik negara kesejahteraan yang wujudnya itu banyak memberi subsidi BBM, listrik murah, dan subsidi beras di sisi lainnya. Semua itu bersifat di darat, bertautan dengan jalan serta kredit kendaraan murah sehingga kemacetan pada jam sibuk dianggap problem terbesar perkotaan—bukan kemiskinan dan polusi.

Karena berorientasi kota, dengan simbol kemakmuran jalan beraspal dan kepemilikan kendaraan, diksi mudik—yang sangat dijalinkan dengan fakta idul fitri setelah satu bulan kamariah melakukan ibadat siam bulan Ramadan—tak pernah dikaitkan dengan pasangan sembabat berkonteks maritimnya: hilir. Menghilir, ya, menuju ke atau kembali ke hilir sungai.

Hilir oleh KBBI diartikan sebagai ’bagian sungai sebelah muara’ dan ’daerah sepanjang bagian muara sungai (daerah pesisir)’. Tidak ada aura maritim, dalam pengertian sempit pelayaran dan tak mutlak di laut, malah yang kemudian muncul justru diksi balik, bahkan arus balik, yang tidak ada sangkutannya dengan pasang surut di pesisir atau gerak air. Istilah itu kini bermakna: banyak orang yang kembali ke kota, ke kerja industri sebagai buruh, ke kerja formal PNS dan informal di jalan.

Jadi, bila mudik menghasilkan kata turunan pemudik, maka antonim (arus) balik itu tak menghasilkan turunan kata pembalik—orang Amerika punya ambekan buat membalikkan keadaan pincang ini lewat etos American Dream. Dan di sini yang lalu muncul justru identifikasi urbanis yang tak berkeahlian, yang dibawa urbanis yang mudik lebaran. Tidak heran kalau sebelum dan selama lebaran itu aparat negara dikerahkan untuk mengamankan kelancaran mudik, tetapi setelah lebaran justru Satpol PP ditugaskan merazia pendatang, men-sweeping yang tak ber-KTP setempat, yang datang tanpa tujuan pekerjaan pasti dan punya keahlian khusus, dan seterusnya. Aneh sekali, mudik yang mutlak bermotif religius dan sepenuhnya Islamia itu mendadak jadi persoalan tenaga kerja tak terampil dan tak terlatih, pengangguran, gelandangan, dan penyakit sosial kota besar.

Kerangka berpikir tak maritim memanfaatkan transportasi sungai serta danau di satu sisi, sekaligus—di sisi lain—pola referensi udik itu agraris, menyangkut orang yang hidupnya mengandalkan tanah pertanian atau cuma tenaganya. Fakta ada buruh tani semimenganggur, yang menganggur mutlak kala pekerjaan pertanian habis menjelang panen, hingga menderita paceklik dan terpaksa pergi ke luar kampung buat mengerjakan apa saja asal ada uang untuk makan si anak-istri. Pola hidup subsistensi asal cukup makan—dengan setahun sekali berbaju baru dan berlimpah penganan—itu tampaknya dieksploitasi pemodal kota. Mereka memanjakan buruh mereka dengan mudik bersama gratis, dengan naik kereta bayar orang tapi sepeda motor gratis angkut, dan diam-diam senang bila para buruh subsistensi itu membawa calon buruh beretos subsistensi.

Karena itu, secara halus seni hegemoni bahasa semua disiratkan dalam lema arus balik, tanpa kata turunan pembalik—meskipun dibalikkan sehingga kepalanya ada di bawah. Sesekali mereka diidentifikasi sebagai urbanis, lantas Pemda dan Satpol PP merazia urbanis tidak berkeahlian dan berketerampilan. Hal sia-sia karena kota amat butuh pekerja keras yang berbahagia dalam kondisi subsistensi.

* Pengarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s