Terorisme

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 31 Jan 2015

REVOLUSI Perancis 1789 tidak hanya memberi kita slogan ”Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”. Ia juga memberi kita istilah terorisme sekaligus mencontohkan bagaimana menerapkannya secara sistemik. Pada masa la Terreur, Daulat Teror, 1793-1794, negara Perancis memotong leher puluhan ribu orang. Dengan jujur dan telanjang salah satu pemimpinnya menyatakan, ”Teror tak lain tak bukan adalah keadilan yang serta-merta, polos, kejur.” Aparatur keamanannya dikenal sebagai teroris.

Kata teror sendiri, asal Latin, berarti ’ketakutan yang amat sangat, kegentaran yang dahsyat, kengerian yang melumpuhkan, keseraman yang …’, baiklah, baiklah, anda sudah mengerti.

Terorisme, kata Oxford English Dictionary, adalah sistem teror, kebijakan yang dimaksudkan menimbulkan teror pada orang-orang yang disasarnya. Disebut sistem karena terorisme bukan sekadar ada ketakutan. Kalau hanya satu orang menyebar teror dadakan, istilahnya ngamuk. Disebut kebijakan karena terorisme melibatkan organisasi, taktik strategi, sistem perekrutan, perencanaan mendetail dan mendalam, serta pelaksanaan yang kompleks dan berpresisi tinggi.

Dan terutama, karena terorisme selalu punya tujuan politik.

Apa arti tujuan politik? Kekuasaan atas publik. Teroris menebar teror, yakni, maut dan pilu, azab dan tangis, dan kehancuran. Teroris menebar teror bukan karena kejam, senang melihat orang menderita, atau sedang bad mood, melainkan karena mengejar kekuasaan politik sebagai tujuan akhir. Siapa korban tidak sangat penting. Yang penting dunia melihat, dan gemetar. Itulah sebab banyak aksi terorisme bersifat teatrikal—dari penggal kepala sampai penghancuran gedung dengan pesawat terbang bajakan. Terorisme sulit diberantas karena para pemimpinnya adalah orang-orang sangat rasional. Hanya pemikir cerdas yang mampu membangun sistem efektif. Apalagi yang lintas bangsa dan benua.

Semua orang sekarang di depan umum menentang terorisme. Namun, apa yang ada di kepala setiap orang tentang terorisme berbeda-beda. Ketika penyerangan maut terhadap majalah satire Charlie Hebdo di Paris terjadi, Parisiens dan banyak orang di dunia tidak kesulitan mengenalinya sebagai terorisme, tetapi tak sedikit orang memujanya sebagai tindak kepahlawanan. Mengapa demikian? Terorisme telah menjadi label negatif yang bersifat subjektif. Kalau aku tidak setuju dengan tujuan politik pelaku, yang dia lakukan adalah terorisme. Kalau aku setuju, yang dia lakukan adalah perjuangan mulia.

Sifat subjektif terorisme membuat pusing para pendefinisi.

Sampai sekarang tidak ada kesepakatan menerima definisi resmi yang bisa dijadikan acuan bersama dalam apa yang disebut ”perang melawan terorisme”. Jadi, ada perang, tetapi apa yang diperangi kurang jelas. Itulah perang setengah matang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mendefinisikan terorisme sebagai ’tindak kejahatan yang dimaksudkan atau diperhitungkan akan menimbulkan keadaan teror pada masyarakat, sekelompok orang, atau orang-orang tertentu demi tujuan-tujuan politis’. Definisi ini diikuti penjelasan bahwa terorisme tetaplah kejahatan, tidak peduli alasannya, entah bersifat politis, filosofis, ideologis, rasial, etnik, religius. Sekilas ini definisi bagus. Namun, banyak negara tidak mau menerimanya begitu saja. Mengapa? Karena definisi itu tidak memberikan batasan kepada pelaku. Siapa saja bisa menjadi pelaku terorisme, termasuk negara! Mana mau negara mengakuinya. Itulah sebab banyak negara memasukkan kata ilegal dalam definisi mereka. Karena apa saja yang dilakukan negara bersifat legal, loloslah mereka dari tuduhan melakukan terorisme, sementara pemberontak dan pembangkang, bahkan yang bersifat antikekerasan, mudah dilabel teroris karena ilegalitasnya yang ”merusak ketenteraman umum”.

Perang terhadap terorisme bisa mengambil banyak bentuk. Tidak semua harus dengan cara keras lawan keras atau dengan memberangus kebebasan sipil. Salah satu cara dipertunjukkan oleh 16 Karmelit dari Susteran kota kecil Compiègne. Daulat Teror menyatakan mereka musuh negara karena iman mereka. Ya, karena mereka terlalu rajin berdoa. Di bawah tatapan mata penduduk Paris, mereka dibariskan di depan tiang Guillotine pada 17 Juli 1794. Mereka tak menangis atau menjerit. Ke-16 perempuan ini bersama-sama melantunkan ”Veni Creator Spiritus” (Datanglah Roh Pencipta). Kemudian suara nyanyian mereka satu demi satu dipadamkan, dari 16 suara, kemudian 15, 14… 3, 2, 1 suara. Diam. Mereka dikuburkan bertumpuk bersama lebih dari seribu korban lain. Suara mereka terbang bersama angin, tetapi nyanyian mereka masuk ke dalam hati penduduk Paris. Ketidakpuasan yang sudah bertumbuh di dalam sanubari mereka berkobar dan memuncak. Hanya 11 hari kemudian, mereka menyeret para penguasa teror ke tempat yang sama. Berakhirlah Daulat Teror. Dari Revolusi Perancis, dunia sekarang hanya ingat Liberté, Égalité, Fraternité.

* Penggumul Semantik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s