Dari Penglihatan Ke Pelihatan

Zen Hae*, Majalah Tempo, 2 Feb 2015

Ilustrasi: SAP News Center

Kita menggunakan kata penglihatan untuk melukiskan kerja mata, terutama ketika mata mendeteksi cahaya. Mata sebagai indra penglihatan membantu manusia membedakan terang dan gelap, juga dalam merasakan sensasi visual lainnya. Penglihatan menjadi satu dari lima indra manusia yang terpenting-selain pendengaran, perabaan, pengecapan, penghiduan. Namun di sini bukan soal pengindraan yang jadi penting, bentukan kata penglihatan itulah pokok soalnya.

Penglihatan adalah nomina bermakna “proses” dan “hasil” yang diturunkan dari verba bermakna “proses”. Pembentukannya adalah me- + lihat ‘melihat’ (bukan menglihat)’ > pe- + lihat + -an ‘penglihatan’ (bukan pelihatan). Jika taat asas seharusnya melihat > pelihatan (sebagaimana melebur > peleburan), sementara menglihat (jika ia ada) > penglihatan (sebagaimana menghibur > penghiburan).

Bahasa Indonesia tidak mengenal bentukan menglihat, tapi menerima penglihatan. Sebaliknya, ia punya melihat tapi tidak menerima pelihatan. Mengapa bisa begitu? Itulah “pengecualian”. Bahkan J.S. Badudu menyebut penglihatan sebagai “satu-satunya bentuk kecuali dalam bahasa Indonesia”.

Sebuah pengecualian terjadi ketika kaidah yang ada tidak bisa mewadahi seluruh pembentukan kata.

Yang tidak bisa masuk kaidah itu kemudian mencari kaidah lain yang cocok. Dalam bahasa Indonesia, kaidah itu biasanya dipinjam dari bahasa daerah atau ragam nonstandar. J.S. Badudu dalam bukunya, Pelak-pelik Bahasa Indonesia (1971), menyatakan bahwa bentuk penglihatan dipengaruhi oleh bahasa Sunda. Dalam bahasa ini ada bentukan panglipur lara, yang struktur bunyinya diserap oleh penglihatan.

Jika benar penglihatan punya alusi bunyi ke panglipur lara, mengapa ada bentukan pelipur lara yang sejajar maknanya dengan panglipur lara? Artinya, tidak ada pengecualian untuk pelipur lara. Juga untuk sejumlah kata lain yang dimulai dengan fonem l: melaporkan > pelaporan, bukan penglaporan; melantik > pelantikan, bukan penglantikan; melebarkan > pelebaran, bukan penglebaran. Dulu sempat pula digunakan pengrusakan, juga dianggap pengecualian, tapi kemudian kita terbiasa dengan perusakan yang diturunkan dari merusak(kan).

Jika argumentasi pengaruh lidah orang Sunda itu benar, kita bisa mengajukan lidah orang Bali sebagai bandingan. Saudara kita di Pulau Dewata pasti tidak kesulitan mengucapkan pelihatan karena ada nama Desa Peliatan, Ubud, yang bunyinya berdekatan dengan pelihatan. Mengapa kita tidak meminjam lidah saudara kita di Bali untuk menyebut kata yang taat asas itu?

Kasus yang kurang-lebih sama bisa kita temukan pada kata bersuku satu yang dilekati prefiks me-. Awalnya orang menulis membom, membor, mencat, melap, melem, mentik. Hingga cetakan ke-10 (1987) Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) karya W.J.S. Poerwadarminta masih mendaftar membom sebagai lema utama dan mengebom sebagai variasi. Tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1988), yang salah satu bahan utamanya adalah KUBI, memastikan bahwa bentuk yang baku adalah mengebom, mengebor, mengecat, mengelap, mengelem, mengetik.

Jika kita telisik, bentukan yang taat asas adalah yang dianut oleh kamus-kamus sebelum KBBI. Bahwa kaidah pembentukan verba dengan prefiks me- pada kata-kata bersuku satu sama dengan pada kata-kata bersuku dua atau lebih. Misalnya, membommembungkus, mencatmencangkul, mencormencoreng, melemmelempar. Dengan demikian, bentukan mengebom dan kawan-kawannya adalah pengecualian-hanya berlaku untuk kata bersuku satu.

Dalam soal ini, J.S. Badudu punya pendapat menarik. Baginya, bentukan mengebom dan kawan-kawannya terjadi karena seolah-olah kata-kata dasarnya mengalami penambahan fonem e. Untuk bisa melekat dengan kata-kata itu, prefiks me- mengalami penyengauan menjadi meng- dan menghasilkan meng-ebom, meng-ebor, meng-ecat, meng-elap, meng-elem, meng-etik.

Ada juga pendapat lain yang dikutip Badudu. Sekali lagi, hal ini dipengaruhi oleh bahasa Sunda. Dalam bahasa ini, prefiks nga- sama dengan me- dalam bahasa Indonesia (ngalamun = melamun). Artinya, kata-kata itu lebih dulu diucapkan sebagai ngebom, ngebor, ngecat, ngelap, ngelem, ngetik. Begitu dilekatkan dengan prefiks me-, mereka menjadi me-ngebom, me-ngebor, me-ngecat, me-ngelap, me-ngelem, me-ngetik.

Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI, 1988) tampaknya hadir dengan salah satu misi membereskan soal ini. Buku ini memperkenalkan prefiks meng- (selain per- dan ber-)-sementara ahli bahasa lainnya (Sutan Takdir Alisjahbana, J.S. Badudu, Harimurti Kridalaksana) bertahan dengan me-. Karena itu, menghadapi kata bersuku satu, prefiks meng- cukup berubah menjadi menge- (dan itu dianggap bukan pengecualian). Hasilnya menge-bom, menge-bor, menge-cat, menge-lap, menge-lem, menge-tik.

Pun saat menghadapi kasus penglihatan. TBBI memperkenalkan konfiks peng-an dengan sejumlah alomorfnya. Dengan konfiks peng-an, maka kasus penglihatan bukan lagi pengecualian: peng- + lihat + -an.

Anehnya, mengapa hanya penglihatan yang begitu, sementara kata-kata lain yang berawal fonem l tetap? Namun, jangan takut, toh TBBI punya argumentasi lain bahwa konfiks peng-an punya alomorf pe-an. Berhadapan dengan kata berfonem awal l, alomorf pe-an bisa bekerja dengan baik: pelaporan, pelantikan, pelibatan, pelibasan-kecuali penglihatan.

Kendati demikian, saya merasa tetap ada ketidakajekan di situ.

Padahal, jika kita mau meminjam lidah orang Bali, pengecualian ini bisa dibereskan. Atau, sekalian saja, kita taat asas. Kita membiasakan pelihatan sebagai ganti penglihatan. Mengapa tidak?

* Penyair Dan Kritikus Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s