Bakar dan Panggang

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 14 Feb 2015

Tiba-tiba, kami mempersoalkan kata bakar dan panggang. Pasalnya, seorang teman menolak makanan yang dibakar, entah ayam, ikan, kambing, jagung, entah pisang. ”Saya mau yang dipanggang di oven. Terhadap yang dibakar, saya khawatir arang yang digunakan memicu karsinogen,” katanya. Terlepas dari soal karsinogen yang disebut-sebut pemicu sel kanker, ada pertanyaan: apakah beda panggang dan bakar?

Di kota-kota besar, menu ikan bakar, ayam bakar, pisang panggang, atau roti panggang mudah dijumpai di warung bertenda tepi jalan terutama pada malam hari. Migrasi penduduk membuat menu tersebut tersebar hingga ke kota-kota kecil di tanah Papua. Selidik punya selidik, ternyata, kendati kedua istilah itu berbarengan digunakan, pembuatannya sama: sama-sama menggunakan arang sebagai media api dan pemanggang berupa jeruji kawat atau penjepit, serta kipas angin atau kipas bambu untuk meniup arang agar menjadi bara dan api.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa rupanya memadankan bakar dengan panggang. Membakar berarti ’memanggang (memanaskan) supaya masak’ atau ’membuat sesuatu dengan memanggangnya (memanaskannya) dengan api’. Panggang diartikan dipanaskan (dimasak) di atas bara api. Dari pengartian ini, KBBI menghubungkan panggang dan bakar dengan api. Dibakar berarti dipanaskan (dipanggang) di atas api dan dipanggang artinya dimasak (dipanaskan) dengan api.

Para pelanggan kedai makan umumnya tak mau pusing dengan kata bakar atau panggang kendati pembuatannya sama. Apalagi ada ”roti panggang isi ayam bakar”. Dan bukankah untuk manusia tidak dipakai kata bakar dan panggang, tetapi kremasi atau perabuan?

Dalam praktik, memanggang dan membakar ternyata berbeda.

Memanggang bisa dilakukan di atas kuali, gerabah seperti serabi, atau dalam oven, jadi tidak bersentuhan langsung dengan api. Sementara membakar langsung mengenai api, tetapi disangga alat tertentu berupa jeruji kawat atau penjepit.

Dalam hal inilah memanggang dan membakar berbeda. Teknologi berkembang pesat sehingga memanggang tidak harus dengan api sebagaimana halnya membakar, baik yang bermedia arang, batubara, gas, maupun kompor, tetapi bisa memanfaatkan listrik untuk menghasilkan suhu panas. KBBI rupanya masih berpola pikir lama: panggang dan bakar mengandalkan panas api.

Kemunculan teknologi modern masak-memasak menambah rancu istilah panggangan dan pemanggang. Cukup banyak iklan di internet yang memadankan panggangan dengan pemanggang. Judul-judul iklan di bawah ini diambil secara acak: ”Jual pemanggang ayam”; ”Beli pemanggang dan oven”; ”Jual panggangan sosis murah”; ”Jual berbagai macam perangkat pemanggang terlengkap”. Singkat kata, pemanggang dan panggangan adalah sinonim. Kamus Inggris–Indonesia (John M Echols dan Hassan Shadily, Edisi Diperbarui, Gramedia 2014) pun ikut merancukannya: grill (nomina) juga berarti panggangan dan roaster (nomina) diartikan ayam panggangan.

Tentu saja, sebagai nomina bentukan, pemanggang dan panggangan berbeda. Pemanggang menunjuk kepada orang yang memanggang atau alat. Istilah alat pemanggang adalah pleonastis, pengulangan kata untuk menggarisbawahi. Panggangan menunjuk kepada sesuatu yang dipanggang atau hasil memanggang. Namun, saya yakin, ketika membaca judul iklan di internet ”Jual panggangan murah”, konsumen tidak akan membayangkan ikan bakar, ayam panggang, barbeku, atau sate kambing!

* Pekerja Media, Cerpenis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s