Kampung Halaman

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 7 Mar 2015

Banyak dari kita, saya kira, pernah punya “kampung halaman”, kampung yang penduduknya rata-rata memiliki rumah dengan halaman yang lapang. Inilah kata yang rujukannya diam-diam melindap, kata benda yang lambat-laun berubah menjadi konsep. Sesuatu yang kini mungkin sudah jadi kenangan-atau terdesak ke dalam film, karya sastra, atau dalam potret berwarna sefia sedikit suram. Sesuatu yang menyiratkan kepemilikan dalam bentuk kata majemuk itu lama-kelamaan menjelma satu kata tunggal “kampung” semata, tanpa lagi embel-embel “halaman”. Kita tahu, ada ungkapan yang sangat populer pada musim liburan: “pulang kampung”.

Ke mana itu halaman? Kecuali di bilangan golongan berpunya atau kawasan milik negara, di bagian terbesar wilayah Jakarta, apa yang pernah kita kenali dengan sebutan halaman (rumah) umumnya sudah kikis oleh proyek MHT, yaitu proyek perbaikan kampung secara besar-besaran di Jakarta zaman Bang Ali pada dasawarsa 1970-an dan yang sampai sekarang masih berlanjut dengan menyandang nama lain yang nadanya menyatakan simpati kepada rakyat: penggusuran. Di banyak daerah lain, tanah pekarangan yang relatif cukup luas umumnya sudah terlepas dari rumah, dijual, entah untuk ongkos naik haji atau untuk menutup biaya kebutuhan hidup yang kian meningkat. Segera setelah halaman-tanah terbuka itu-beralih pemilik, ia pun beralih fungsi. Seorang teman, Marco Kusumawijaya, cukup sering mengungkapkan rasa masygul dalam sejumlah tulisannya betapa perubahan ekologi ini memberi sumbangan besar pada skala banjir yang meluas.

Kalau pun masih ada, masih menjadi bagian yang menyatu dengan sebuah rumah di satu kampung, halaman itu biasanya kecil saja, satu atau dua meter kali lebar rumah. Itu pun lebih sering dimanfaatkan buat tempat menaruh segala rupa rongsokan. Dulu para orang tua menyuruh anak mereka bermain “di halaman”, tapi kini lebih sering kita dengar “di luar”. Dan luar, yang membawa konotasi, atau bertaut dengan kata usir, jarang memberi rasa aman nyaman. Halaman memberi ruang lebih lebar untuk privasi dan keintiman. Luar membawa serta pengertian “dingin”, memisahkan, mengecualikan, tapi halaman itu “hangat”, merangkul, mendekatkan.

Secara gramatika, kata depan /ke/ rupanya dapat memanggil pulang kata halaman, dari “pulang kampung” menjadi “pulang ke kampung halaman”.

Jarang sekali kita temukan bentuk “pulang kampung halaman”. Di sini sekali lagi dapat kita tangkap nuansa makna kampung, dengan atau tanpa halaman. Kampung halaman itu bukanlah kampung dalam artinya yang jamak. Kerinduan, rasa kangen yang dibawa kata pulang pada “pulang ke kampung halaman” lebih berat mengaduk-aduk perasaan, lebih bermakna ketimbang pada “pulang kampung”-yang kini kita rasakan begitu cair, cemplang, tak memberi kesan cukup berarti.

Kampung halaman saya pikir lebih lazim dipandang sebagai ungkapan yang dimuati makna konotatif “tanah air”, “tanah kelahiran”, sekalipun tak salah juga bila ada yang menganggapnya sebagai kata, yang punya arti denotatif kampung dengan rerumah yang memiliki pekarangan luas. Konstruksi sebagai kata inilah yang tadi saya katakan “rujukannya diam-diam melindap”. Konstruksi dengan arti denotatif ini, baru saja kita lihat, tak lagi “bunyi” terutama karena apa yang ia tunjuk kian surut dan kemudian hilang.

Halaman yang menghilang. Barangkali justru karena itulah “kampung halaman” kemudian mendapat tugas lebih sering menyandang makna konotatif itu tadi (tanah air, tanah kelahiran). Coba kita ambil bentuk lain sebagai pembanding yang bernasib lebih baik. Kereta api mulanya merujuk pada kereta yang lokomotifnya bekerja dengan api, yaitu dari batu bara atau kayu yang dibakar. Kini, rujukan itu telah berganti dengan kereta bermesin listrik atau diesel. Tapi, kita lihat bentuk kereta api masih hidup, masih terus dipakai berdampingan dengan bentuk kereta listrik atau kereta diesel. Dengan kereta inilah waktu liburan kita, rakyat yang aslinya dari udik, pulang kampung.

Atau pulang ke kampung halaman?

* Munsyi, Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s