Begal dan Pembegal

Yanwardi, KOMPAS, 28 Mar 2015

Bahasa itu lentur, bisa ”ditekuk-tekuk”, dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Namun, tentunya upaya tersebut tidak dengan sembarang atau semaunya. Ada koridornya, yakni sistem bahasa itu sendiri dan konvensi dari masyarakat pemilik bahasa. Jika hasil kelenturan itu tidak sesuai dengan sistem bahasa, akan muncul salah kaprah dan tabrakan dengan sistem bahasa yang telah ada sebelumnya.

Kata pembegal, pembegalan, dan membegal, seiring dengan kasus begal yang marak, sering muncul dalam media massa. Dalam halaman 156, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV hanya mencantumkan kata turunan membegal dan pembegalan pada lema begal yang berkelas nomina, kata benda. Argumen ketiadaan kata pembegal mudah diduga, yakni begal sudah nomina dan bermakna ’penyamun’. Jadi, penambahan awalan pe(n)- yang berfungsi membendakan dan memiliki makna (gramatikal) ’yang melakukan’ tentu berlebihan dan hiperkorek. Memang bisa diperdebatkan mengapa membegal dan pembegalan diakui keberadaannya oleh KBBI, tetapi pembegal tidak?

Tulisan ini tidak akan menyoroti sikap KBBI itu, melainkan akan melihat mengapa muncul kata membegal, pembegalan, dan pembegal dan bagaimana statusnya dari sudut pandang kebahasaan.

Pada mulanya begal berkemungkinan besar nomina. Sejak kecil saya sudah biasa mendengar ujaran: ”Jangan lewat situ kalau malam. Banyak begal.” Namun, kita juga sering menjumpai kalimat ”Begal saja orang itu”. Dalam contoh kalimat terakhir, tentu begal adalah kata kerja, verba. Dalam bahasa Indonesia kata yang memiliki dwikelas (nomina dan verba) sudah biasa, misalnya, tumis, gulai, gergaji, pacul, dan gunting. Kata-kata dalam senarai ini secara leksikal (makna) jelas nomina, tetapi secara gramatikal bisa pula berperilaku verba, seperti kata begal.

Kata begal yang bisa bergabung dengan awalan me(n)- dan menurunkan membegal, lalu pembegal dan pembegalan, adalah yang berkelas verba, bukan begal yang nomina. Pola ini sudah ada dalam bahasa kita: menumis dan menggulai atau menggergaji, menggunting, dan memacul. Mengapa bukan begal yang nomina? Argumennya, makna (gramatikal) awalan me(n)- di sini adalah melakukan perbuatan sebagaimana dalam dasarnya (begal, tumis, gulai) atau melakukan perbuatan dengan alat (menggergaji, dst). Sebaliknya, jika bergabung dengan yang nomina, awalan me(n)- akan bermakna ’menjadi’, sebagaimana dalam membatu dan meng(k)arang. Jenis kata kerjanya juga berbeda, yakni melakukan (membegal) dan proses (membatu).

Tampak pula dalam senarai itu bahwa verba perbuatan menghendaki ”pelaku”, yang bisa muncul secara faktual atau potensial dalam satuan bahasa (pembegal, penggergaji, pemacul, dst).

Kata pembegal secara faktual muncul dalam pemakaian bahasa dan secara kebahasaan tidak bermasalah. Ada pola gramatikalnya. Penggunaannya bisa berlaku sebagai varian kata begal dan sesuai dengan konteks wacananya.

Kita bisa membayangkan bahwa unsur-unsur bahasa tidak lentur. Ketika ada keperluan dari penutur yang akan menceritakan bahwa ada peristiwa perbuatan dan proses membegal, kita akan terengah-engah mengungkapkannya dalam bentuk parafrasa atau penceritaan dengan kata-kata lain yang bermakna mirip, misalnya, “kemarin ada orang merebut (motor) dengan kekerasan dan sadis, dst”. Berkat kelenturan bahasa, kita cukup menggunakan kata begal yang berkelas verba dan kata turunannya: membegal, pembegalan, dan pembegal atau begal. Nuansa maknanya lebih pas.

Jadi, manfaatkanlah kelenturan bahasa yang sesuai dengan sistem bahasa kita.

* Editor Yayasan Obor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s