Satu Bahasa, Tiga Dimensi

Hermien Y. Kleden*, Majalah Tempo, 30 Mar 2015

Ilustrasi: Tempo

Leiden, akhir Maret 2014.

Tepuk tangan memecahkan ruangan Universitas Leiden, Belanda, begitu Boediono–Wakil Presiden Indonesia ketika itu–menutup kuliah umumnya. Rektor, para dekan, ahli-ahli Asia dan Indonesia, serta mahasiswa terus bertepuk tangan sembari mendekati sang dosen tamu untuk bersalaman pada siang musim semi itu.

Seorang pria setengah umur berdiri di pojok kiri dalam sikap sempurna, tanpa gerak-sama sekali tak ikut tersihir keriuhan itu. Dia hanya sedikit bergeser dan membebaskan diri dari sikap sempurna setelah Wakil Presiden turun podium. Lalu dia bergerak mendekati atasannya dalam “jarak aman”. Berpangkat kolonel, dia salah satu ajudan Wakil Presiden.

Mengamatinya dari dekat selama beberapa hari, saya mendapati betapa sedikitnya dia berbicara, setidaknya dalam jam-jam tugas. Kata-kata yang meluncur adalah redundansi membosankan bagi kuping saya: siap, siap laksanakan, segera, mohon izin, lapor. Bahasa yang sama akan kita dengar dari tim kawal Wakil Presiden, sejumlah perwira muda, saat mereka berkomunikasi dengan Pak Kolonel.

Saya perlu beberapa waktu untuk memahami anatomi percakapan mereka. Kata “siap” yang amat lazim mereka gunakan seolah-olah bermakna ganda. Dalam aba-aba militer, “siap” (attention) adalah lawan dari “istirahat” (at ease). Dalam percakapan kasual, siap yang mereka ucapkan bisa berarti oke, ayo, paham, laksanakan.

****

SAYA duduk bersebelahan dengan Pak Kolonel saat pesawat kami transit di Timur Tengah, dalam perjalanan pulang ke Tanah Air. Saya tuangkan secangkir kopi untuk dia. “Silakan, Pak,” kata saya. “Siap, terima kasih,” ia menyahut. Saya memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sudah tersimpan berhari-hari: “Apakah Anda tak punya ‘imajinasi’ berbahasa–selain drill commands?”

Jawabannya mencengangkan: “Kekayaan imajinasi saya tak terbatas pada bahasa, dan mungkin melebihi Anda, seorang wartawan.” Bersikap sempurna selama atasannya berpidato, dia melanjutkan: “Saya perintahkan imajinasi saya bergerak agar terjadi relaksasi pikiran dan tubuh. Saya berpikir tentang keluarga, musim, masa lalu, impian, musik.” Tatkala Wakil Presiden menutup pidato–seperti di Leiden–Kolonel pun kembali ke alam nyata, bergerak dalam pola-pola perintah: laksanakan, lapor, siap, mohon izin.

Defense Language Institute di California, Amerika Serikat, sejak 1953 meriset linguistik yang menjadi sari pati bahasa militer. Ada satu kata yang mengikat napas dunia militer di belahan bumi mana pun: perintah atau komando.

****

Dalam hemat saya, setidaknya ada tiga dimensi hubungan yang turut melahirkan “sifat bahasa”, yakni hubungan dengan orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga. Saat mengatakan “Buku itu ada di sini” atau “Aduh…” ketika terantuk adalah hubungan bahasa dengan pihak pertama. Maka lahirlah sifat ekspresif bahasa. Level ekspresif akan beralih sifat menjadi deskriptif dalam komunikasi dengan pihak ketiga: “Lukiskan rupa buku di atas meja,” atau, “Seperti apa aroma bunga yang Anda hirup?”

Dimensi hubungan bahasa dengan orang pertama dan ketiga yang ekspresif dan deskriptif akan melahirkan kreativitas, daya cipta, imajinasi, temuan-temuan ilmiah. Tersedia ruang jembar bagi tafsir dan perbedaan, gradasi. Tidak ada makna absolut, tak ada tafsir tunggal, karena persepakatan pun bisa muncul dari perbedaan, bukan kewajiban beraklamasi. Keleluasaan ini tak akan kita temukan dalam pola bahasa militer.

Hubungan dengan pihak kedua adalah contoh sempurna bahasa militer. Sifat yang lahir dari bahasa ini adalah instruktif serta hanya mengenal hubungan dengan pihak yang diperintah: beri perintah, atau terima perintah. Terjadilah appeal atau seruan kepada pihak kedua. Model hubungan bahasa ini amat berpotensi melahirkan pemikiran-pemikiran doktriner, setidaknya ini pendapat saya.

Target menjadi tujuan organisasi militer mana pun, maka presisi adalah mutlak. Walhasil, perintah-perintah dilahirkan lewat kata dasar: lari, lompat, gerak, bubar, hormat, izin, lapor, siap. Konjugasi akan membuka ruang interpretasi: melarikan, dilarikan, pelarian. Presisi tak tercapai tanpa arti tunggal.

Sebagai wartawan, saya tahu saya tak akan mampu hidup dalam dimensi bahasa orang kedua. Pak Kolonel, dalam diskusi singkat kami di sela minum kopi selama transit pesawat, tak mendebat pendapat saya. Dia hanya berkata, “Tolong Anda bayangkan kacaunya suatu operasi militer bila kami membuat interpretasi atas perintah tugas.” Saya tak mendebat pendapatnya. Saya hanya melakukan apa yang dia minta. Saya pejamkan mata, mencoba membayangkannya berulang kali-dan gagal.

Kemampuan menerapkan dimensi bahasa ternyata lahir oleh latihan, latar belakang, serta pilihan pribadi, tentu saja-dan bukan dari ruang kosong.

* Wartawan Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s