Merah Putih

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Apr 2015

Upacara bendera, seingat saya, rutin kami jalani saban Senin pagi. Itu masa ketika saya duduk di kelas V dan VI di sekolah dasar partikelir di Matraman Raya, Jakarta Timur, akhir 1970-an. Pada masa itu, selalu menjadi bagian dari upacara adalah ”pembacaan” teks Sumpah Pemuda—yang sekarang rupanya sudah berganti dengan teks lain, Pembukaan UUD ’45 atau janji setia siswa. Ingatan berikut adalah kabar yang kita dapat beberapa waktu silam lewat media massa tentang sekelompok kecil warga negara Republik Indonesia yang berkukuh menolak menggelar upacara bendera di sekolah-sekolah. Namun, ingatan lainlah yang paling mengesan buat saya. Sampai hari ini.

Kelas VI. Bersiap mulai mengikuti pelajaran di dalam kelas seusai upacara bendera pada satu Senin pagi, tiba-tiba Pak Guru bertanya, adakah di antara kami yang tahu arti merah dan putih pada bendera kebangsaan kita. Tidak perlu berlama-lama menunggu jawaban, Pak Guru menuturkan narasi mengenai soal tersebut. Itulah kali pertama saya mengerti, merah punya pengertian lain, yaitu berani, dan putih membawa serta arti suci—arti merah dan putih dalam konteks bendera kebangsaan kita.

Sangat mengesan sebab penyematan makna-makna tambahan tersebut bagi saya begitu mengena. Juga, barangkali penjelasan Pak Guru waktu itu telah menowel sentimen nasionalisme saya, menyuburkan rasa bangga pada Sang Saka sambil mengingatkan perjuangan heroik segenap rakyat yang meminta sangat banyak darah demi kedaulatan bangsa dan negara sendiri.

Siapa yang menyematkan makna lain ke dalam merah dan putih (mula-mula) pada Sang Saka? Siapa yang telah memberi sayap pada kata?

Saya selipkan dalam tanda kurung ”mula-mula”, sebab hingga kini pun merah dan putih, baik sebagai kata maupun benda-benda, masih menyemburkan makna lain, bukan hanya soal warna. Matador membawa selembar kain merah ketika bertarung dengan seekor banteng, demonstran umumnya menandai identitas mereka dengan pita merah, orang kalap sering digambarkan bermata merah. Merah yang punya konotasi tegas, jantan pun lalu menjadi ikon keberanian, perlawanan, pemberontakan. Putih, yang berpaut dengan khalis, bersih, terang, kita tahu adalah warna yang lekat pada golongan rohaniwan, kalangan medis, atau perawan, malaikat, dan bidadari.

Arti kiasan atau arti konotatif umumnya tidaklah jauh dari arti ”sebenarnya”—disebut juga arti lugas, arti denotatif, atau arti leksikal, yaitu arti yang dirumuskan oleh kamus.

Tidak jauh, sebab ia hampir selalu menautkan dirinya pada arti asali dengan mengambil satu dari sekian sulur atau percabangan arti. Putih secara gampang kadang ditentangkan dengan hitam. Dan segi gelap, pekat pada hitam membiarkan asosiasi mengelana jauh sampai ke lembah, dunia, yang bukan saja gelap, suram, misterius—yang menyertakan rasa takut, jijik, dan sedih—bahkan lancung, buruk, jahat. Putih dan hitam sudah mewakili hero, protagonis dan durjana, antagonis.

Di tengah rentang antara hitam dan putih terletak warna abu-abu: daerah perbatasan yang tidak hitam tidak putih. Itu sebabnya abu-abu dengan mudah menampung sejumlah arti lain: tidak tegas alias gamang, ragu-ragu macam Hamlet, atau oportunistis seperti tokoh Sengkuni. Aspek tajam sebuah benda yang menunjuk kesanggupan memenggal, mengiris lambat-laun meresap ke lidah, mulut, ucapan (yang jahat, melukai), pun ke otak, pikiran, ingatan (yang sanggup menganalisis, menguraikan) atau telaah, kritik, wacana (yang rinci, runtun, mengena).

Kata dengan arti kiasan yang diimbuhkan itulah ”kata bersayap”, sebuah ungkapan yang menegaskan, kata sewaktu-waktu bisa terbang meninggalkan makna asalinya, dan menjumpai makna(-makna) lain, sering sampai tersesap habis-habisan.

Jangan tanya siapa suka selingkuh, kata ataukah makna sebab pertanyaan tadi pun belum sempat dijawab: Siapa, atau untuk apa, memberi sayap pada kata?

* Munsyi; Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s