Tokoh Perkamusan Indonesia

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 20 Apr 2015

Ilustrasi: Kios ENGKONG

Sejak 1998, saya berikhtiar memiliki pelbagai kamus Indonesia. Semula, saya hanya bisa membaca kamus-kamus di pelbagai perpustakaan di Solo. Pada masa itu, saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tahun demi tahun berlalu. Dan kamus yang saya peroleh adalah yang dijual di pasar buku loakan. Meski koleksi kamus saya terus bertambah, itu bukan berarti saya berani berlagak sebagai ahli kamus. Peran paling pantas bagi saya adalah pembaca atau pengguna kamus. Perayaan memiliki puluhan kamus ini pernah diwujudkan dengan Pameran Kamus di Bilik Literasi Solo, 19-24 Desember 2014. Pameran itu merangsang saya membuat catatan-catatan kecil mengenai tokoh dan perkembangan garapan kamus di Indonesia.

Di Indonesia, tokoh paling terkenal dalam garapan kamus adalah W.J.S. Poerwadarminta. Kamus susunan Poerwadarminta sering digunakan di sekolah dan universitas. Warisan berwujud Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) dijadikan modal dalam menggarap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 1988. Saya akui ketokohan Poerwadarminta dalam perkamusan meski kita tak melupakan jasa para penggarap kamus di Indonesia yang tak terlalu diketahui umum, seperti R. Sasrasoeganda, E.St. Harahap, Sutan Mohammad Zain, dan B.M. Nur.

Sejak awal abad ke-20, nama R. Sastrasoeganda dicantumkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), yang disahkan sebagai edisi ketiga. Sastrasoeganda menggarap Baoesastra Melajoe-Djawa (1916). Pusat Bahasa sebagai penanggung jawab penerbitan KBBI mengakui Baoesastra Melajoe-Djawa sebagai “kamus dwibahasa pertama yang disusun putra Indonesia”. Dari informasi ini, saya mencari informasi-informasi berikutnya agar mengerti sejarah perkamusan di Indonesia.

Di Bilik Literasi Solo, ada ribuan buku lawas yang membuat saya terkejut. Saya menemukan sebuah buku berjudul Alat Karang Mengarang (1933) susunan Raden Sasrasoegonda, seorang pengajar di Kweekschool, Yogyakarta. Dia adalah penggarap Baoesastra Melajoe-Djawa. Sementara itu, di KBBI tercantum keterangan pendek mengenai Baoesastra Melajoe-Djawa yang disusun R. Sastrasoeganda. Penulisan nama berbeda-beda: R. Sastrasoeganda, R. Sasrasoeganda, dan Raden Sasrasoegonda. Pembeda penulisan nama ditentukan penggunaan huruf “t”, “a”, dan “o”. Apakah pihak Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa atau Pusat Bahasa melakukan kesalahan dalam penulisan nama? Saya tak ingin gegabah memberi tuduhan.

Riset berlanjut dengan membaca buku berjudul Kitab jang Menjatakan Djalannja Bahasa Melajoe garapan Sasrasoegonda Koewatin. Semula, buku cetakan kedua terbit pada 1917. Buku diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka pada 1986. Prakata ditulis oleh Harimurti Kridalaksana, ahli bahasa dan pemimpin tim perkamusan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1991). Siapa Raden Sasrasoegonda atau R. Sastrasoeganda? Buku Alat Karang Mengarang memuat keterangan bahwa beliau menggarap Baoesastra Melajoe-Djawa, Kitab jang Menjatakan Djalannja Bahasa Melajoe, dan Peroempamaan Melajoe.

Bermula dari perbedaan penulisan nama dalam tiga buku, penulis menemukan informasi mengejutkan saat berhasil membeli Baoesastra Melajoe-Djawa (1916). Di halaman sampul, saya membaca keterangan mengenai judul, penggarap, penerbit, tahun, dan kutipan undang-undang. Kamus lawas itu digarap oleh tokoh bernama R. Sasrasoeganda dibantu oleh M. ‘Abdoellah, M. Karta Adi Soebrata, dan M. Sastrasoebrata. Tebal kamus 524 halaman. Kamus selesai dikerjakan pada 1913, diterbitkan pada 1916. Ikhtiar penggarapan kamus dimulai pada 1905. Saya mulai menyimpulkan bahwa Raden Sasrasoegonda atau Raden Sasrasoeganda adalah tokoh penting dalam sejarah perkamusan di Indonesia. Perubahan penulisan ejaan nama berunsur huruf “o” menjadi “a” mungkin dipengaruhi cara penulisan dan pengucapan dalam bahasa Jawa.

Ada kemungkinan Pusat Bahasa telah melakukan kesalahan dalam penulisan nama penggarap Baoesastra Melajoe-Djawa. Kemunculan huruf “t” memiliki risiko besar. Siapa R. Sastrasoeganda? Apakah kesalahan bisa dimaklumi? Apakah kesalahan berdalih kesengajaan atau ketidaktahuan? Siapa yang pernah mengajukan koreksi disertai keterangan-keterangan penting agar ada pembenaran? Tahun demi tahun berlalu.

Ketika saya bermaksud mencari KBBI edisi keempat terbitan 2014, kamus yang sudah bertambah tebal, 1.706 halaman, dan diberi harga 375 ribu rupiah itu memiliki halaman berjudul “Latar Belakang Perkamusan di Indonesia”. Jumlah halaman kamus tersebut sudah bertambah, tapi penulisan ejaan nama penggarap Baoesastra Melajoe-Djawa masih tetap R. Sastrasoeganda. Mengapa tak ada perubahan?

Saya curiga bahwa kesalahan ini tak pernah diketahui oleh para ahli bahasa atau pegawai bahasa di institusi milik pemerintah itu meski puluhan tahun telah berlalu.

Saya menganggap seyogianya sudah terjadi koreksi terhadap penulisan nama penyusun kamus yang sudah berjasa ini, sebelum orang-orang telanjur ikut salah dalam penulisan dan pengucapan nama penggarap kamus bersejarah di Indonesia.

* Pengelola Bilik Literasi Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s