Korupsi

Samsudin Berlian, KOMPAS, 25 Apr 2015

Korupsi perlu diinterupsi agar negara tidak bangkrupsi. Ya, ya, bangkrut. Alah, begitu saja ribut. Sana beli KIS yang laris manis di media sosial: Kartu Indonesia Sabar. Sila sambil minum kopi. Lepat masih hangat. Lanjut! Korupsi dalam pemakaian umum hanya punya arti sempit, seperti kata KBBI: penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk untung pribadi atau orang lain. Walaupun korup diberi arti pertama lebih luas ’buruk; rusak; busuk’, ia jarang ditemukan dalam arti ini. Sekarang dengar baik-baik sebelum pulsa sabar di kartumu habis, korupsi bermakna jauh lebih luas dan mengerikan daripada itu.

Dulu kata Latin rumpere berarti ’memecahkan’, lalu diberikan awalan com- untuk menguatkan maknanya. Jadilah corrumpere ’memecahkan berkeping-keping, menghancurkan, membusukkan’. Kok, ejaannya kurang mirip, apa iya berkaitan? Tentu saja bukan dibikin-bikin karena past participle-nya adalah corruptus ’busuk’. Nah, bahasa Inggris, yang berutang takkan pernah terbayar terhadap Latin, menjadikannya corrupt/corruption.

Apa hubungan menghancurkan atau membusukkan dengan mencuri uang negara? Begini.

Secara figuratif, corrupt mengacu pada sifat imoralitas, penyelewengan karakter, kebusukan akhlak, kehancuran integritas, ketidakjujuran, kemunafikan.

Tak kasat mata seperti ulat dan parasit berkembang-biak di dalam pohon yang dari luar terlihat kukuh. Korupsi merusak kanan-kiri depan-belakang. Ketika kata korupsi dipakai untuk penggelapan uang negara, makna yang terkandung jauh lebih dalam, bahwa ada keruntuhan moral universal, ada erosi akhlak semesta–pada pemberi suap, penerima suap, dan masyarakat/negara yang di dalamnya suap-menyuap mewabah, berdampak pada perusakan banyak aspek kehidupan kebangsaan, termasuk pembusukan, pencemaran, dan pelemahan moral dan watak masyarakat serta pemimpin dan institusi mereka. Korupsi yang mewabah bersifat bukan hanya sistematik, juga sistemik.

Seperti sebutir bawang busuk akan menulari bawang sekarung, demikianlah korupsi dan koruptor itu busuk dan membusukkan. Ngeri nian. Tidaklah heran ada gubernur waras yang habis sabar lalu menyenggak di depan umum, sampai-sampai dicaci-maki bukan hanya oleh koruptor cinta busuk, melainkan juga oleh tokoh berbudi bahasa halus yang lebih mementingkan etiket daripada etika, dan diikutributkan pula oleh banyak orang yang dengan lugu, naif, polos, dan simpel mengira etiket pernak-pernik sama arti dan sama bobot dengan etika bukan basa-basi.

Sekarang jelas, kan? Koruptor bukan sekadar maling. Koruptor menggunakan kekuasaannya sebagai pejabat negara demi untung ilegal diri sendiri. Wewenang dari rakyat dipakai menggerogot rakyat. Pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat itulah yang membuat korupsi menjadi kebobrokan dan sumber kebusukan serta biang kanker penggerogot jiwa bangsa. Yang dicuri cuma uang dan setara uang, tapi yang hilang adalah jiwa solidaritas kebangsaan, kesalingpercayaan sosial, kewibawaan dan integritas penyelenggara dan institusi negara, roh persatuan.

Bila korupsi terus mengganas, mungkin akan dahsyatlah terjadi erupsi, dari ex- + rumpere, ’pecah keluar, meletus’, seperti Gunung Toba legendaris. Atau, kalau bukan erupsi, bangkrupsi. Prang! Eit! Sabar. Beli lagi pulsa. Jangan lupa bayar nanti itu piring. Asalnya rumpere juga, yang di Italia jadi rotta ’pecah, kalah, putus’. Disambungkan dengan banca, yang arti aslinya meja (tempat transaksi keuangan), jadilah bancarotta, bank gagal. Dalam Belanda ini disebut bankroet alias failliet. Bila baru diperkenalkan hari ini, pastilah ejaan yang akan dipilih: bangkrup, dari Inggris bankrupt, dan bangkrupsi (dari bankruptcy) untuk kebangkrutan. Nah, sudah bisa senyum, kan?

Supaya tak terjadi negara erupsi atau bangkrut, perlu ada upaya interupsi terhadap korupsi. Bisa kira sendiri, kan, itu dari inter- dan rumpere? Apa artinya ”pecah antara”? Begini, misalnya satu pembicaraan diputus jadi dua sehingga ada ”antara” di tengahnya, yang diisi dengan menghirup kopi, misalnya. Sayang lepat tadi sudah berselimut debu di lantai. Nanti dulu! Kalau korupsi diinterupsi dengan e-budgeting, berarti setelah interupsi lewat, korupsi lancar lagi? Iya, memang, tapi bisa interupsi lagi, lagi, dan lagi. Namanya kehidupan. Bahkan, interupsi terhadap korupsi pun akan dilawan dengan interupsi prodana siluman di parlemen. Tabah saja. Harus tekun dan punya stok banyak kopi dan pulsa sabar berjuang melawan kedurjanaan.

* Penggumul Makna dan Asal-usul Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s