Tikus yang Tak Mati-mati

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 2 Mei 2015

Ajakan ”Yuk, kita tidur” yang diucapkan orang tua, bapak atau ibu, kepada anaknya yang masih kecil hampir pasti akan ditafsir lain jika orang tua itu mengatakannya kepada pasangan dia. Kata tidur dalam konteks kedua kita lihat telah menyerobot porsi kata berhubungan intim atau bersetubuh. Inilah aksi pembajakan yang dilegalkan dalam bahasa, antara lain karena perlu demi menyelamatkan muka dari malu. Sangat jarang orang menyatakan hasrat seksualnya secara telanjang—kepada pasangan hidup resminya sekalipun, apalagi bila hadir pihak ketiga, di tengah percakapan. Bahasa untuk mengungkapkan hasrat seksual lebih sering terselubung, dengan kata bersayap, seakan-akan bila lugas tanpa tedeng aling-aling, sebuah truk barang bakal tiba-tiba menumbuk si penutur dari muka tanpa ampun.

Orang boleh berspekulasi tentang apakah yang menumbuhkan kesantunan atau kepura-puraan atau kemunafikan itu. Bahasa yang telanjang, polos, untuk hajat yang satu ini dipandang vulgar. Berbeda adalah bahasa kiasan, yaitu cara lain menyatakan sesuatu (tidur, dan bukan bersetubuh), seperti pemakaian metafora atau alusi yang mudah kedapatan dalam karya sastra.

Seperti indungnya, bahasa, kiasan terbentuk dari kesepakatan di kalangan penuturnya.

Kesepakatan itu melibatkan proses tawar-menawar tiada henti yang menunjukkan betapa bahasa menyimpan sifat getas, ringkih. Persis seperti disuratkan oleh sebutannya: kata bersayap. Sayap di situ adalah atribut belaka, sesuatu yang ditambahkan. Ia mudah patah. Pernah ada satu masa ketika banyak orang gemar memakai kata bulan untuk melukis cantik perempuan. Namun, kini, tak perlulah linguistik statistik untuk mengatakan bahwa bunga diam-diam telah menyerobot peran kata bulan untuk keperluan yang sama, barangkali sejak Neil Armstrong membawa oleh-oleh gambar permukaan bulan sepulang dari sana pada 1969.

Akan tetapi, ada pula sayap kata yang relatif tak mudah patah. Tikus, yang dimaksud di sini tentu saja tikus got (Rattus norvegicus), untuk menyebut koruptor barangkali kurang jitu ditilik dari skala yang mereka ambil dengan cara mengerikiti (tikus) atau menggerogoti (koruptor): seujung kuku cuwilan keju berbanding uang pecahan besar berkarung-karung. Bahwa sampai hari ini orang banyak masih saja menggandrungi metafora tikus tentulah itu bukan tanpa penjelasan. Perumpamaan selalu menyandingkan dua hal berdasar asas kesamaan, tetapi tak mesti sama seratus persen. Tikus tidak saja menyebalkan karena suka mencuri, tetapi juga menjijikkan, bikin mual, karena amat mesum, jorok, dan berbau busuk—sebuah metafora yang legit (tentang binatang jahanam yang majenun ini, tengok tulisan Samsudin Berlian, ”Korupsi”, Kompas edisi 25 April 2015).

Kata tidur yang menyelubungi bersetubuh di awal tulisan tadi relatif awet, lebih lekap memeluk makna kiasannya. Tidur dan bersetubuh sama-sama berangkat dari asumsi bahwa kedua kata kerja ini menunjuk pada posisi tubuh berbaring. Selebihnya, bagaimana kata yang merujuk pada perginya kesadaran ke alam mimpi bisa mengantarkan asosiasi ke aktivitas penuh keringat dan berahi ialah perkara imajinasi yang doyan dolan ke mana-mana. Manipulasi pemaknaan ini saya kira lebih dari sekadar taktik menyelamatkan muka dari malu. Bukan melulu berurusan dengan kesantunan atau kepura-puraan atau kemunafikan.

Tadi saya singgung, bahwa bahasa yang telanjang, polos, apa adanya, untuk hajat yang satu itu dipandang vulgar, tak senonoh. Di sini, sesuatu yang dianggap kasar atau tidak patut disembunyikan, dijinakkan, dengan kata bersayap. Yang menarik, kata bersayap pada saat yang sama sanggup membuat lebih galak kata yang polos, bukan menyembunyikan atau menjinakkannya. Bukan menyelamatkan muka dari malu, tetapi malah mencelemotinya kuat-kuat.

Contoh? Ya, tikus got itu tadi. Tikus yang tak mati-mati.

* Munsyi, Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s