Kelas

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 4 Mei 2015

Ilustrasi: Ivan Lanin

Ilustrasi: Ivan Lanin

Kecermatan berbahasa berkaitan dengan ketepatan mengenali kelas kata. Kerap di media massa kita dapati kalimat semacam ini: “Hingga kini korban masih trauma”, “Dia alergi asap rokok”, “Semua pemain harus fokus pada pertandingan”, “Ratusan nelayan protes kebijakan menteri”, dan “Anaknya sekolah di Bandung”. Trauma, alergi, fokus, protes, dan sekolah merupakan nomina atau kata benda, sehingga tak tepat menjadi predikat pada kalimat-kalimat tersebut.

Semua kalimat di atas semestinya berpredikat kata kerja atau verba. Maka kalimat yang tepat adalah “Hingga kini korban masih mengalami trauma“, “Dia menderita alergi asap rokok”, “Semua pemain harus berfokus pada pertandingan”, “Ratusan nelayan memprotes kebijakan menteri”, dan “Anaknya bersekolah di Bandung”. Kata serapan seperti fokus dan protes memang bisa berkelas verba dalam bahasa Inggris (focus dan protest), tapi kata yang diserap ke dalam bahasa Indonesia adalah nominanya—dan ada kemungkinan keduanya serapan dari bahasa Belanda.

Contoh lain kata yang sering keliru penempatannya dalam kalimat adalah emosi, misalnya “Gubernur sedang emosi“. Emosi sebagai nomina berarti “luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat” atau “keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis yang bersifat subjektif” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Emosi bersinonim dengan afeksi, hati, perasaan, dan sentimen (Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko, 2006). Mungkin kita bisa memakai kata sifat atau adjektiva marah agar kalimat tersebut menjadi logis: “Gubernur sedang marah“.

Kerja, bicara, dan belanja, yang merupakan nomina, misalnya, sering pula dianggap sebagai verba sehingga salah penempatannya dalam kalimat. Contohnya, “Dia kerja di sini bertahun-tahun” perlu diperbaiki menjadi “Dia bekerja di sini bertahun-tahun”.

Tentu itu bukan berarti sebuah kalimat tidak dapat berpredikat nomina. Bisa saja subyek dan predikat sama-sama berkelas kata benda, misalnya “Dia pengusaha” atau “Mereka koruptor”. Untuk menguji apakah kalimat itu logis, kita bisa menempatkan kata “adalah” atau “merupakan” di antara subyek dan predikat tersebut.

Harus diakui, bagi sebagian pengguna bahasa, ada kesulitan tersendiri dalam menentukan kelas sebuah kata, khususnya antara nomina, verba, dan adjektiva.

Sesungguhnya ada cara sederhana untuk mengetahui apakah sebuah kata masuk kategori kata benda, kata kerja, atau kata sifat.

Secara umum, kata benda dapat didahului kata bukan dan tidak bisa didahului tidak. Kita dapat mengatakan, “Dia bukan dokter,” tapi tidak bisa berkata, “Dia tidak dokter.”

Sebaliknya kata kerja. Kata ini dimungkinkan untuk didampingi tidak, tapi tak dapat didahului bukan. Selain itu, verba dan nomina tidak mungkin didampingi kata sangat. Adapun adjektiva punya kemungkinan didahului tidak dan sangat: “Dia tidak jahat” dan “Dia sangat jahat”. Tak logis kalau kita menyebutkan “Dia bukan jahat”.

Karena itu, “tidak masalah”, misalnya dalam kalimat “Itu tidak masalah bagi saya”, merupakan struktur yang keliru. Sebab, masalah masuk kategori nomina. Contoh kalimat yang tidak keliru adalah “Itu bukan masalah bagi saya” atau “Itu tidak jadi masalah bagi saya”.

Sering pula kita temukan kalimat semacam ini: “Dia tak peduli terhadap kritikan yang disampaikan masyarakat” dan “Kepolisian akan menindaklanjuti usulan DPR”. Sesungguhnya kritikan dan usulan itu bentuk lewah (berlebihan, mubazir). Masing-masing sama persis maknanya dengan kritik dan usul. Kritik dan usul sudah merupakan nomina, jadi tak perlu “dibendakan” lagi dengan menambahkan akhiran “-an”.

Gejala yang mirip terjadi pada kata pembegal, misalnya “Pembegal ditangkap saat santai di rumahnya”. Mungkin penulisnya menganggap begal sebagai kata kerja, sehingga merasa perlu menambahkan awalan “peng-” (yang menjadi “pem-” ketika bertemu dengan kata yang diawali fonem “b”) sebagai pembentuk nomina dalam arti “orang yang melakukan perbuatan…”. Padahal begal masuk kategori nomina dan bersinonim dengan penyamun (orang yang merampas di jalan). Copet dan rampok sering pula diperlakukan seperti begal, dianggap belum menjadi nomina pelaku jika tidak diberi prefiks “peng-“.

Pendonor dan penggembala juga bentuk lewah yang sejenis dengan pembegal. Tanpa awalan “peng-“, donor dan gembala sudah merupakan nomina pelaku. Maka slogan “jadilah donor darah” yang dikampanyekan dalam hari talasemia sedunia serta lirik lagu “saya ini si gembala sapi” adalah contoh pemakaian kata yang tepat.

* Redaktur Bahasa Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s