Ekstrak

Rainy M.P. Hutabarat*, Majalah Tempo, 11 Mei 2015

Ilustrasi: NutraIngredients-USA

Dalam kampanye pemilihan presiden 2014, kata ekstrak mendadak ramai digunakan sebagai satire. Awalnya, pemakaian kata ini sepi-sepi saja, terbatas di lingkungan bisnis produk-produk herbal, seperti obat-obatan dan suplemen makanan. Di pasar swalayan atau toko khusus obat dan vitamin, kata ini mudah ditemukan pada kotak atau wadah, antara lain ekstrak bawang putih tunggal, ekstrak bengkuang, ekstrak mengkudu atau ekstrak buah noni, ekstrak daun sirsak, ekstrak kunyit putih, ekstrak temu lawak, ekstrak temu putih, ekstrak jahe merah, dan ekstrak daun jati Belanda. Berbagai produk obat dan suplemen makanan impor juga menggunakan kata extract untuk sari simplisia nabati: garlic extract, grape fruit seed extract, Hawaiian noni extract, atau standardized herbal extract. Iklan ekstrak kulit manggis yang muncul beberapa kali dalam sehari di salah satu stasiun televisi komersial meletupkan popularitas kata ini ke seantero negeri.

Media sosial ikut memeriahkan peredaran kata ekstrak yang berkait-paut dengan pernyataan tim Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memiliki bukti sebanyak 10 truk kecurangan penghitungan suara resmi pemilu presiden 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum. Dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, klaim itu terbukti sesumbar saja karena yang diserahkan cuma 12 boks. Entah siapa yang memulai, pengguna media sosial beramai-ramai menyebut bukti kecurangan sebanyak 12 boks itu sebagai ekstrak. “Bukti kecurangan Pilpres 2014 milik Tim Prahara sekarang ada ekstraknya!” demikian sindir seorang rekan di media sosial.

Sebagai istilah kedokteran, industri, juga teknik, berbagai pihak mencoba mendefinisikan kata ekstrak. Menurut Wikipedia berbahasa Indonesia: zat yang dihasilkan dari ekstraksi bahan mentah secara kimiawi. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (edisi IV) mengartikannya sebagai kentalan, pati, sari, atau sediaan yang diperoleh dari jaringan hewan atau tumbuhan dengan menarik sari aktifnya dengan pelarut yang sesuai, kemudian memekatkannya hingga tahap tertentu. Dalam dunia tulis-menulis, artinya salinan, petikan, selain intisari. Berbagai kamus kedokteran mendefinisikannya sebagai preparat pekat dari obat nabati atau hewani. Sebagai kata kerja, menurut kamus teknik, ekstrak berarti memeras (sari pati) (Dedet Purnama, Kamus Lengkap Teknik, Penerbit Mega Aksara, Cetakan I, Jakarta: 2007). Dunia komputer juga mengenal kata ekstrak, misalnya “ekstrak gambar dari file PDF”. Artinya: proses pengecilan data yang ukurannya besar sehingga lebih mudah dikirim atau diunduh.

Sebagian produk obat-obatan dan suplemen herbal dan hewani menggunakan kata sari: sari buah kurma, sari kulit manggis, sari daun sirsak, sari mengkudu, sari jahe merah, atau sari pati ayam. Sari buah lebih populer dengan sebutan jus (bahasa Inggris, juice, artinya air/sari buah). Sebenarnya jus adalah hasil pemerasan seluruh kandungan air pada buah, umbi, atau sayur dengan juicer (bukan blender!) untuk dikonsumsi. Namun kini istilah jus telanjur dipakai untuk minuman dari bebuahan ataupun sayuran yang diblender.

Sari berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya inti atau pati. Bahasa Jawa Kuna mengartikannya sebagai pati dan kembang (Kawi-Jarwa, Dirjasupraba, 1931, http://www.sastra.org/katalog/, Kamus Basa Jawa [Bausastra Jawa], Kanisius 2011). Hebatnya, bahasa Jawa mengenakan kata sari pada manusia: sarining jalmi (sari manusia) menunjuk pada jiwa manusia. Jadi, menurut alam pikiran Jawa, manusia berintikan jiwa. Yang abadi dan pusat manusia adalah jiwa.

Saya agak tersentak ketika membaca tajuk sebuah opini: “Ekstrak Hukuman Mati untuk Koruptor” (Kompas, 27 September 2014). Kalimat pembuka opini itu berbunyi, “Tidak hanya kulit manggis, ternyata hukuman untuk koruptor sekarang ada juga ekstraknya …. Salah satu cara mengekstrak hukuman untuk koruptor adalah melalui pemberian remisi dan pembebasan bersyarat.”

Secara harfiah, ekstrak hukuman berarti sari pati hukuman. Dalam sistem peradilan, lama hukuman menunjuk pada berat-ringan tindak kejahatan. Ini mengandaikan ekstrak hukuman merupakan proses tertentu-dan pasti lebih berat!–yang harus dijalani terhukum yang nilainya setara dengan lama hukuman. Namun, faktanya, proses tertentu yang setara dengan lama hukuman itu tidak ada. Yang terjadi justru remisi atau pembebasan bersyarat, yang menguntungkan koruptor dan menghambat pemberantasan korupsi. Istilah ekstrak hukuman di sini dipakai sebagai satire yang menyindir sekaligus mengolok-olok. Sama halnya dengan “ekstrak 12 boks” dari 10 truk bukti kecurangan pemilu.

Selain ekstrak hukuman dan ekstrak bukti kecurangan pemilu, masih ada satire ekstrak lain yang tengah berlangsung di negeri ini: ekstrak pendidikan. Spanduk, selebaran, atau poster yang menawarkan ekstrak pendidikan bertebaran di berbagai sudut kota di Tanah Air. Ada iklan program sarjana yang dikorting menjadi kurang dari setahun. Ada program bahasa asing yang menawarkan penguasaan dan kelancaran dalam tempo singkat, seolah-olah belajar bahasa identik dengan pertukangan.

Maka ekstrak, pada akhirnya, mengalami perubahan makna menjadi cara “ringkas” dan “cepat” mencapai atau mendapatkan sesuatu.

Sementara herbal berkhasiat untuk menyehatkan tubuh manusia, ekstrak hukuman korupsi atau bukti-bukti kecurangan justru mengusik nalar sehat dan hati nurani.

* Pekerja Media Dan Penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s