QE

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 18 Mei 2015

Ilustrasi: SimpleClearEasy.com

Washington, DC, 22 Mei 2013.

Di hadapan Kongres Amerika Serikat, Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke melaporkan kondisi perekonomian saat itu. Ia memberikan sinyal bahwa karena keadaan berangsur membaik, ada ruang untuk mulai mengurangi quantitative easing. Media pun memberitakan, “Fed will taper off its stimulus program!”—Federal Reserve akan melakukan tapering off atas program pemulihan ekonominya.

Quantitative easing, tapering off. Binatang apa mereka ini?

Ada dua kebijakan utama dalam pengelolaan ekonomi makro, yaitu kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Kebijakan moneter berfokus pada uang beredar dan tingkat bunga, sementara kebijakan fiskal mengurusi pajak dan pengeluaran pemerintah. Bank sentral bertanggung jawab atas kebijakan moneter, sementara kebijakan fiskal digawangi kementerian keuangan. Ketika perekonomian sedang lesu, biasanya kedua kebijakan bergerak ekspansif: otoritas moneter berusaha mendorong penurunan tingkat bunga jangka pendek, sementara otoritas fiskal menambah pengeluaran atau mengurangi pajak. Sebaliknya, ketika perekonomian mulai berjalan terlalu kencang, kebijakan yang diambil bersifat kontraktif.

Tingkat bunga yang rendah diharapkan menjadi stimulus bagi perekonomian, karena biaya untuk meminjam dana dari perbankan menjadi lebih rendah. Namun, ketika tingkat bunga jangka pendek nominal sudah mendekati nol (seperti di banyak negara maju), tentu sulit atau tidak mungkin lagi menurunkannya. Apa yang harus dilakukan jika saat itu perekonomian masih terperangkap dalam kelesuan atau bahkan resesi? Berharap pada kebijakan fiskal saja? Mungkin. Tapi kebijakan fiskal pun belum tentu mampu mengatasi kelesuan itu sendirian. Ditambah lagi dengan alasan politis: jika defisit anggaran serta utang luar negeri sudah sangat besar, pemerintah akan tampak lemah. Maka datanglah quantitative easing.

Quantitative easing (QE) secara harfiah berarti penambahan jumlah uang di dalam sistem perbankan. Dalam praktiknya, ia adalah pembelian aset berupa obligasi (surat utang) oleh bank sentral dalam upaya membantu menekan tingkat suku bunga jangka panjang (saat tingkat suku bunga jangka pendek sudah tidak mungkin diturunkan lagi).

Karena pembelian ini dilakukan dalam jumlah besar, di Amerika nama resminya adalah large-scale asset purchase (LSAP). Di media, ia lebih akrab dipanggil QE. Disebut “kuantitatif” karena yang disasar langsung adalah jumlah uang, bukan “harga” uang (yaitu tingkat bunga—yang sudah nol itu). Maka bank sentral membeli obligasi jangka panjang, si penjual lalu mempunyai cadangan di bank sentral, dan atasnya dapat meminjam dana untuk ekspansi usaha. Tentu praktiknya lebih kompleks dari “model” ini.

Sisi “negatif” dari QE bagi negara yang menerapkannya adalah kemungkinan larinya dana ke luar negeri. Modal finansial selalu mencari imbal balik (return, yield) yang lebih tinggi. Kebetulan, negara-negara berkembang menawarkan bunga yang lebih tinggi—sebagai refleksi atas kondisi perekonomian mereka. Ketika tingkat bunga di negara maju tertekan, misalnya akibat program QE, dan apabila ternyata kondisi perekonomian di sana masih cenderung stagnan, berbondonglah modal masuk ke negara berkembang—demi imbal yang lebih tinggi. Termasuk ke Indonesia. Maka QE bisa berarti rezeki nomplok bagi negara berkembang.

Namun, dengan begitu, jika QE berhenti, rezeki itu pun bisa hengkang: datang cepat, pulang cepat. Apalagi kalau iklim investasi di negara tujuan kurang kondusif: dana yang masuk cenderung berhenti di portofolio jangka pendek dan bukan ke investasi jangka panjang. Ini yang di media kita sering disebut hot money. Maka pidato seperti yang diberikan Gubernur Fed di hadapan Kongres itu mengirim kekhawatiran ke negara-negara berkembang. Mereka khawatir, dengan berakhirnya QE, tingkat bunga di Amerika akan berangsur naik, dan si hot money akan mudik. Gejala panik di negara berkembang karena QE mulai dikurangi (atau di-taper) ini yang dijuluki taper tantrum. Dan memang benar, sinyal dari Bernanke di Kongres tersebut direspons oleh naiknya tingkat bunga di Amerika dan modal pun mulai mengalir kembali dari banyak negara berkembang. Termasuk dari Indonesia. Pada awal Juni 2013, indeks saham dan nilai tukar rupiah jatuh. Bank Indonesia juga harus menaikkan suku bunga untuk mengerem capital outflow ini.

Saat ini QE di Amerika sudah berhenti. Namun ada program QE yang baru dari Bank Sentral Eropa, yaitu PSPP (public sector purchase program), mulai Maret 2015. Kita lihat, apakah ketika QE-nya Eropa ini berakhir pada September 2016 seperti direncanakan, akan ada taper tantrum lagi.

* Peneliti Australian National University

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s