Uji Kejujuran

Gunawan Tri Atmodjo*, Media Indonesia, 24 Mei 2015

Frasa uji kebohongan kerap menghiasi media massa. Uji kebohongan pada galibnya dilakukan pihak kepolisian terhadap tersangka yang berpotensi tidak jujur. Sebagai ilustrasi, Fulan diinterogasi polisi dengan menyandang detektor kebohongan. Asumsi awalnya semua keterangan Fulan jujur. Detektor kebohongan akan memindai tiap jawaban Fulan sesuai dengan prosedurnya. Rangkaian kegiatan untuk menemukan kebenaran itulah yang disebut uji kebohongan. Sebenarnya, kebohongan (atau kejujuran) apa yang diuji (dicari) dengan alat itu? Jika dipakai frasa uji kebohongan, untuk apakah kebohongan seseorang diuji?

Kerancuan itu tak lain disebabkan tertukarnya pengertian antara uji kebohongan sebagai lakuan dan detektor kebohongan sebagai kata benda.

Dalam KBBI, detektor kebohongan diperikan sebagai alat untuk mencatat yang bertujuan menemukan tanda-tanda fisiologis tertentu pada seseorang yang berbohong.

Kinerja alat itu mendeteksi kebohongan yang mungkin keluar dari keterangan objek melalui reaksi-reaksi fisiknya atas sejumlah pertanyaan. Rangkaian kinerja dengan alat itulah yang amat mungkin memunculkan istilah uji kebohongan yang mengelirukan khalayak.

Perilaku lema uji, yang dalam KBBI berarti percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu, dalam bahasa Indonesia cenderung disandingkan dengan kata-kata yang bernuansa positif, misalnya uji kecerdasan, uji kekuatan, dan uji keberhasilan.

Ujian nasional yang hingga kini masih menjadi polemik dimaksudkan untuk menguji pemahaman siswa atas materi yang telah diajarkan. Ujian nasional ialah uji pemahaman siswa. Kata pemahaman bernuansa positif. Akan terasa janggal apabila lawan arti dari kata-kata yang dicontohkan tersebut yang dipergunakan seperti uji kebodohan, uji kelemahan, dan uji kegagalan. Terbayangkah Anda akan perasaan seorang pasien ketika dokter menyarankannya untuk uji kemandulan, bukan frasa uji kesuburan meski dalam tataran maksud masih relevan dan tidak menyimpang?

Perilaku sebaliknya berlaku untuk lema detektor dan deteksi yang cenderung digunakan untuk hal-hal bernuansa negatif, misalnya detektor virus, detektor kebakaran, detektor tsunami, detektor banjir, deteksi penyakit, dan deteksi bencana. Jarang ditemui lema detektor atau deteksi menyertai kata bernuansa positif, misalnya detektor kejujuran. Frasa itu terasa janggal secara arti karena sebagai alat ia digunakan untuk mendeteksi keterangan objek yang diduga sering (atau akan) berbohong. Untuk apa memilah kejujuran dari keterangan seorang (yang diduga) pembohong?

Berdasar hal itu, akan sangat logis apabila frasa uji kebohongan diganti dengan uji kejujuran.

Dari tataran maksud, kedua istilah tersebut tidak berselisih paham. Uji kejujuran dilakukan untuk mengetahui kejujuran objek, sama halnya yang dimaksud dalam uji kebohongan. Proses yang sama juga tampak pada frasa detektor kebohongan yang telah baku dalam KBBI.

Senyampang bicara uji-menguji, barangkali merupakan ide cemerlang jika seleksi final penerimaan pejabat tinggi negara memasukkan kriteria lulus uji kejujuran.

Dengan mekanisme itu, setidaknya akan ada sedikit garansi untuk moralitas kejujuran calon pejabat. Muaranya ialah laku dan kebijakan publik yang benar-benar bajik.

* Editor Bahasa Media Indonesia

One thought on “Uji Kejujuran

  1. Brilian!

    Tapi saya kira, kerancuan “uji hebohongan” bukan hanya disebabkan oleh frasa “detektor kebohongan”. Tetapi juga karena objek yang diuji (tersangka) sudah dianggap / dihakimi sebagai pembohong. Hanya saja tinggal “seberapa banyak” kebohongan yang diceritakannya. Dan mengapa ia berbohong?

    Mungkin karena stereotip negatif itulah makanya ada asas “Praduga tak bersalah”

    Selain itu, tidaklah mungkin bagi seorang polisi untuk mengintimidasi tersangkanya dengan berkata, “Kalau kau berkata jujur, kau tidak perlu takut untuk menjalani tes uji kejujuran!”

    Bandingkan dengan:

    “Kalau kau berkata jujur, kau tidak perlu takut untuk menjalani tes uji kebohongan!”

    Kalimat kedua membuat hati was-was jantung berdegup kencang, dan keringat mengalir. Kata “kebohongan” memancing otak untuk mengingat kembali kebohongan-kebohongan apa saja yang sudah diucapkannya atau kebenaran apa yang belum ia ceritakan?

    Dan memang itulah tujuannya…. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s