Boedi Oetomo: Sejarah Dan Bahasa

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 25 Mei 2015

Pendiri STOVIA. Ilustrasi: Historia.

Bermula dari percakapan, terpilihlah nama untuk perkumpulan modern di Hindia Belanda. Soetomo menanggapi penjelasan Wahidin Soedirohoesodo: “Punika satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utami.” Petikan kalimat berbahasa Jawa ini dimuat di buku berjudul Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (1951) garapan Imam Supardi. Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo adalah kaum terpelajar, tapi masih mengukuhkan diri sebagai manusia Jawa. Ilmu diperoleh bermodal bahasa Belanda, tapi identitas bertumpu ke bahasa Jawa. Kita mulai memiliki dugaan bahwa bahasa turut memengaruhi kemunculan perkumpulan modern di saat dibentuk di Betawi.

Nama “budi utami” menjadi Boedi Oetomo. Soetomo (1934) mengenang sejarah nama perkumpulan melalui ketokohan Soeradji. Pertemuan dan percakapan para murid STOVIA dengan Wahidin Soedirohoesodo dijadikan sumber penamaan. Percakapan berbahasa Jawa itu memicu reaksi kebahasaan. Soeradji segera mengusulkan organisasi dinamai Boedi Oetomo. Pengakuan Soetomo: “… Mas Soeradji inilah jang memadjoekan oesoelnja, soepaja perkoempoelan kita itoe, diberi nama Boedi Oetomo hendaknja.” Jasa terbesar Soeradji dalam pendirian dan perkembangan Boedi Oetomo memang berkaitan dengan bahasa. Para pendiri cenderung berbahasa Belanda dalam agenda keilmuan, politik, sosial, pers, dan kultural. Mereka mulai kehilangan gairah berbahasa Jawa. Pujian Soetomo: “Mas Soeradji djasanja sangat dihargai oleh perkoempoelan kita karena Toean inilah jang mendjadi tali perhoeboengan dan dapat memikat hatinja separoeh bangsa kita jang masih dengan bahasa Djawa.”

Kelahiran Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, mengingatkan kesadaran berbahasa dan pembuktian kehendak memajukan Jawa. Bahasa Belanda telah memberi sihir ilmu dan politik ketimbang bahasa Jawa. Kegandrungan berbahasa Belanda perlahan mendapat godaan dalam penamaan perkumpulan beranggotakan para pelajar beretnis Jawa. Mereka terbiasa berbahasa Belanda dalam keseharian, tapi sengaja memilih nama perkumpulan berbahasa Jawa. Urusan bahasa memang menentukan jika kita mau membaca lagi pemberitaan mengenai Boedi Oetomo di Retno Doemilah edisi 14 Oktober 1908. Kita menemukan informasi bahwa Raden Koewatin Sasrasoegonda berperan sebagai sekretaris perkumpulan Boedi Oetomo. Beliau adalah guru dan ahli bahasa di Yogyakarta. Sejak 1905, Sasrasoegonda sudah menggarap kamus atau baoesastra. Pekerjaan ini dilakukan berbarengan dengan pengabdian sebagai guru dan keterlibatan dalam agenda-agenda Boedi Oetomo.

Sasrasoegonda dan teman-teman berhasil merampungkan garapan Baoesastra Melajoe-Djawa pada 1913. Kamus itu diterbitkan pada 1916. Kita berkepentingan ingin membaca pengertian-pengertian “boedi” dan “oetomo” agar ada nuansa kesejarahan bahasa saat mengenang Boedi Oetomo. “Boedi” berarti kabetjikan. “Oetomo” berarti loewih betjik. Dua istilah itu memiliki pengertian hampir sama: kebaikan. Dulu, orang-orang cenderung mengartikan Boedi Oetomo sebagai “boedi jang loehoer”. Kita mulai agak mengabaikan urusan bahasa dalam kesejarahan perkumpulan modern di negeri jajahan. Sekarang kita cuma mengerti ada perubahan ejaan saja: Boedi Oetomo menjadi Budi Utomo.

Bahasa masih menentukan sejarah Indonesia. Pemberitaan tentang Boedi Oetomo muncul di Jong Indie edisi 18 Juli 1908: “Suatu berita genting, namun menggembirakan: kebangunan orang Jawa!” Surat kabar itu memberi istilah “kebangunan” untuk menilai kehendak para pelajar Jawa mendirikan Boedi Oetomo (Abdurrachman Surjomihardjo, 1973). Dulu, “kebangunan” adalah istilah bermakna politis bagi pendirian dan perkembangan Boedi Oetomo.

Pada 1950-an, para tokoh bangsa dan publik masih menggunakan istilah “kebangunan” untuk mengenang Boedi Oetomo. Pada 1952, terbit buku berjudul Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan garapan Ki Hadjar Dewantara. Buku itu berisi artikel, pidato, dan obituari.

Ki Hadjar Dewantara menerangkan: “Dengan penerbitan buku ini tidak lain maksud si penulis daripada memberi sekadar kenang-kenangan guna perlengkapan dokumentasi nasional jang bertali dengan pergerakan rakjat, mulai Hari Kebangunan Nasional, 20 Mei 1908, sampai Hari Proklamasi, 17 Agustus 1945.” Di halaman 36, dimuat pidato Sukarno dalam peringatan Hari Kebangunan Nasional, 20 Mei 1952. Sukarno berkata: “Hari ini 20 Mei 1952. Saja mulai dengan mengutjapkan sjukur alhamdulillah terhadap Tuhan, bahwa Ia memelihara kebangunan kita sampai kehari ini.”

Selama puluhan tahun, orang-orang mengakrabi istilah “kebangunan”. Istilah itu tak awet. Pergantian rezim memicu perubahan istilah. Barangkali perubahan mengartikan ada gelagat penghilangan nuansa Orde Lama dalam peringatan hari bersejarah, 20 Mei 1908. Pada masa Orde Baru, para pejabat dan publik memilih istilah “kebangkitan” ketimbang “kebangunan”. Pemihakan istilah “kebangkitan” semakin menguat dalam pidato Soeharto saat peresmian Gedung Kebangkitan Nasional dan Gedung Sumpah Pemuda, 20 Mei 1974. Soeharto berkata: “Hari ini, 20 Mei, adalah Hari Kebangkitan Nasional. Dan pada hari yang bersejarah itu kita semua sangat bergembira ….” Kebangkitan menggantikan kebangunan. Soeharto memang tak mengucap “kebangunan”, tapi rajin mengucap “membangun” dan “pembangunan”. Sejarah masih bergerak dengan perubahan bahasa. Sekarang kita masih mengikuti pilihan istilah warisan Orde Baru ketimbang mengingat pemaknaan politis mengacu ke istilah “kebangunan”. Begitu.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s