Neoliberalisme

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Mei 2015

Neoliberalisme adalah kata kotor. Sumpah serapah. Sebagaimana makian pada umumnya, maknanya sangat subjektif. Yang dimaksudkan pemaki sering kali tak sesuai dengan makna kata. Pokoknya segala yang buruk. Neoliberalisme, terutama dalam bentuk singkatan neolib, adalah tuyul modern, stenograf yang enak dilabelkan kepada si kaya yang dibenci. Serakah, penghancur hutan, perusak lingkungan hidup, penaik harga, konglomerat pelit, tetangga makmur, dan seterusnya.

Di pihak sebaliknya, jarang orang mengaku diri neoliberalis. Yang dituduh neoliberalis biasanya menyebut diri progresif, penjunjung kemerdekaan pasar, pencipta kekayaan (pejuang sistem yang memberi kesempatan paling besar kepada sebanyak-banyak orang menjadi kaya), rajin, dan berdikari (pengutuk mereka ingin hidup enak dengan belas-kasihan negara).

Neo- di sini berarti ‘baru’, berhubungan dengan Latin novus, Inggris new. Kata ini banyak kita pakai dalam berbagai bentukan. Nova berdiri sendiri atau digabungkan dengan stella berarti (dulu dikira) ‘bintang baru’, sekarang kita tahu sebetulnya ‘bintang baru meledak’; menjadi nama tabloid mungkin supaya meledak juga di pasar. Novel sekarang berarti cerita, tapi asal mulanya berarti ‘cerita baru’ (dulu biasa kita sebut “roman”); berdasarkan panjang cerita atau jumlah kata dikenal juga novela dan novelet. Bossa nova adalah “aliran baru” musik Brasil yang sekarang tentu tak baru lagi meski belum kedaluwarsa seperti Orde Baru. Kalau sedang kepepet, bolehlah anda mengajukan novasi atau pembaruan surat utang. Novita mungkin dinamai oleh orangtua yang kaget-kaget senang mendapatkan kehidupan baru dalam keluarga.

Adapun makna liberalisme sulit dipahami hanya dari semantika. Libera (Latin) berarti ‘bebas’, ‘merdeka’. Kata Inggris liberty berarti ‘kemerdekaan (untuk melakukan sesuatu)’. Liberal berarti merdekais atau pemerdeka atau merdekawan/wati. Apa, sih, buruknya? Liberia adalah negeri Afrika yang dengan bangga didirikan pada awal abad ke-19 oleh bekas budak Amerika yang menghargai kemerdekaan dari perbudakan. Rakyat Prancis menghadiahkan Patung Liberty kepada rakyat Amerika sebagai simbol dukungan kepada kemerdekaannya dari Inggris dan kemenangan pihak antiperbudakan dalam perang saudara. Salah satu moto perang kemerdekaan Amerika adalah Give me liberty, or give me death!, versi Indonesianya: Merdeka atau mati!

Akan tetapi, sekarang liberal di telinga banyak orang sama joroknya dengan neoliberal.

Bedanya, neoliberal lebih sering dipakai dalam konteks ekonomi, sedangkan liberal dipakai dalam berbagai bidang lain, termasuk-kalau bukan terutama-agama. Hanyalah orang atau kelompok gagah berani yang menyebut diri sendiri liberal di negeri ini. Bagi penyukanya, liberal kata bergengsi. Seni atau ilmu liberal layak untuk manusia merdeka berbudaya tinggi. Pemberian liberal berlimpah-ruah, tak pelit. Pemikiran liberal tanpa prasangka, terbuka, tak picik, tak mentang-mentang, berpandangan luas dan maju, proreformasi dan prodemokrasi, tetapi nasibnya kemudian mirip-mirip perjalanan preman, yang bergeser dari vrijman, orang merdeka, menjadi sepupu begal dan tukang palak setengah resmi.

Dipakai di awal abad XX sebagai alternatif kapitalisme yang kasih peran lebih besar kepada negara menentukan kebijakan ekonomi demi kepentingan umum, sekarang neoliberalisme justru dimaknai kapitalisme keji penyengsara orang miskin dan kelas menengah. Belum lama ini seorang politikus Indonesia mengklaim neoliberalisme menyebabkan “kemiskinan makin meluas, kesenjangan pendapatan meningkat, pengangguran bertambah, tanah dikuasai asing, sumber daya alam dikuras, lingkungan dirusak, solidaritas sosial kacau, nasionalisme kendor, moralitas rusak, dan hukum tak berpihak pada keadilan”. Dengan efek begitu mengerikan, sungguh tak terbayangkan ada manusia waras beradab berhati nurani yang sengaja mendukung neoliberalisme. Toh, dalam skala global, yang dikecam menerapkan sistem neoliberalis justru negeri yang rakyatnya makmur. Di situ udara bersih, sungai jernih, keadilan tegak, pendidikan tinggi dan merata, banyak orang tua umur panjang, kota-kotanya bersih rapi banyak bertaman, rakyatnya suka membantu negeri lain, dan orang miskinnya gemuk. Pendapat tentang neoliberalisme, seperti halnya tentang tuyul, agaknya bergantung pada siapa punya duit. Penulis berseru: Ora Libera Ora Baghus.

* Penggumul Makna dan Asal-usul Kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s