Tanda

Novi Yulia*, Media Indonesia, 31 Mei 2015

Sebagai penumpang angkutan umum, saya paling sebal bila di dekat saya ada yang merokok. Padahal, sudah lazim di mana-mana di bus, di angkot, atau di keret api ada tanda dilarang merokok. Bau rokok bagi kalangan perempuan sungguh menyesakkan dada. Apalagi mengingat bahaya rokok bagi kesehatan yang bisa mendatangkan penyakit kanker. Namun, para ahli isap itu masih tetap saja merokok meski berbagai bahasa tanda telah ditunjukkan kepada dia, mulai batuk-batuk, mengibas-ngibas tangan mengusir asap rokok, sampai memandang tajam pada si perokok.

Anehnya bahasa tanda itu tak diindahkan para ahli isap yang awam ilmu falak itu. Sebagian akan memandang balik sambil senyum bila kita terus memandang rokok di tangan mereka. Lainnya akan segera mematikan rokok dengan wajah kesal. Pernah saya temukan ketika disampaikan jangan merokok di dalam angkot oleh seorang ibu, si perokok segera mematikan rokoknya dan membuang puntung beserta bungkusannya yang masih berisi dengan mendengus. Marah. Ada banyak tanda di sekeliling kita. Namun, sayang banyak juga orang abai terhadap hal itu karena tak tahu atau tak mau tahu. Tanda ialah bahasa simbolis penentu mentalitas peradaban kita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tanda adalah ‘hal yang menjadi alamat atau menyatakan sesuatu’. Tanda bisa berarti ‘gejala’, Mualmual di pagi hari bagi pengantin baru adalah tanda kehamilan, atau ‘lambang’, Timnas sepak bola U-19 memakai tanda Garuda Pancasila di dada kiri.

Jadi, tanda merupakan perlambang atas sesuatu yang memiliki arti atau makna. Tanda hadir dalam beragam bentuk.

Pandangan tajam, batuk dibuat-buat, kibasan tangan, dengusan, atau deheman ialah tanda yang bersifat personal dan hadir sebagai sebuah bahasa langsung untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa kata-kata. Namun, pesannya sangat jelas. Ketika si perokok menunjukkan kemarahannya dengan membuang seluruh rokoknya karena tak terima diberi tanda personal, ia bisa disebut tak dapat berbahasa. Bahasa sebagai sistem tanda selalu mengungkapkan ide (Saussure, 1966). Ide yang terkandung dalam pandangan tajam, batuk yang dibuat-buat, kibasan tangan, dengusan, atau deheman tersebut mengungkapkan ada hak yang dilanggar seorang perokok di atas angkutan umum. Kewajiban si perokok tak membiarkan asap rokoknya melebar ke mana-mana karena akan menciptakan perokok-perokok pasif yang justru lebih membahayakan penumpang lain, terutama anak-anak dan perempuan.

Gagalnya si ahli isap membaca tanda sekaligus bahasa tanda tersebut menjadi salah satu penanda gagalnya teks modernitas dipahami masyarakat kita. Modernitas, menurut Giddens (1991) dalam salah satu teorinya, menekankan aspek kesadaran pengetahuan (scientific consciousness) dengan bahasa tanda yang personal tadi memproduksi serangkaian aturan guna menjaga peradaban kita (Gutomo Priyatmono, 2009). Ketika si perokok enteng saja membaca tanda yang dibahasakan tangan, mata, dan bebunyian dari si ibu dalam angkot, bisa disebut modernitas yang kita hidupi kini telah tercederai (flawed modernity) oleh ketidakmampuan si ahli isap membaca tanda sebagai bahasa yang mengungkapkan ide menghargai privasi orang lain di ruang publik.

* Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s