Berdikari dalam Bahasa

Ahmad Khotim Muzakka*, KOMPAS, 10 Jun 2015

Pada 16 Juni 1927, sidang Volksraad gaduh. Bahasa Indonesia digunakan dalam sidang Dewan Rakyat. Pada zaman Hindia-Belanda berkuasa, menggunakan bahasa Indonesia dalam acara resmi menjadi sebuah paradoks; antara kebanggaan dan nasionalisme berhadapan dengan sikap inlander dari inferioritas sebagai bumiputra.

Ialah Jahja Datoek Kajo, anggota Volksraad kelahiran Kota Gadang, 1 Agustus 1874. Ia menentang tradisi tidak mengunggulkan bahasa Indonesia. Azizah Etek, dalam buku Kelah Sang Demang, Jahja Datoek Kajo (2008), mencatat ketaklaziman anggota Volksraad dari kalangan bumiputra menyampaikan pidato dengan bahasa Melayu.

Sebelum itu, Haji Agus Salim pernah berbahasa Indonesia. Kengototan Jahja menggunakan bahasa Indonesia terilhami oleh Agus Salim. Tapi, Jahja selangkah lebih maju. Dalam sebuah sesi, 22 Juni 1927, Jahja menyentil anggota lain, “Saya berharap kepada tuan-tuan yang hadir dalam Diwan Rakyat ini mau menyela pembicaraan saya. Dengan hormat saya minta supaya dilakukan bahasa Melayu,” (Azizah Etek, 2008).

Jahja berniat menaikkan harga diri bahasa dan orang Indonesia. Ia tak rela, di tanah sendiri, harus berbahasa dengan bahasa orang lain. Azizah Etek (2008: 30) mengingatkan, sebagai seorang tamatan sekolah desa, sekolah kelas dua, Jahja tentu mampu berbahasa Belanda.

Pilihan menggunakan bahasa Indonesia merupakan bentuk nasionalisme. Ini contoh bagus membangun martabat, identitas, dan mengusulkan perubahan.

Jahja geram tatkala seorang wakil pemerintahan Belanda menjawab dengan bahasa Belanda disertai embel-embel bahwa kalau kurang jelas hendak bisa bertanya kepada Mochtar, salah seorang anggota. Dua alasan kegeramannya, pertama; Jahja dianggap kurang paham bahasa Belanda, dan kedua; orang Belanda enggan berbahasa Indonesia. Menyikapi itu, Jahja berkelakar, “Tuan tentu memaklumi, bahwa sekalian bangsa dalam dunia ini lebih suka berbahasa di dalam bahasanya sendiri. Sebabnya perasaan Indonesier tinggal di orang Indonesier, perasaan Belanda di Belanda.”

Bahasa internasional

Buku Pesona Bahasa (2005) mencatat, mengutip penelitian The Summer Institute of Linguistic, terdapat 726 bahasa daerah di seluruh Indonesia. Bahasa-bahasa itu memiliki penuturnya masing-masing.

Nah, bahasa Indonesia mempertemukan bangsa-bangsa yang sudah memiliki bahasa tuturnya sendiri. Bahasa Indonesia menjadi penyambung banyak lidah.

Nasib bahasa Indonesia diperteguh kehadiran Sumpah Pemuda yang ditulis dan dibacajelaskan oleh Muhammad Yamin pada kongres 28 Oktober 1928. Sumpah pemuda menegaskan identitas bangsa dengan bahasa resmi; bahasa Indonesia. “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Teks ini gagah di tengah banyaknya bahasa di Indonesia. Teks itu mempersatukan pluralitas bahasa di Indonesia. Ia memicu kesadaran akan hakikat bangsa yang dihuni oleh banyak suku. Teks ini memikat sekaligus memberikan harapan agar bangsa Indonesia bersedia mempersatukan kehendak.

Bahasa Indonesia diproyeksikan menjadi bahasa internasional. Optimisme itu diungkapkan Ketua Komisi Harian Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rahman, pada 15 November 2011. Menurut dia, bahasa Indonesia tidak asing di telinga komunitas internasional, khususnya di negara-negara tetangga. Peluang itu dinilai lebih besar dibandingkan berbagai bahasa di Eropa (Kompas, 16/11).

“PBB baru menolak bahasa Jerman menjadi bahasa internasional karena hanya dipakai di Jerman,” ujarnya. Arief Rahman mengimbau Badan Bahasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) lebih aktif mengampanyekan gerakan cinta bahasa Indonesia.

Langkah strategis sudah dirumuskan Kepala Badan Bahasa Kemdikbud untuk memperluas jangkauan bahasa Indonesia. Di setiap negara, akan ditambah pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia. Sampai kini, ada 150 pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di 48 negara.

Yang harus kita waspadai sekarang ini adalah ketidakpercayaan diri bangsa Indonesia sendiri memanggul identitasnya sebagai bangsa.

Meskipun sudah merdeka puluhan tahun, kita masih terus didikte oleh bangsa lain. Kenyataan itu bisa dilihat dari betapa menjamurnya kursus-kursus bahasa asing di mana-mana. Kita selayaknya menghadapi zaman global ini dengan mampu menguasai berbagai bahasa, terutama bahasa internasional antara lain bahasa Inggris dan Arab.

Tapi, lebih dulu, kita mesti bertanya, seberapa dalam kita telah menggunakan bahasa nasional kita sendiri, di sisi kelincahan kita berbahasa asing?

Hingga hal terkecil, misalnya, bagaimana kita menulis pesan singkat, atau menulis status di jejaring sosial.

Banyak orang yang tidak sadar kalau telah merusak bahasa Indonesia dengan cara menyingkat atau mengganti dengan huruf-huruf alay. Untuk hal yang demikian ini, barangkali kita harus malu dengan Jahja yang begitu gigih memperjuangkan kelayakan bahasa Indonesia di sidang Volksraad. Atau deklarasi Sumpah Pemuda yang salah satu poinnya menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Nasib bahasa Indonesia mestinya menjadi tanggung jawab kita semua. Apalagi ketika badan pemerintah terlihat begitu lemah, bahkan invalid dalam menjalankan tugas ini.

* Peneliti Idea Studies IAIN Walisongo, Semarang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s