Percaya Tidak Percaya

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Jun 2015

Ilustrasi: Museum Ripley’s Belive It or Not! Sumber: North Ocean Hotel

Percaya tidak percaya. Istilah ini menjatuhkan kredibilitas bahasa.

Terdapat tiga kata yang semestinya terhadapkan sebagai dua pengertian berlawanan: “percaya” dan “tidak percaya”. Jika memang demikian halnya, penemuan manusia yang disebut bahasa ini sungguh-sungguh membantu. Pengertian “percaya” dan “tidak percaya” yang sebelum ditemukan hanyalah gelap, bisu, dan kosong kini terhadirkan dengan jelas dan tegas, bahwa sementara yang satu “percaya” maka yang berlawanan adalah “tidak percaya”.

Namun, ketika tiga kata tersebut disusun sebagai “percaya tidak percaya”, dua pengertian tadi hilang kejelasan ataupun ketegasannya, karena memang menjadi satu istilah, tapi dengan dua pengertian berlawanan. Dalam istilah masa peralihan dari pra-Orde Baru ke Orde Baru disebut “plin-plan”: keberpihakannya tidak dapat dipastikan, alias oportunistik. Ya, sebetulnya “percaya” atau “tidak percaya”?

Istilah “percaya tidak percaya” sering muncul untuk memagari gejala yang dianggap tidak mungkin diterima penalaran manusia tapi diterima sebagai sungguh-sungguh terjadi.

Percaya tidak percaya, ketika pada suatu malam saya lewat di depan rumah kosong itu, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, penghuni rumah yang dulu gantung diri itu sedang duduk di teras dan melambai saya,” ujar seseorang.

Andaikanlah pencerita ini jujur, dan andaikan pula ternyata ada orang lain mengalami peristiwa yang sama, “penemuan” ini belum cukup menjadi bukti untuk mendapat ijazah D-1 sekalipun, karena jutaan orang lain yang melewati rumah yang sama pada malam gelap-gulita tidak mengalami peristiwa yang sama. Keberadaan “hantu” itu baru sahih untuk mendapat makna “percaya” jika semua orang juga bisa melihatnya, dan setelah ditengok berkali-kali hasilnya tetap sama. Jika tidak, jatahnya adalah makna “tidak percaya”.

Namun pernyataan “saya lihat dengan mata kepala sendiri” oleh manusia jujur ini memiliki eksistensi sosial. Kepastian atas pemilahan antara “percaya” dan “tidak percaya” gugur dan terdominasi kalimat “plin-plan” berbunyi “percaya tidak percaya”, yang bahkan, “percaya tidak percaya”, sering saya dengar kaum yang disebut intelektual pun mengucapkannya.

Dalam wacana filsafat ilmu pengetahuan, gejala tersebut didudukkan ke dalam pengertian: tidak bisa dibuktikan ada, tapi juga tidak bisa dibuktikan sebagai tidak ada. Mungkin penalaran semacam itu membuat lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, menghentikan proyek penelitian UFO alias BETA (Benda Terbang Takdikenal), tentu saja karena dianggap tidak berguna. Namun sebagai makna, yang merupakan situs pergulatan antarwacana, istilah “percaya tidak percaya” jika dibongkar menunjukkan proses konstruksi, yang sebagai gejala kebudayaan menarik untuk diperiksa.

Pertama, bahwa bahasa yang semula berfungsi menjelaskan, dan menemukan kepastian dalam pemilahan “percaya” dan “tidak percaya”, tepatnya berbeban moral kejelasan, pada “percaya tidak percaya” justru terbukti menjadi tabir yang menutupi ketidakjelasan. Dengan hadirnya istilah ini dalam kehidupan sehari-hari, bahasa seperti memberi peluang bagi sikap oportunistik dan tidak bertanggung jawab, untuk berlindung di baliknya.

Kedua, dalam istilah “percaya tidak percaya”, meskipun terdiri atas kejelasan pemilahan antara “percaya” dan “tidak percaya”, bukanlah merupakan tarik-menarik ataupun pergulatan antarwacana yang setara, antara wacana kejelasan dan wacana ketidakjelasan, melainkan sepenuhnya dalam kooptasi wacana ketidakjelasan. Sebab, jika wacana kejelasan terdapat di dalamnya, tiada sedikit pun akan terdapat toleransi terhadap ketidakjelasan di dalamnya.

Ketiga, bahasa dalam kehidupan sehari-hari memang tidak bisa dan tidak perlu dipertanggungjawabkan sebagai bahasa ilmiah, karena kelasnya memang berbeda. Namun, dengan kenyataan bahwa bahasa dalam kehidupan sehari-hari, dengan segala keberagaman kandungan makna di dalamnya (baca: ketidakjelasan makna), ternyata lebih dominan dari bahasa ilmiah, juga di antara para ilmuwan, maka peran strategis bahasa dalam determinasi sosial-politik adalah mutlak.

Keempat, bahasa diucapkan dan dituliskan manusia sebagai subyek sosial yang membawa pula aspek representasi golongan sosial dan politiknya. Maka pergulatan antarwacana sesungguhnyalah merupakan perjuangan untuk membebankan pesan dalam pembermaknaannya masing-masing. Dalam ajang “percaya tidak percaya”, sudah jelas betapa golongan pembongkar mitos dan pembela metode ilmiah sungguh tertindas oleh golongan yang tidak mampu memilih apalagi mempertanggungjawabkan pilihan-pilihannya. Lebih suka berasyik-masyuk dalam ninabobo ketidaktahuan, menghindari dan mengingkari perubahan yang hanya akan menggelisahkan.

* Wartawan Panajournal.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s