Selamat Pagi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Jun 2015

Anka berlenggang-lenggok di depan TV. “Selamat pagi,” katanya sambil senyum manis. Delikan ibunya diabaikannya. “Tegur anak itu! Masa lewat tengah malam belum juga tidur.” Mata bapaknya melotot. “Sini kau. Masih gelap. Siapa bilang sekarang pagi?” “Itu, tivi,” jawab Anka. Ibunya tersenyum. Sekali-sekali biar tahu rasa repot beradu mulut dengan anak, pikirnya. Bapak pun menerangkan, “Pagi yang dikenal nenek moyang kita dirumuskan KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai waktu setelah matahari terbit hingga jelang siang hari. Matahari belum terbit.” Anka cemberut. “Baru saja penyiar itu bilang sudah pagi. Siapa yang tolol?” “Tidak ada yang tolol. Bukan itu perkaranya. Sini baring di pangkuan. Dengarkan Bapak berkisah.” Ibu berpaling, lalu menguap.

“Menurut kamus, pagi juga berarti bagian awal hari. Nah, yang membingungkan adalah hari bisa berarti rentang waktu 24 jam atau siang malam, bisa juga rentang waktu antara terbit dan terbenam matahari, hanya siang tanpa malam. Jadi, menentukan awal hari tidak sederhana. Bila hari berarti siang hari saja, tentulah pagi berarti rentang waktu sekitar 05.00-10.00. Jika hari dianggap 24 jam, penentuan pagi lebih rumit lagi. Pada zaman dahulu, orang menghitung hari-baru saat matahari terbit. Jadi, pagi dimulai waktu fajar. Ada juga masyarakat, misalnya di Timur Tengah, yang memulai hari-baru ketika matahari terbenam. Untuk mereka, definisi ini tentu saja tidak berlaku sebab awal hari mereka adalah malam. Di zaman modern ini, secara internasional kita menentukan bahwa hari-baru bermula pada tengah malam, yakni titik tengah antara terbenam dan terbit matahari. Karena itulah penyiar TV tadi mengucapkan selamat pagi di waktu malam pekat. Tapi, itu bukan pagi waktu anak kecil berkeliaran.” “Mengapa?” “Karena itu waktu tidur.” Anka melompat. Hidung kembang-kempis. Bibir mancung. Tangan berkacak pinggang. “Among jangan pura-pura bingung. Mengapa hari-baru bermula tengah malam?”

“Gara-gara teknologi dan industri, Butet. Di zaman pertanian, selama ribuan tahun orang tidak menghitung dan mengukur waktu dengan ketat, melainkan memujanya dan menyelaraskan diri dengannya. Di India Hari berarti warna kuning matahari dan adalah nama Dewa, disamakan dengan Krisna dan Wisnu. Di Mesir Kuno, Heru adalah Dewa Langit berkepala elang. Mata Heru yang kanan adalah matahari, yang kiri adalah bulan, simbol perlindungan dan penyembuhan, juga simbol kekuasaan raja. Heru sering digambarkan sebagai anak karena setiap pagi dia lahir baru. Dalam bahasa Latin ada hora dan hornus dan dalam Yunani ada hora dan horos yang semuanya punya arti berkait dengan waktu, musim, tahun. Para Dewa itu masih berdampak sekarang. Dalam bahasa Inggris, kita kenal hour dan juga year. Bahasa Italia yang pernah Bapak pelajari mengenal ora.Ompung-mu dulu di sekolah pernah diajari kata Belanda uur. Pembagian hari cukuplah dengan pagi siang sore malam. Acara dimulai waktu orang sudah berkumpul, bukan ketika tampilan jam sampai ke angka tertentu.

“Di dunia industri dan zaman informasi, bukan hanya perlu pembagian jam dan menit, bahkan sampai peratus detik, melainkan, lebih penting lagi, harus ada standardisasi universal. Mula hari pun harus distandarkan, dan ternyata saat terbit dan terbenam matahari bukanlah titik yang bisa diandalkan, karena dari hari ke hari bergeser banyak, di bagian dunia tertentu bisa sampai tujuh menit. Beda akumulasi dari pagi musim panas ke pagi musim dingin bisa berjam-jam. Uda-mu yang berpuasa sangat memahami hal ini karena setiap hari harus mengamati detik-detik Imsak dan Magrib yang tidak pernah sama datangnya. Nah, yang hanya bergeser sedikit, paling-paling 30 detik, dari hari ke hari sepanjang tahun adalah titik tengah hari dan titik tengah malam. Setelah panjang satu hari dirata-ratakan menjadi 24 jam persis tidak berubah-ubah, tengah malam pun menjadi pilihan paling logis sebagai awal hari-baru global, karena tentu orang waras tidak mau mengganti hari pada tengah hari. Demikianlah sekarang tengah malam adalah jam 00.00 atau 24.00, awal hari-baru sekaligus akhir hari-lama.

“Tapi ‘selamat pagi’ bukanlah rumusan ilmiah teknologis, melainkan ungkapan sosial. Pagi di sini adalah permulaan kegiatan umum ketika lingkungan bangun, bukan permulaan perhitungan resmi. Itulah pula sebab tengah malam tetap disebut tengah malam, bukan akhir malam.”

“Kalau begitu yang tolol adalah pen…” “Husy. Jangan sembarangan.” Anka senyum manis. “Among pandai cerita.” “Tentu saja.” “Manjur berkhasiat. Lihat Inong. Dari awal cerita sudah langsung tidur.” “Masuk kamar, sana.” “Selamat malam.” “Mimpi indah,” jawab Bapak, lalu menambahkan, “Kalian berdua.”

Tiada malam kalahkan pagi, kata penulis.

* Penggelut Semantik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s