Proses

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Jul 2015

Dokumentasi dan klasifikasi adalah dua kata serapan yang berkerabat, sekalipun rada jauh. Mari kita sama berangkat dari pengertian yang dirumus kamus.

dokumentasi /dokuméntasi/ n 1 pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dl bidang pengetahuan; 2 pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (spt gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain)

klasifikasi n penyusunan bersistem dl kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yg ditetapkan

Lihatlah, di dalam keduanya kita temukan proses, sebuah kerja yang sedang berlangsung. Perbuatan mendokumentasi itu berawal dari mengumpulkan, berakhir dengan menyimpan. Persis di tengah aktivitas itu, ada tahap kerja lain, mengklasifikasi, yaitu menata, menyusun, memilah, menggolong-golongkan berdasarkan kategori tertentu.

Lihat jugalah, unsur-unsur pengumpulan, pemilihan, pengolahan, penyimpanan dalam dokumentasi, serta penyusunan dalam klasifikasi sangat kuat menegaskan kehadiran proses di sana. Maka, saya berpikir keberadaan kata turunan keduanya, pendokumentasian dan pengklasifikasian, patut kita persoalkan. Kita dapat menyebutnya tautologis alias lewah alias tidak perlu ada—bukan karena kelas kata, tapi karena kandungan makna kata turunan itu dan kata dasarnya sama belaka. Eko Y.A. Fangohoy, teman sesama editor dulu di penerbit Pustaka Utama Grafiti di akhir tahun 1990-an, mengingatkan saya, ada satu contoh lain: pendistribusian.

Izinkan sekarang saya kutipkan contoh dari data berupa korpus ragam bahasa jurnalistik beberapa media daring (cetak miring dari saya):

Pengklasifikasian itu harus dirumuskan dulu, lalu disimulasikan berapa penghematan subsidinya dengan berbagai skenario. (“Subsidi BBM akan Dibatasi“, KOMPAS, 13 Mar 2010)

Pengklasifikasian upah minimum kab./kota (UMK) bagi usaha skala kecil perlu diusahakan oleh pemerintah. (“Perlu Ada UMK Berdasarkan Jenis Skala Usaha“, Pikiran Rakyat, 22 Nov 2012)

Coba kita gantilah pengklasifikasian dalam contoh di atas dengan klasifikasi, seperti kita mengganti pendokumentasian dalam contoh di bawah dengan dokumentasi:

Setiap hari, mereka melakukan kegiatan eksplorasi mulai dari pembersihan lahan, pemetaan, penggalian, penggambaran, dan pendokumentasian bentuk candi. (“Candi Kethek di Gunung Lawu Mulai Digali“, Tempo Interaktif, 11 Sep 2005)

Di sisi lain, pendistribusian dalam contoh di bawah pun sama sekali tak berpengaruh apa-apa manakala kita ganti dengan distribusi.

Sementara [p]endistribusian soal UN di Kota Tasikmalaya tetap dijaga ketat oleh kepolisian dan Dinas Pendidikan (“Polisi Jaga Ketat Pendistribusian Soal“, Pikiran Rakyat, 3 Mei 2015)

Hingga kini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Medan masih menunggu pengesahan rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang pendistribusian gas elpiji 3 Kilogram. (“Perda Pendistribusian Elpiji 3 Kg Segera Berlaku“, Waspada, 21 Apr 2015)

Mengapa kata-kata bentukan itu bisa muncul, padahal konsep atau pengertian yang dimaksud sudah cukup terwakili oleh bentuk dasarnya? Menurut seorang teman yang lain, Yanwardi Natadipura, itulah yang terjadi pada kata serapan.

Pada tataran semantik selalu ada risiko nuansa atau komponen makna tertentu dalam makna kata asal tak ikut terserap. Atau jadi rada bengkok. Dan pada tataran morfologi, dunia penutur bahasa Indonesia pun meresap ke dalamnya.

Bahasa kita menyerap sex, tapi kemudian meluaskannya dengan ngeseks. Atau object yang bisa saja punya turunan ngobyek (bukan ngobjek).

* Munsyi, Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s